Senin, 13 November 2017

Make Up

Beberapa waktu terakhir, di almamater saya sedang ada hajat besar. Jrengjrengjrenggg... Yaaaa Wisudaaa. Nah, kita-kita kaum buibu ini apa hayooo biasanya yang paling menyita pikiran menjelang wisuda? wkwkwkwkw True!!! nyari make up yang flawless, nyari kebaya, nyari wedges, nyari kipas yang nggak bikin tangan gempor(?) biar nggak kepanasan waktu di gedung terus make up-nya luntur beleleran, nyari model jilbab yang cucok meong, nyari studio foto yang bisa bikin kecantikanmu bertambah berlapis-lapis seperti wafer tango. Ya ampyunnn. Ya walaupun dulu saya nggak mikirin itu sih menjelang wisuda haha. Saya lebih mikirin "Waduwwwhhh ntar kalau ditanya orang 'sedang sibuk apa?' jawabnya gimana ya. Sekolah udah kagak, kerjaan belum ada." Yaaa gitu gitu lah yang banyak menyita diri saya kala itu. Mungkin... karena saya tidak termasuk dalam kategori buibu. Pedih.

Kali ini saya mau membahas mengenai make up. Bukan bukan... bukan tutorial make up. Karena agaknya kalau saya memberi tutorial make up, itu akan menjadi ilmu yang sesat. Saya pakai bedak aja nggak rata. Hiks.
Saya itungan perempuan yang amat cuek dengan yang namanya pakai make up, istilah lainnya, saya merasa sangat tidak percaya diri ketika memakai make up. Saya merasa wajah saya akan menjelma seperti banci thailand yang cantik itu lhohhh *jangan lempar saya panci pliss*. Tapi walau begitu, saya yang wanita ini tetaplah seorang wanita(?) Yang sudah menjadi fitrahnya mencintai keindahan. Maka, untuk mengimbangi kebiasaan saya yang tidak ber-make-up, saya merawat wajah dengan cara yang lain agar wajah tetap bersih. Bersih ya bersih... karena cantik itu relatif. Allah menyuruhnya kan kita menjaga kebersihan, bukan menyuruh untuk mencantikkan. Dengan cara apa? Dengan selalu menghiasi muka menggunakan air wudhu #eakkkkk edisi sholihah.


Iya begini... walaupun saya memang tidak pernah menggunakan make up saat keluar rumah, tapi  saya merasa bahwa pengetahuan mengenai make up penting juga lhoh bagi perempuan. Sapa tau mau dandan depan suami ye kan *lari-lari muterin pohon*. Nggak ada yang salah sih sama yang namanya ber-make-up, jangan bilang saya anti sama yang ber-make-up :") engga kok. Hanya saja, kita harus tau batasan mengenai etika berhias seorang muslimah. Dan lagi... agaknya kita para muslimah haruslah selektif dalam memilih make up yang ada di zaman now ini. Mengapa harus selektif?


Saat ini sangat mudah dan banyak sekali berbagai jenis make up dengan fungsi dan warna yang beragam. Ada kegemaran tersendiri memang bagi para wanita untuk menggunakan jenis-jenis make up tersebut. Tapiiii... yang menjadi masalah terkadang kita lupa apakah make up yang kita gunakan dapat menyerap wudhu atau tidak(?)
Padahal kita harus berwudhu minimal lima kali dalam sehari, untuk sholat fardhu. Dan wuduh merupakan syarat sah sholat.


Dari Abdullah bin 'Amr, Rasulullah SAW bersabda: "Kami pernah kembali bersama Rasulullah SAW dari Makkah menuju Madinah hingga sampai di air di tengah jalan, sebagian orang tergesa-gesa untuk sholat ashar, lalu mereka berwudhu dalam keadaan terburu-buru. Kami pun sampai pada mereka dan melihat air tidak menyentuh tumit mereka. Rasulullah SAW lantas bersabda, "Celakalah tumit-tumit dari api neraka. Sempurnakanlah wudhu kalian."" (HR. Muslim no. 241). Dari sabda tersebut kita bisa jadikan landasan bahwa menyempurnakan dan meratakan air pada anggota tubuh ketika wudhu adalah keharusan.

Ada juga hadits dari Jabir, "Umar bin Khottob mengabarkan bahwa ada seseorang yang berwudhu lantas bagian kuku kakinya tidak terbasuh, kemudian Nabi Muhammad SAW melihatnya dan berkata, "Ulangilah, perbaguslah wudhumu." Lantas ia pun mengulangi dan kembali sholat." (HR. Muslim no. 243).


Kedua hadist tersebut menjelaskan tentang pentingnya meratakan wudhu pada seluruh anggota tubuh yang wajib dibasuh. Begitu juga dengan menyatakan ancaman bagi mereka yang tidak menyempurnakan wudhunya. Karena wudhu merupakan perkara wajib dalam sholat, baik fardhu maupun sunnah yang secara otomatis menjadi syarat sah sholat.


Saya pun baru mengetahui ini saat belajar fiqih wanita, bahwa: Pada asalnya hukum sesuatu di luar ibadah, diantaranya yaitu berhias hukum asalnya adalah mubah (boleh) termasuk make up bagi wanita. Namun, akan menjadi terlarang jika mengantarkan kepada makruh maupun keharaman. Seperti berhias dan sengaja ingin terlihat cantik karena make up atau justru make up membuat sholatnya tidak sah karena air wudhu yang tidak merata.


Standar sesuatu dikatakan tidak menyerap ke dalam kulit adalah ketika ada dzat yang menghalangi atau ada bentuknya. Misal, jika terkena cat maka terlihat ada dzat yang menghalangi air, sedangkan jika dalam bentuk inai misalnya maka dzatnya menyerap ke dalam kulit. Bingung? Iya sama. Gini gini... sederhananya, sesuatu yang dzat tersebut apabila terkena air, maka seperti meneteskan air di daun talas, sama sekali tidak menyerap.


Lalu, apa standar make up yang dikatakan menghalangi air wudhu?
Wkwkwkwkw... jadi beberapa waktu terakhir saya kembali belajar ke teman saya yang ahli make up -tapi takdirnya belum sampai setaraf make up artist sih- mengenai 'alat tempur' wanita untuk ber-make-up minimalis. Minimalis ya... jadi daftar yang akan saya sebutkan di bawah ini hanyalah jenis make up yang sering digunakan oleh perempuan pada umumnya kita lihat tiap hari, istilah gaholnya, daily make up gitu deh. Yang make up udah taraf kawinan atau apa gitu mungkin akan lebih banyak lagi jenisnya.
Iya, saya meminta daftar apa-apa saja jenis make up yang dibutuhkan untuk daily make up. Sesuatu yang sering kita gunakan tiap hari tapi kadang kita nggak nyadar mengenai hukumnya, especially hukum terhadap wudhu kita. Teman saya tersebut menyebutkan, ada beberapa alat standar make up yaitu, foundation dan BB cream; press powder; loose powder; cushion; mascara; eyebrow pencil; eyeliner; lipstick; lipcream.


Well, setelah mendapatkan daftar itu, saya mulai mencari-cari mengenai bahan dasar dari masing-masing. Di bawah ini bakal saya bedah sesuai kelompoknya ya, dan kondisinya ketika digunakan pada wajah.


1. Foundation dan BB cream
Biasanya, untuk BB cream sendiri masih cukup menyerap kulit. Tapi untuk foundation ada beberapa jenis yang memang jika dipakai dalam kadar yang banyak mampu tahan lama dari keringat maupun air (biasanya untuk acara tertentu atau nikahan).
Dari hasil tanya jawab ke temen saya, dia sempat bilang, "Kalo buat daily make up, nggak usah pakai fondy. Kasian kulitnya nggak bisa nafas.", begitu katanya. Dan benar, setelah saya cari tahu, eeternyata memang beberapa foundation seperti yang saya bilang di atas itu kondisinya. Sederhananya, udara aja susah masuk, apalagi air.


2. Press powder, Loose powder dan Cushion
Untuk bedak padat dan tabur jika dipakai sewajarnya insyaAllah tidak menghalangi wudhu menurut kajian fiqih wanita oleh Ustad Abu Umair Hafidzhullah. Tapi untuk cushion sendiri teksturnya sudah merangkum kandungan foundation dan powder, nah padahal beberapa kondisi foundation seperti yang disebut di point 1 tadi, sehingga sangat mungkin untuk tidak bisa menyerap air.


3. Mascara, Eyebrow pencil, dan Eyeliner
Nah ini agak lebih mudah nih diketahuinya menyerap air atau engga. Kalau yang promosinya tentang waterproof maka secara otomatis air nggak bisa terserap dan wudhu tidak bisa sempurna. Dan baik eyebrow maupun eyeliner yang teksturnya cair atau semi cair biasanya lebih rentan tidak terserap air, terutama mascara itu juga sih. Jadi kalaupun menggunakan, lebih aman menghindari yang tekstur cair, semi cair, maupun gel.


4. Lipstick (matte dan glossy) dan Lipcream
Pada asalnya, hampir semua lipstick baik jenis dan warna apapun itu mengandung unsur minyak di dalamnya. Apalagi kalau udah ditambahin tulisan waterproof, berarti sudah pasti tidak bisa menyerap air wudhu hehehehe. Ada sih beberapa jenis pewarna bibir yang disebut seperti lip ice, beberapa merk lip tint dan liptick arab yang dzatnya menyerap air. Allahu a'lam.



Sederhananya, kalau sudah mempromosikan dan menuliskan waterproof maka amannya nggak usah digunakan atau pastikan untuk selalu menghapusnya sebelum berwudhu. Sekali lagi ya :") saya menuliskan ini bukan menyarankan untuk berhias keluar rumah, bukan. -karena saya sendiri pun berprinsip untuk tidak berhias ketika keluar rumah dalam keseharian (bahkan ke kantor, bedakan aja saya engga :")-. Karena bertabarruj dengan tujuan menggoda dilarang. Saya menulis ini, untuk bagi yang memang memiliki prinsip berbeda dari saya, yang kesehariaannya dituntut lekat dengan make up, harapannya dapat lebih peduli dan berhati-hati lagi dalam perkara ibadah. Apalagi sholat merupakan ibadah wajib yang setiap hari dilakukan.

Sedikit bagian tumit dan kuku kaki yang tidak terkena air wudhu saja diancam neraka, bagaimana dengan seluruh wajah yang full make up yang tidak menyerap air? Padal mencuci wajah termasuk rukun wudhu yang harus dipenuhi karena berpengaruh terhadap sah atau tidaknya sholat seseorang.


Mari mulai peduli dengan ibadah masing-masing, itu tandanya kita juga peduli dengan kualitas ibadah dan iman kita :)
continue reading Make Up

Senin, 06 November 2017

Dosa Apa ya Allah

Kemarin abis maghrib, saya mampir ke toko perabotan. Beli palu. Saya ingat, saya punya rak bumbu (sejenis rak peralatan mandi yang warna putih) yang belum dipasang pasang sampe sekarang. Saya gregetan pengen masang dia di tembok, soalnya menuh menuhin meja. Sebetulnya dikasih paku sepaket sama rak nya. Tapi, pakunya paku bor. Sedangkan saya nggak punya mesin bor kan (yaiyalah). Mau minjem palu punya ibu kosan tapi punya beliau ilang. Daripada lama kan yaudah mendingan beli sendiri.




Terus saya pulang hujan hujanan, karena payungnya dipinjem temen kantor yang lagi hamil terus belum dibalikin, saya kasian sama bayi di perutnya takut kedinginan(?) alhasil... biarlah saya saja yang kedinginan.


Sampe kosan, masih dengan baju basah saya copotin mading styrofoam, agak digeser, biar nyisain tembok buat masang si rak bumbu. Terus saya ngukur ngukur sampe dapet tempat maku yang pas. Mulai lah saya memaku. Sendiri. Tok tok tok. Ih nggak nembus nembus. Oh mungkin kurang kenceng. Tok tok tok. Ih. Seisi rumah udah keberisikan tapi kok pakunya nggak nembus nembus juga. Oh kurang kenceng. Saya kerasin lagi, TOK TOK TOK! TAK!


WADAAAAWWWWH!


Wah.. jempol saya kepalu ternyata…


Aduh.. dia berdarah di dalem. Wah gimana ini. Sakit parah. Ah, tapi saya tau ini kalo dibiarin, darahnya bakal kering di dalem, terus jadi item, keliatan di kulit jadi tanda. Aaa nggak maaauuu. Saya liat darahnya makin banyak ngumpul bikin benjolan kecil. Akhirnya, saya paksa darahnya keluar.Oh Allah. Nyeri. Tapi darahnya keluar, sedikit sedikit.


Saya lanjutin maku. Tok tok tok. Nggak berhasil. Terus terusan nggak berhasil, padahal udah ganti pake paku beton. Dan tangan kiri saya nggak kuat lama lama megangin paku yang lagi dipukul palu. Jempolnya sakit ampun ampunan. Akhirnya saya menyerah.


Saya tutup pintu. Eh tapi, kenapa nggak masangnya di pintu aja ya. Kan pintu dari papan kayu. Pasti lebih gampang ditembus. Saya pikir


Nanti nanti komentarnya. Iya tau emang lagi nggak sehat otaknya :3


Akhirnya, dengan segenap niat saya memaku di belakang pintu. Tok tok tok! Wah kayanya membuahkan hasil. Paku paku paku. Eh bener udah nih kepasang. Saya cantolin si rak bumbu yang masih kosong.


Ini sebenernya perkiraan saya nggak bakal kuat nih paku kalo di pintu. Tapi mari kita coba. Saya taruh toples kaca kecil kecil di rak, satu satu. Garam dulu. Gula. Bon cabe. Eit, masih kuat dia. Belum goyang. Saya terusin sampe yang bawah penuh. Wah aman nih. Tidak ada turbulensi. Saya lanjutin ngisi bagian atas. Saos tiram, kecap manis-asin, botol minyak zaitun, tempat minyak goreng, dan sebagainya.


Saya tungguin sebentar. Biar kalau jatuh masih bisa ketangkep lah ya. Saya hitung sampe 5.


Satu. Dua. Tiga. Empat. Lima.


Wah aman. Paku dan rak nya terlihat steady.


Nah kan di rak gantung itu paling bawah ada kaitannya kan. Mulai lah saya cantolin, gelas kaca, terus teflon, dan panci kecil.


Saya tungguin lagi. Wah aman nih. Wuuuhh alhamdulillah seneng banget rasanya! Akhirnya kepasang juga.


Setel lah murotal di hp. Sambil bergumam-gumam ngikutin suara hp, saya mulai pungutin isi mading yang tadi saya copot copotin. Mau dipasang ulang. Ikut ikut ikut. Tiba-tiba


PRANG PRANGPRANGPRANGPRANG PRANG!!! GLOTAK!


Saya enggan menengok..


Tapi akhirnya saya tengok juga.. Allahuakbar…. Mak.. tolong..


Langsung pengen nangis saat itu juga. Rak bumbu saya, a-m-b-r-u-k. Ambruk.


Saya menghela napas panjang..


Ya Allah.. panci saya penyok.. toples garam gula pecah.. wadah minyak goreng lepas tutupnya. Sisanya bergelontaran di lantai. Diatas minyak minyak tumpah. Ya Allah.. dosa apa tadi siang..


Saya pungutin pecahan kaca dari lantai. Saya pisahin santan kemasan sama bumbu kemasan lain yang masih utuh. Bungkusnya saya cuci pakai sunlight… biar bersih dari minyak. Terus saya ambil ambilin panci.. yah.. penyok.. saya singkirin rak bumbunya. Yaudah.. yang penting sekarang saya pel dulu ini minyak.


Saya keluar ngambil pel-an, pas masuk, GLEDAK!!


Ya Allah hamba kepeleset


Perasaan saya nggak menentu. Akhirnya dengan panci penyok saya nyalain kompor, panasin air. Saya seduh susu. Terus saya duduk aja di lantai. Bengong.. sambil megang gelas panas. Saya diem aja.. sambil mainin minyak di lantai. Diem aja pokoknya. Ngambek abis.


Terus jongkok.. mainin minyak lagi. Pundung


Itu kamar berantakan banget lagi di lantai ada styrofoam sama isi isiannya. Sampah doubletip juga. Bubuk cabe, dan minyak. Yaudah dengan sisa sisa tenaga saya bersihin itu minyak.. saya pel 3 kali seisi kamar. Saya jemur di balkon lantai dua sapu kamar karena dia kena minyak. Barulah saya menata mading dengan hati gamang. Terus mandi dan bersih bersih.


Abis itu saya tidur tiduran aja. Bengong. Terus masih keinget ada tugas kantor makin bengong. Ya Allah dosa apa tadi siang ya kok begini amat. Lagi bengong tiba tiba dari luar kedengeran suara, KLOTAK!


Ah.. saya tau itu sapu yang saya jemur di balkon pasti jatoh. Ke bawah.


Ya.


Sip deh


Saya baru mau mulai buka laptop ketika saya ingat, gelas bekas susu belum dicuci. Yaudah cuci dulu deh. Pas saya liat. Gelas saya,


ada cicaknya


Gila kali


Plis ya Allah udahan becandanya dong ini kenapa jadi amsyong begini


Meledak meledak dah. Saya angkat itu gelas dengan penuh emosi. Keluar. Saya buang itu cicak sekalian sama gelasnya. Biarinnnn.


Pengen nangis engga keluar.


Waktu cerita, hampir semua orang bilang “Kenapa nggak minta tolong orang sih”, “YAAMPUN KAMU PINTER AMAT SIH IH”


Nggak tau, i usually fill my daily need by myself. Saya pikir itu emang hal yang bisa saya kerjain sendiri dan saya percaya (over pede berefek samping perut pusing dan kepala mules, jangan ditiru). Ya maksudnya... Yaudahlah sendiri aja repot repot amat, gitu.


Malemnya abis nugaskantor-yang-nggakdapet-inspirasi, ada temen nge-chatt, bilang itu jempol harus di kompres air hangat. Akhirnya manasin air sampe mendidih terus taruh di mangkok terus nyelupin jari kesitu


Lalu saya nge-chatt dia


“May... panas”


Dibales


“AER ANGET BUKAN AER PANAS! BELOM PERNAH KETEMPONG GALON YA LU”


Iyaiya. Dimarahin mulu sayanya.


Yang bikin saya pengen nulis ini adalah karena ternyata belum selesai hari kemarin. Hari ini saya pulang kantor, masuk kamar, saya lihat mading saya copot satu. Schedule board saya juga copot.


Yang saya betulin dengan senyum penuh arti. Mungkin pesannya Allah pengen ngasih tau orang orang "Wooy ini bocah plis jangan di contoh ya"


Saya percaya hukum kausalitas. Ini pasti akibat dari sesuatu tapi nggak tau apa. Mungkin saya pernah dzolim sama tukang rak. Au deh. Tapi saya tau ini Allah pasti nyelipin hikmah disini. Allah nggak akan pernah menimpakan sesuatu ke kita kalau nggak ada maksud ngingetin kita akan dosa kita.


Astaghfirullah. Ilahana ya rabbana anta maulana.
continue reading Dosa Apa ya Allah

Jumat, 03 November 2017

Predikat Lulus "Dengan Pujian"...

Kemarin saya menghadiri seremonial wisuda. Duduk di ruangan tersebut dan mengikuti rangkaian acara membuat saya sangat haru *embak-embak lebhay*. Bagian paling mengharukan adalah ketika dibacakan Predikat Lulus dari masing-masing nama lulusan. Tidak sedikit yang mendapat IPK sempurna yaitu menyentuh angkat 4,00. Dari 60an peserta wisuda, tak sedikit pula lulusan yang lulus dengan Predikat Cumlaude.




Dia mengatakan bahwa yang susah itu bukan hanya ketika akan masuk jurusan tersebut, namun juga keluarnya tak kalah susah, menghabiskan waktu 6 tahun untuk berjibaku mengejar cita-cita mereka. Maka tak heran tepuk tangan selalu menggema di ruangan tempat saya duduk saat para lulusan itu satu per satu berdiri dengan diiringi pembacaan Predikat Lulusnya.


Mata saya mengitari wajah-wajah orang tua/wali yang hadir, saya mendapati ada ibu-ibu mengusapkan tissue ke ujung matanya yang berair tipis-tipis, atau bapak-bapak yang tepuk tangannya paling keras sekali dibanding hadirin yang lain, ada juga yang berusaha dengan keras untuk memanjangkan lehernya guna melongok ke bagian depan ruangan untuk memastikan bahwa ia tidak melewatkan sedikitpun prosesi dari rekaman matanya. Mungkin yang sedang dipanggil adalah anak, kerabat mereka.


Acara kemarin membawa saya pada ingatan hampir 1,5 tahun yang lalu, momen dimana nama yang dipanggil untuk mendapatkan ijazah adalah nama saya. Mendapat titel Cumlaude dari salah satu universitas negeri yang selalu menduduki rangking 10 besar kampus terbaik di negeri ini, mungkin adalah salah satu hal yang sangat membanggakan. Mungkin juga hal tersebut diperbincangkan siang malam oleh orangtua kita, diceritakan berulang-ulang, ke tetangga, ke sanak saudara.


Padahal, dibalik slempang kuning yang saya kenakan kala itu, ada suatu paradoks yang menjadi bahan kontemplasi saya berhari-hari. Saya bahagia, namun disisi lain ada perasaan yang berlawanan dengan rasa bahagia itu. Beban. Khawatir predikat tersebut tidak bisa saya buktikan ketika saya mulai keluar dari ruangan tersebut.


Saya juga berkontemplasi. Suatu hari kita juga akan menjalani -kurang lebih- seperti seremonial wisuda kita. Dipanggil satu-satu namanya, namun kali ini bukan dibagikan ijazah, tapi dibagikan catatan amal kita semasa di dunia.


Ada yang di berikan catatan tersebut dari depan dan diterima dengan tangan kanan, ada yang dengan tangan kiri bahkan ada pula yang dilempar dari arah belakang punggung mereka. Bagaimana perasaanmu waktu ijazahmu dilempar rektor dari belakang(?) Apa nggak pengen cepet-cepet lepas wedges terus lari showeran di kamar mandi sambil nangis masih pakai kebaya(?)


Saat itu, adalah saat-saat dimana kita mendapatkan sebuah keputusan mengenai masa depan kita yang kekal di akhirat. Dipersidangannya Allah. Semua berlutut menunggu dipanggil untuk menghadap Rabb semesta alam. Ketika seorang hamba tahu bahwa dirinyalah yang dicari dengan panggilan itu, maka seruan itu akan langsung menggetarkan hatinya. Tubuhnya gemetar dan ketakutan yang besar langsung menyelimutinya. Berubahlah rona wajahnya dan menjadi hampalah pikirannya. Kemudian kitab catatan amalnya dibentangkan dan dibuka di hadapannya.


Semua yang dilabelkan di diri ini akankah menghantarkan hamba pada sebuah pengukuhan terbaik di sisiMu, Allah? Ataukah malah hal-hal itu yang akan memperberat hisab hamba(?)
continue reading Predikat Lulus "Dengan Pujian"...

Senin, 23 Oktober 2017

Kami Bersama Kalian #savegerakanmahasiswa

Sejak masa awal tingkat hingga akhir tingkat di kampus, alhamdulillah saya selalu diamanahi untuk menjadi jundi di wajihah sosial politik khususnya bidang kaderisasi, mulai dari himpunan mahasiswa, BEM fakultas, hingga terakhir karir organisasi saya di BEM universitas.

Sejujurnya, walau di wajihah sospol, saya bukanlah individu yang sering ikut aksi atau demo. Tiap kali hendak penurunan massa aksi, saya selalu bertugas untuk 'jaga rumah' ketika bapak bapak organisasinya pergi untuk turun aksi. 

Walau saya hanya selalu jaga rumah, saya mengacungi jempol pada mereka-mereka yang berani ikut ambil bagian, berani menggugat langsung, tidak hanya koar-koar bersembunyi di balik sosmed dengan akun fake.

Tahukah? Banyak hal yang harus dipertaruhkan dan menjadi tanggung jawabnya ketika hendak memilih untuk turun ke jalan. Akademiknya, nama kampusnya, kehormatan orang tuanya. Banyak hal yang mereka bawa dan harus jaga. Maka saya pikir, perjuangan mahasiswa yang berani turun ke jalan itu bukan suatu hal yang receh, apalagi hanya sekedar untuk panjat sosyel. Absolutely NO. Demi kemaslahatan orang banyak, mereka rela harus bayar dengan hal-hal yang sifatnya pribadi.

Seorang kakak yang kala itu menjabat sebagai menteri sospol BEM UI, dalam obrolan sore kami pernah bilang kepada saya, "Gerakan mahasiswa itu gerakan berbasis moralitas dan intelektualitas". Dan saya setuju dengan itu. Apa untungnya kita mengenyam bangku kuliah jikalau langkah kita masih saja srudak-sruduk tidak jelas. Lalu, apakah mereka yang turun aksi jelas? Apakah mereka yang turun aksi itu pakai sisi intelektualitasnya dan bukan sekedar 'teriakan mulut' saja? YA! Iya... puluhan kali bahkan hingga tak terhitung jumlahnya, sebelum aksi wajib diadakan kajian-kajian yang panjang dan mendatangkan pakar. Bahkan data-data yang dibawa pun kadang bukanlah data periode jabatan itu saja, tapi pun sebelum-sebelumnya. Aksi adalah langkah lanjutan ketika langkah-langkah strategis sebelumnya yang dilakukan mahasiswa tidak diindahkan. Bukan ujug-ujug demo. Engga... kalau ada yang bilang "bisa lah pakai cara halus aja buat mengawal pemerintah", ketahuilah... tidak ada demo tanpa surat terbuka terlebih dahulu, tidak ada demo tanpa usaha untuk duduk bersama sebelumnya.
Saat hendak demo pun, ada sikap kooperatif yang harus dijalankan mahasiswa sebagai suatu sistem, yaitu izin keamanan kepolisian, bahkan hingga menunjukkan spot mana-mana saja yang akan digunakan untuk aksi tersebut.
Jika kita baca ulang, tuntutan yang diajukan oleh BEM SI pada aksi tempo hari tidak ada yang keliru.

Saya paham betul, dewasa ini gerakan mahasiswa akan penuh tantangan dan tanggung jawab lebih kedepannya. Idealisme mahasiswa yang dibangun dengan dasar intelektualitas, integritas, dan kepedulian terhadap masyarakat menuntut mahasiswa untuk bisa memberikan yang terbaik untuk masyarakat.

Ada realitas yang menunjukkan tidak semua mahasiswa memiliki ketersadaran dan keterlibatan dengan gerakan mahasiswa. Hal ini disebabkan mahasiswa Indonesia terhinggapi virus pragmatisme dan apatisme. Sistem pendidikan yang berlaku cenderung mendukung tersebarnya virus pragmatisme dan apatisme karena sepertinya hanya membentuk mahasiswa yang pintar dan terampil serta berorientasi kerja untuk memenuhi permintaan pasar. Mahasiswa saat ini bisa dikatakan unggul dalam hal intelektualitas dan akademik akan tetapi perlu reformasi pemahaman lebih terkait moral dan politik. Karena bagaimanapun sebagai sebagai seorang first class citizen , permasalahan moral dan politik seharusnya sudah menjadi santapan sehari-hari yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan. 

Jadi saya tuh suka sedihnya kebangetan. Kalau mereka yang turun ke jalan malah 'dipojokkan', tidak didukung dan malah disalahkan. Well... mereka nggak seburuk itu :( banyak yang mereka pertaruhkan juga. Mereka aksi bukan buat sangar-sangaran doang. Bukan. #embak-embakmulaibaper.
Kalau lah kita tidak bisa membantu tenaga, pikiran dan material, cukuplah jangan menyalahkan dan bantu dengan doa perjuangan mereka.



***



SERUAN ALUMNI BEM UNDIP
Bebaskan aktivis mahasiswa!

"Kemerdekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan Undang-undang.” (Ps. 28 UUD 45)

Di negeri yang mengaku telah pergi meninggalkan otoritarianisme, ternyata menyampaikan kritik dan pendapat tetap dilawan dengan pentungan dan bogem mentah.

Sehubungan dengan penangkapan beberapa mahasiswa yang tergabung dalam Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Seluruh Indonesia, 20 Oktober 2017, maka Keluarga Alumni BEM Universitas Diponegoro (KA BEM UNDIP), dengan tegas menyatakan:

1. Bahwa, Konstitusi Republik Indonesia telah menjamin kebebasan berpendapat dan menyatakan pendapat di muka umum. Sehingga, aksi demonstrasi yang dilakukan mahasiswa yang tergabung dalam BEM SI pada 20 Oktober 2017 merupakan aksi yang dilindungi oleh Undang-Undang dan bukan merupakan demonstrasi yang secara substansi dan tata caranya dilarang oleh peraturan perudang-undangan. Maka, siapapun tidak berwenang melakukan tindakan represif.

2. KA BEM UNDIP mendukung penuh demonstrasi yang dilakukan oleh seluruh elemen mahasiswa sebagai bentuk kontrol kepada pemerintah dalam menjalankan roda pemerintahan.

3. Mengecam tindakan represif aparat dalam menyikapi kebebasan berpendapat yang diijamin oleh UUD 45, dan bertindak dengan menggunakan kekerasan dalam mengamankan demonstrasi yang dilaksanakan oleh BEM SI.

4. Mendesak POLRI, dalam hal ini POLDA METROJAYA untuk membebaskan mahasiswa yang ditersangkakan dan/atau ditahan sejak 20 Oktober 2017, supaya mendapat perlakukan yang sama dimata hukum (equality before the law), dan tidak diperlakukan sebagai pembuat kerusuhan.

5. Mendesak Presiden Joko Widodo untuk mengeluarkan pernyataan, klarifikasi dan/atau tanggapan sehubungan aksi demontrasi serta keberpihakan kepada adik-adik BEM SI yang dilakukan oleh aparat kepolisian, atas dasar hak asasi manusia.

6. Mengajak seluruh elemen masyarakat, aktivis mahasiswa, alumni BEM dan aktivis pergerakan kampus untuk bersama mengawal BEM SI secara pro-aktif menyikapi penangkapan tersebut, dan sebagai bentuk keprihatinan matinya demokrasi di Indonesia secara perlahan-lahan, dan lebih kritis dalam menyikapi fenomena demokrasi di Indonesia.

Jakarta, 23 Oktober 2017

Ttd,
Alumni BEM Undip

Alumni BEM Undip:
1999: Edi Santoso
2000: Fris Dwi Yulianto
2001/2002: Hadi Santoso
2003: Handoyo Prihantanto
2004: Aris Fajar Rohani
2005: Eko Susanto
2006: Muhammad Taufan
2007: Budi Setyawan
2008: Aryanto Nugroho
2009: Yudha Prakasa
2010: Adiyatma Nugraha
2011: Indra Permana
2012: Reza Auliarahman
2013: Mohd Najibullah B
2014: Taufik Aulia Rahmat
2015: Risky Haerul Imam
2016: Fawaz Syaefullah






continue reading Kami Bersama Kalian #savegerakanmahasiswa

Minggu, 15 Oktober 2017

Kalian, Bentuk Terindah dari Baiknya Tuhan Padaku

Orangtua seyogyanya adalah harapan bagi anak :) Di saat anak jatuh; kecewa; gagal; dianggap rendah; dianggap tidak sukses, orangtua lah tangan pertama yang mengulurkan bantuan, hati merekalah yang pertama kali percaya bahwa anaknya mampu menemukan peran terbaiknya.
MasyaAllah :”) itu yang selalu orangtua saya lakukan kepada saya, tidak peduli se-buruk apapun kemampuan saya dibanding teman-teman sebaya, mereka selalu hadir untuk menenangkan; pemompa semangat terhandal ketika saya teramat takut untuk bersaing, ketika saya menggenggam terlalu banyak kekhawatiran, bahkan sampai usia yang terbilang tidak muda lagi ini pun saya masih selalu menelpon ibu ketika tengah malam saya terbangun ketakutan karena mimpi buruk #receh! :”) saya juga tidak pernah masuk ruang ujian apapun kecuali dengan menghentikan sejenak langkah terakhir saya di depan pintu ruangan tersebut untuk mengambil handphone dan texting minta doa ke orangtua saya walaupun sebelumnya saya sudah meminta doa mereka, tapi ya entah kenapa saya merasa tenang aja kalau doa mereka ikut membersamai saya bahkan hingga detik-detik terakhir perjuangan saya.

Saya masih ingat betul, saya dan adik saya begitu mudah meminta izin dari orangtua kami untuk tidak masuk sekolah ketika kami merasa penat belajar dan datang ke sekolah. Penat sekolah saya rasa suatu hal yang wajar bagi setiap anak manusia #pembelaandirinih haha. Bagaimana tidak(?) untuk ukuran anak kampung seperti saya, masuk ke SMP di kota dengan beban pelajaran dan kegiatan dari jam 6 pagi hingga jam 5 sore, berasa nightmare, bersaing dengan anak-anak kota yang mungkin dikasih makannya bergizi-bergizi terus kali yak jadi hasilnya pinter-pinter gitu. Berlanjut ke SMA dan masuk ke kelas yang bahasa pengantarnya menggunakan dwi bahasa yang tiap harinya tas saya tidak pernah tidak diisi dengan buku-buku plus kamus bahasa inggris (ini penting bangett jadi pas baca handbook nggak mudeng, buka kamus. Pas mr/mrs nya ngomong tapi aku masih aja nggak mudeng, buka kamus. Demiii. Hidup gue semenyedihkan itu hiks) yang tebalnya mirip dengan cucian baju selama 2 minggu di kosan kalau ditumpuk (pantas saja saya tidak tinggi hiks. Ini akibat membawa beban berat di tas kali ya. Eh sama ini, bawa beban hidup #lemparsandal). Seperti yang saya bilang, saya bukanlah anak yang shine bright like a diamond. Tapi, orangtua saya yang selalu membesarkan hati saya, bersabar menerima kekurangan saya, mereka yang selalu percaya pada ide-ide gila saya tiap kali orang lain tidak yakin kepada kemampuan saya. Mereka tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk belajar keras (itu sebabnya anak-anaknya selalu mudah acc kalau mau bolos sekolah :”) syarat bolosnya cuma satu, jujur. Baik itu jujur ke orangtua ataupun jujur ke pihak sekolah. Jujur ke orangtua adalah kalau kita bolos ya bolos dari rumah, jangan dari rumah keliatan berangkat tapi tidak sampai di sekolah. Jujur ke pihak sekolah, orangtua saya pun tidak membuatkan izin ke sekolah seperti surat sakit atau sebagainya, karena kami memang tidak sakit. Kami kan bolos :”) jadi nggak berhak dapat izin sakit. Kalaupun besok pas masuk sekolah diomelin guru gara-gara bolos, yaudah konsekuensi kami, harus dihadapi. Apa yang kami lakukan selama bolos di rumah? Makan, tidur, nonton tv, main game. Yaaa hal-hal yang awkward gitu lah. Dan orangtua kami menghargai itu, tidak memojokkan kami atas keputusan bolos sekolah yang kami ambil hanya untuk kegiatan nggak penting kami di rumah semacam itu. Tapi saya rasa ini cara mendidik yang ekstrim kkkkk~ jangan diterapkan sebelum mengetahui karakter si anak dengan benar, alih-alih nanti jadi salah asuh), tanpa kami merasa didikte orangtua kami seakan-akan menjelaskan kepada kami untuk apa pentingnya belajar itu. Jadi kami belajar keras karena pemahaman kami sendiri, dan kami tahu untuk apa kami harus belajar, bukan dari paksaan atau tekanan.

Sungguh percayalah :”) Saya ini dibanding temen-temen yang lain seringnya saya ngerasa rendah diri karena sebenernya saya nggak punya kemampuan yang lebih baik dari yang lain, malah terhitung di bawah wakakaka. Cuma, peran orangtua saya yang menjadikan saya merasa “sebego-begonya lu, lu tetep berharga kok buat bapak sama ibu. Segagal-gagalnya lu, lu tetep kok bakal selalu punya tempat buat pulang. Etc.”. Serius deh :”) dari situ saya jadi punya semangat untuk berusaha lebih keras, berusaha lebih tekun lagi, berani malu, nggak terlalu mikirin apa kata orang (dalam kondisi tertentu yak tapi). Jika ada yang tahu, disaat yang lain sudah enak-enakan bisa main-main, saya masih harus belajar berulang-ulang hingga pagi untuk dongkrak nilai. Disaat yang lain skor toeflnya sudah bisa buat lamar beasiswa dan sudah bisa casciscus ngomong sama bikin caption pakai bahasa inggris, saya masih harus les sepulang kerja dan ngadepin handout untuk belajar toefl. Disaat yang lain sudah ikut konferensi kemana-mana, saya masih harus utak-utik di laboratorium. Disaat yang lain sudah bisa tidur nyenyak, saya masih harus begadang buat ngerancang konsep organisasi gara-gara otaknya keseringan mampet hahaha. Da aku mah apa atuh... Cuma serbuk micin yang dihempas manja di khatulistiwa. Allah Maha Baik karena menutupi aib-aib saya, doa orangtua saya begitu manjur sehingga banyak membuka jalan-jalan di hidup saya. Begitulah sodarah sodarah.

Jadi, saya membuktikan bahwa penerimaan orangtua terhadap kondisi anaknya bisa berimbas seluar biasa itu, bisa mengubah si anak. Kemarin saya ikut kajian, ada jama'ah yang nanya “Umik, kan ngurus anak itu capek ya... belum lagi kalau ngeliat anak seusianya udah bisa ini itu dan anak kita belum, rasanya tuh sedihhh banget Umik, ini anak aku kenapa(?). Terus kadang saking capek sama semuanya, kadang jadi keluar omongan kasar atau bentak.” Lalu ustadzahnya jawab “Orangtua kuat akan menghasilkan anak yang kuat. Jangan terburu-buru ingin anak kita sholih atau baik, karena mengajarkan dengan cara menekan bukan pondasi yang kuat untuk anak. Pahamkanlah si anak saat kita hendak mengajarkan sesuatu. Perbanyak doa, peluk mereka, tatap matanya untuk transfer kasih sayang kita ke mereka. Tiap anak punya cara berbeda dan jenjang waktu berbeda untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Pahamilah, para orang tua.”

Hmmm... saya jadi ingat biografi seseorang. Thomas kecil dengan sang Ibu, Thomas yang dianggap aneh, hingga tak ada guru yang mau mengajarnya. Ibunyalah yang pertama kali menyambut Thomas ke dalam pelukannya; kepercayaannya; pemberian harapan, membawanya kembali kepada sekolah sang ibu, sekolah di rumah. Jadilah ia.. Seorang Thomas A. Edison. Yang melalui penemuannya, kita sekarang mampu merasakan setiap pendar cahaya :)
Mungkin ya waktu itu orangtua saya juga sedih kok anaknya macem saya begini wakakakak. Tapi, mereka memilih sikap untuk tidak pupus harapan dari setiap ucapan orang yang menurunkan semangat mereka. Mereka menjadikan saya istimewa apa adanya... Melalui pupuk cinta, perhatian, dan pendidikan dari orang-orang yang percaya pada saya.

Jangan lelah untuk belajar, start kita sama kok sebenernya, hanya proses yang akan membuat kita beda ending :”)
continue reading Kalian, Bentuk Terindah dari Baiknya Tuhan Padaku

Kamis, 12 Oktober 2017

Menjaga perasaan orang tua adalah hal utama nan terbaik bagi seorang anak. Sampai-sampai sholat sunah kalah nilai utamanya dibandingkan menaati perintah mereka.
Ketika orang tua melakukan kesalahan pun, kita tetap tidak boleh memarahi, membentak dalam mengingatkan. Diksi yang lembut yang belum pernah terucap bahkan dianjurkan mengalir dari bibir untuk melembutkan hati mereka.
Tidak boleh ada kata ‘nanti’ dalam menaati pinta mereka. :)
continue reading

Selasa, 10 Oktober 2017

Be A Productive

Beberapa waktu lalu teman saya menghubungi saya untuk mencurahkan kugandahan hatinya #girlszamannow. Kegundahan hati mengenai sulitnya menjadi produktif setelah kehidupan pasca kampus. Hmm... sesungguhnya ini pun yang menjadi kegundahan saya setahun yang lalu setelah saya lulus kuliah hehe. Saya jadi menerawang ke belakang.

Menjadi produktif di tengah kehidupan masyarakat tidak semudah dulu saat di kampus. Entah karena alasan pertama, gap umur yang berbeda sehingga menjadikan kita bingung harus ke kelompok yang mana. Ikut remaja masjid sudah nggak remaja lagi, ikut kumpulan arisan ibu-ibu RT eee belum diundang karena dianggap belum saatnya haha. Dilematis sekali ya. Atau alasan kedua, waktu kita yang serasa terhimpit karena ditekan rutinitas bekerja. Berangkat pagi, pulang sore. Beres-beres rumah, eeeh sudah magrib saja, orang-orang sudah pada masuk rumah. Menyapa tetangga pun kadang hanya sekedar saat berpapasan jalan hendak ke kantor. Syukur-syukur kalau weekend ada acara di kompleks, bisa dijadikan kesempatan untuk bersosialisasi dan berkumpul dengan tetangga yang lain. Tapi acara rutin seperti itu jarang ada. Duilehhh pusying, ya. Terus kerjaannya habis dari kantor glepah-glepoh doang di kasur? Bagi orang-orang yang sudah terbiasa bergerak, percayalah, situasi semacam glepah-glepoh di kasur doang itu adalah awkward moment bangetttt. Keadaan akan makin berkali-kali lipat menjadi sulit apabila tempat domisili pasca kampus kita bukanlah di kampung halaman dan bukan pula di kota tempat kampus kita berada. Intinya kita belum pernah mengenal tempat kita sekarang, tidak ada teman zaman sekolah dulu ataupun kerabat. Fix, kering sendirian haha.

Semua butuh proses... begitupun yang terjadi pada saya. Alhamdulillah sekarang saya telah melewati kegundahan tersebut. Sedikit demi sedikit saya mulai memiliki pemahaman baru mengenai produktif itu sendiri. Karena ya sekali lagi... kita harus ingat bahwa cara aktualisasi diri kita saat di kampus, dengan pasca kampus harusnya dibedakan. Definisi produktif saat di kampus, dengan saat pasca kampus pun harus dibedakan. Karena... lahannya sudah beda, status kita sudah beda, apa yang kita hadapi pun berbeda. Maka bertumbuhlah dengan pemahan yang baru dan seharusnya. Kita tidak bisa menuntut semua kondisi sama seperti kita di kampus dulu. Di masyarakat nggak ada yang namanya organisasi buka oprec, beda sama di kampus yang organisasi malah nyari-nyari anggota. Di masyarakat, kita yang menjemput bola untuk bersosialisasi dengan tetangga sekitar, nggak akan ada yang datengin kamu dan bilang "dek kok dipojokan aja.. gih sini ikut gabung ke tengah" ada sih, tapi bakal jarang. Dannn lain-lain. Laluuu gimana ini oh gimana haha.


Masing-masing dari kita berhak memberikan definisi sendiri mengenai produktif itu. 
Namun bagi saya, menjadi produktif adalah hak setiap orang, terlepas apakah ia seorang ibu rumah tangga, pelajar, atau pekerja. Tanpa harus terkekang dengan statusnya. Karena sebenarnya disadari atau tidak, tuntutan untuk menjadi produktif itu sudahlah menjadi fitrah manusia. Se-mager-er apapun kamu, pasti akan ada bosennya juga dan pengen gerak kan?


Maka, di dunia pasca kampus ini, saya jadi nggak muluk-muluk memasang target mengenai produktivitas saya sih. Karena ya itu tadi, kondisi berubah seperti serangan negara api. 
Bagi saya sekarang, tolak ukur sebuah produktivitas diukur dari 3 hal:

1. Sejauh mana setiap waktu yang kita miliki, dapat senantiasa dioptimalkan dalam amal kebaikan. 
Dan kriteria ini memberikan ruang seluas-luasnya bagi setiap manusia, dengan potensi apapun. 😊
Satu hal yang saya yakini, Allah tidak pernah menciptakan kita sebagai manusia biasa-biasa saja, karena kita semua dicipta untuk menjadi khalifah.
Maka tugas seseorang untuk bisa produktif, memerlukan usaha optimal untuk mengenali dirinya sendiri, menemukan tujuan penciptaannya, lalu menemukan peran terbaik yang Allah titipkan pada diri kita.
Ketika kita sudah menemukannya, maka tugas kita selanjutnya adalah "beramal beramal beramal", memanfaatkan setiap waktu untuk senantiasa dalam aktivitas kebaikan. Sekalipun aktivitas itu adalah merapihkan rumah, membaca buku, atau membantu membagikan minum di acara pengajian di masjid dekat rumah, dsb.

2. Kriteria produktif bagi saya, 
Bukan hanya kita melakukan amal kebaikan, tapi ia pun adalah amal yang penuh ikhlas dan taqwa.
Kenapa? Karena kualitas keberkahan suatu amal, akan bergantung pada niat dan proses pelaksanaannya. 
Produktif bermakna berkarya yang menghasilkan manfaat seluas-luasnya. Dan Allah lah yang Maha Menentukan, sejauh mana sebuah amal itu bermanfaat. Yang saya yakini, ketika sebuah amal dilandasi oleh bekal niat yang ikhlas, dan dilaksanakan penuh ketaqwaan, maka keberkahan dari amal tersebut akan melimpah berlipat ganda. Terlepas apapun kegiatannya.
Punten, saya adalah tipikal orang yang meyakini, tidak ada amal baik yang terlalu sepele untuk dilakukan. Jangan pernah meremehkan suatu amal yang menjadikan kita lupa kepada Siapa kita beramal. Boleh jadi, sebuah prestasi yang kita anggap besar, namun kecil nilainya di sisi Allah. Dan boleh jadi, suatu aktivitas yang kita anggap remeh, ternyata Allah limpahkan keberkahan luas di dalamnya.
Sebagai contoh, misalkan kita mendengar tetangga kita jatuh sakit, padahal waktu sempit dan kita mungkin tak mampu memberikan bantuan materiil. Kita memilih untuk sekedar membagi sedikit dari masakan kita untuk makan siangnya, yang di dalamnya terselip doa tulus penuh harap kepada Allah.
Kalaulah Allah berkehendak menurunkan keberkahan, sangat mungkin, dari sepiring makanan tersebut, ia berbuah menjadi rasa akur antar tetangga. Dan itu bermula dari sepiring makanan yang penuh berkah.

3. Kriteria ke-3 bagi saya, kalaulah kita di hadapkan dengan berbagai pilihan kegiatan dan aktivitas. Maka prioritasnya adalah:
- utamakan yang wajib baru yang sunnah
- utamakan yang lebih banyak manfaatnya dan lebih sedikit mudharatnya
Tantangannya, bagaimana kita mengetahui mana yang terbaik? 😊
Di situlah kita harus senantiasa menjadi seorang penuntut ilmu. 
Menjadi seorang insan, apapun status aktivitasnya, menuntut kita untuk senantiasa belajar. 
Minimal, kita harus belajar:
1. Ilmu agama murni: Tauhid, Aqidah, Akhlak, Fiqih, Al-Quran
2. Ilmu tentang kesehatan, nutrisi, dan olahraga.
3. Ilmu lain yang sesuai dengan 'muyul', kecenderungan ketertarikan pada bidang ilmu tertentu yang memang sesuai dengan potensi dan bakat kita.

Seriusss... saya baru beberapa saat ini menyadari bahwa ilmu-ilmu tersebut penting banget. Karena kita hidup di tengah masyarakat yang notabene heterogen dan kadang bikin kita bingung ambil sikap dalam menghadapi sesuatu yang sedang bergulir. Misal kita tidak menyepakati suatu hal karena bertentangan dengan apa yang kita yakini, tapi kalau kita nggak sepakat dengan hal itu maka kita akan terkucilkan dari masyarakat. Eterus eterus eterus gimana dongs haha... itu pentingnya kita harus belajar ilmu-ilmu di atas tersebut (minimal), untuk membentuk prinsip hidup, pada hal-hal mana yang kita harus tegas dan lunak.

Banyak yang harus dipelajari? 😊

Iya. Emang.
Tapi itu semua sangat sedikit jika dibandingkan dengan nilai sebuah pahala, keberkahan. Dan surga dari Allah SWT.

Hidup kita hanya sekali.
Jadikanlah ia bermakna.. dan tiket kita berpulang ke surga.
Tanpa ilmu, bagaimana cara kita meraihnya?


Kadang yaa ada juga yang rasanya jadwalnya begitu padat, kalau dilihat kasat mata tuh udah lah itu itungannya produktif, tapi kenapa merasa waktunya terbuang percuma(?). Mungkin ada yang perlu ditelusuri,
- apakah pekerjaan itu sesuai dengan 'muyul' (bidang minat) kita atau tidak(?)
- apakah dalam pekerjaan tersebut terdapat manfaat atau tidak(?)
-apakah pekerjaan tersebut melibatkan maksiat yang mengurangi atau bahkan menghapus keberkahan atau tidak(?)

Karena,
Seharusnya amal kebaikan yang satu, akan membimbing kepada amal kebaikan lainnya. Seharusnya, setelah beramal shaleh, kita akan merasakan kepuasan syukur lahir dan batin. Allahualam bishawab. Itu cuma berdasarkan perasaan pribadi saya huks.


Sebenernya ya... di tengah masa gundah saya menjalankan peran pasca kampus agar tetap produktif kala itu, saya ngerasa nggak ada lagi yang bisa saya lakukan, kecuali,
Untuk tetap bergerak semampu saya, untuk tetap berdoa sebisa saya.
Dan justru episode terindah, adalah ketika kita menyadari bahwa kita tidak mampu melakukan sesuatu, dan hanya Allah lah yang mampu menyelesaikannya.
Terbukti! Allah kasih saya jalan-jalan kemudahan untuk memanfatkan waktu saya dari hanya sekedar glepah-glepoh di kasur tadi wakakakaka. Percayalah, siapapun yang berjalan, akan menemukan.


Saya masih belajar... Masih jauh dari produktif dan sholihah versi saya. Semoga, kita semua, mampu menjadi luar biasa menurut versi kita. Versi peran terbaik yang Allah titipkan pada kita. Agar kita semua, akan menemukan penghujung kehidupan kita, sebagai sesuatu yang penuh makna.. Husnul khatimah :")
continue reading Be A Productive

statistics

Bukan pakar, mari sama-sama belajar. Pun bukan ahli, mari saling berbagi | Melangit dan Membumi

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact