Rabu, 21 Desember 2016

Surat Seorang Ibu dari Masa Depan

Nak, seperti nasehat Luqman pada anaknya, dunia ini layaknya lautan yang dalam, banyak manusia yang karam di dalamnya. Maka cukuplah iman, takwa, dan tawakkal pada Allah akan menyelamatkanmu darinya.

Nak, dunia ini fana belaka, sedangkan akhirat sebenar-benar tempat berpulang. Ibu tidak sebijak Luqman, tidak semulia Maryam binti Imran, tidak sewibawa Khadijah binti Khuwailid, tidak sehebat wanita-wanita yang nama mereka abadi di atas perkamen sejarah. Tapi bolehlah doaku untukmu melambung tinggi setinggi-tingginya, duhai anakku. Agar kau senantiasa bertumbuh dan tangguh, setangguh anak beranak Ibrahim-Ismail yang kecintaannya pada Allah membuat mereka mampu mengorbankan apapun, agar kau setangguh Musa yang demi menegakkan yang haq berpantang takut pada tirani, setangguh Nuh dan Daud yang sedikitpun iman mereka tak luntur karena cobaan dan ujian.

Bolehlah doaku untukmu melambung tinggi setinggi-tingginya, duhai anakku. Agar kau senantiasa bertumbuh dan tangguh, setangguh Umar Bin Khattab, pemimpin yang adil lagi tegas, namun rasa takutnya pada Allah membuatnya mudah berurai air mata, setangguh Khalid bin Walid, komandan hebat yang atas izin Allah satu kalipun tak pernah kalah di medan perang, namun posisi dan jabatan tak merubah sedikitpun perjuangannya membela agama Allah, agar kau setangguh Muhammad Al fatih, sebaik-baik komandan, yang berpantang menyerah mewujudkan bitsah Rasulullah. Agar Kau setangguh Shalahuddin Al Ayyubi yang rela meninggalkan semua kesenangan belaka lalu dengan gagah berani menumpas musuh-musuh Allah.

Ah, anakku, Bolehlah doaku untukmu melambung tinggi setinggi-tingginya. Agar kau senantiasa bertumbuh dan tangguh meneladani junjungan kita, Muhammad bin Abdullah, yang demi Allah tak ada lagi manusia yang lebih baik darinya.
Anakku sayang, Ibu sejak lama menyukai langit ciptaan Allah, filosofinya, serta segala hal yang ada di dalamnya. Bolehlah doaku untukmu melambung tinggi setinggi-tingginya, maka kuberi kau nama Langit, agar siapapun yang memanggilmu akan mengingatkan mereka pada Tuhan kita Yang Maha Tinggi. Karena langit dan segala isinya selalu mampu membuat Ibu jatuh cinta pada-Nya, karena Ibu ingin siapapun yang memandangmu akan menemukan ketenangan, agar kau bisa memberi inspirasi pada siapa saja, dan agar kau selalu merendahkan hatimu serendah-rendahnya, karena bukankah di atas langit masih ada langit, duhai anakku? Bolehlah doaku untukmu melambung tinggi setinggi-tingginya, agar kelak akhlakmu tinggi melangit, meneladani junjungan kita, Muhammad bin Abdullah, yang demi Allah, tak ada lagi nanusia yang lebih baik darinya.

Bolehlah doaku untukmu melambung tinggi setinggi-tingginya, anakku. Karena Ibu ingin kau bertumbuh menjadi orang besar, yang besar hatinya menerima apapun nikmat dan ujian, yang lapang jiwanya, yang senantiasa bersabar dan bersyukur dalam kehidupan.

Ibu tidak bijak, namun bolehlah kuberikan dengan bangga hadiah pertamaku padamu, anakku, doaku yang melambung tinggi setinggi-tingginya, yang kutitipkan pada namamu. Semoga Allah kabulkan doa-doa Ibu.



22 Desember 2016
Calon Ibumu, si ibu obsesif kompulsif, yang teramat galau, karena masih banyak buku yang harus dia baca (tapi kantuk menyerang) untuk ujiannya hari ini demi menyediakan masa depan untukmu

Selamat hari Ibu!!! Setiap hari!!! :)
continue reading Surat Seorang Ibu dari Masa Depan

Selasa, 20 Desember 2016

Jantung

"Assalamu'alaikum... eceeuuuu"
"Wa'alaikumsalam warahmatullah... eceuu ihh baru nongol. Apa kabarrrr?"
"Alhamdulillah khoir. Kamu sehat-sehat kan?"
"Iya Alhamdulillah ^^ aku sehat fisik, hati, dan sepertinya jiwanya juga sehat kok hahaha."
"Aku rindu :')"
"Hahaha buseett.. gini banget nasib gue. Sekalinya ada yang rindu, cewe -_-"
"Mending masih ada ya walau cewe. Ketimbang nggak ada kayak yang selama ini kamu alamin :p"
"Hahaha kok? kamu sekarang jahat(?) aku paling nggak bisa diginiin.... nggak bisaaaa :'( *guyuran pake gayung air*"
"Monce ih aku rindu beneran yoo.. engga becanda!!!"
"Iya iya :) haha aku juga rindu (cuma gengsi). Semoga doa rabithah selalu mengikat hati-hati kita ketika fisik nggak bisa ketemu kayak sekarang ini ya, eceu cayangg :')"
"Iya :') insya Allah. Kamu mau tahu nggak kenapa aku tetiba rindu sama kamu? haha"
"Ada alasannya gitu rindunya? Pfftttt. Rindu yang nggak tulus. Aku bencik"
"Hahahaha yailahh anak perawan suka pundungan banget sih. Dengerin cerita aku dulu makanya"
$&()#@()*^$ -> kode isi ceritanya, cuma tidak bisa diceritakan disini
"Masya Allah :')"
%&()*$#@%&*) -> kode isi ceritanya lagi, cuma tidak bisa diceritakan disini
"Ihhh :')"
^%$#()*!@%^ -> kode isi ceritanya lagi, cuma tidak bisa diceritakan disini
"Uhmmmm" (yah maap-maap kata ya kalau orang tersebut yang diajak bercerita hanya memberikan tanggapan yang seperti itu, dia memang bukan orang yang tepat untuk menjadi tempat cerita. Belum ikut makul Metode Mendengarkan 3,5 sks doi, jadi ya gitu. Alakadarnya skillnya -_-)
"Terus aku nemu lagi sticky note kamu yang kamu tempel di kopi Good D*y terus kamu kasih ke aku dulu itu hahaha. Ternyata sticky note kamu itu aku tempel di buku aku. Terus pas aku buka buku itu, aku baca lagi tulisan kamu di sticky note hahaha. Kamu inget nggak isinya apa?"
"Engga tuh..."
"Subhanallah emang nggak berubah wanita satu ini. Menyebalkan, nggak romantis, nggak peka perasaan (cinta dan sayang) orang #uhuk. Tauk ah"
"Wakakakakakaka ya Allah.. engga gituuu. Emang beneran lupa :" itu udah berapa tahun yang laluuu, lagian aku ngasih sticky note ke entah sudah berapa banyak orang :" isinya suka-suka aku nulisnya. Jadi udah nggak inget. Maapkan aku yang hanya memiliki cinta wanita biasa ini eceuu :"
"-Sholihah.. tahu jantung kan? Iya iya.. jantung kita. Jadilah layaknya jantung, yang selalu berdetak, tanpa orang harus tahu menatap-. Ituuu.. makasih yaa pernah ngasih itu buat aku. You change my life #lebayyy kamu cewe sih, coba cowo, bakal aku jadiin saudaraaa"
"Hahaha aku pernah nulis gitu(?) Lupak. Ya tapi sama-samaaa. Makasih juga udah ngingetin aku sama apa yang aku tulis buat kamuh. Hehehe kok saudara siiihh.. jadiin aku majikan kamu dongsss."
"Ceu... satu lagi.."
"Apah? Apah?"
"Jangan tebar-tebar sticky note kemana-mana lagi, ya :') Aku khawatir, yang dapat note-note dari kamu pada jatuh sayang, tapi kamunya nggak peka, atau malah yang paling parah lupa. Mending patah gigi daripada patah hati, ceu.. serius deh.. pedihh :')"
"itu sakit gigiii, bukan patah gigi -_- kukasih minum cairan odol nih lama-lama kamu kalo gini. Lhohhh kok anda malah jadi curhat gitu sihhh... hahaha. Oke ziapp.. aku kan cuma mencoba jadi jantung aja eceu tadinya mah #eaaakkk kalau ada lupanya ya punten pisan :" "
"Ceu, aku mules... bentar yaaa"
"Yassalam -_- jangan hubung-hubungi aku lagi habis ini!!! Ga zopan"


--Sedang malas menarasikan dialog, jadi ya begini adanya. Maaf jika mata anda sakit membaca tulisan ini hiks.-- intinya, jadilah seperti jantung. Jangan lupa ya, Nak *ngomong depan cermin*
continue reading Jantung

Minggu, 18 Desember 2016

Belajar dari Granada

Banyakkk sekali beberapa waktu ini berita mengenai Aleppo, karena memang apa yang terjadi disana sejak beberapa tahun terakhir membuat hati para muslim miris, termasuk seruan-seruan dari para ustadz kita mengenai apa yang bisa kita lakukan disini untuk Aleppo. Diantaranya... doa, donasi terbaik dari kita, dan blooming berita atau hal-hal terkait Aleppo di media-media yang kita punya.

Saya jadi teringat sebuah sejarah peradaban Islam, tentang kerajaan Granada.
Kerajaan ini merupakan salah satu kerajaan Islam terkuat di Eropa kala itu. Kerajaan ini merupakan kerajaan Islam terakhir yang runtuh di Eropa. Apa yang bisa menyebabkan kerajaan sekuat Granada runtuh?

Ternyata tidak semudah itu awalnya meruntuhkan kerajaan ini. Raja Ferdinand dari Aragon harus memasang mata-mata untuk mengetahui kapan waktu yang tepat untuk menyerang Granada. Maka, raja Ferdinand mengirim seorang mata-mata ke wilayah Granada.

Tidak banyak yang dilakukan mata-mata ini, dia hanya (kalo bahasa anak kekinian sih) kepo. Iya... kepo. Mata-mata ini ditugaskan untuk memantau 'ocehan' penduduk Granada
Suatu ketika saat si mata-mata ini sedang bekerja, ia melihat seorang anak sedang menangis. Lalu dihampirinya lah anak tersebut seraya bertanya, "Mengapa kau menangis?". Sang anak menjawab, "Aku menangis karena anak panahku tidak tepat sasaran". "Bukankah kau bisa mencobanya lagi?", kata sang mata-mata. Jawaban sang bocah cukup mengejutkan, "Jika satu anak panahku gagal mengenai musuh, apa mungkin musuh memberiku kesempatan untuk memanahnya lagi?"

Mendengar 'ocehan' anak tersebut, mata-mata itu segera bergegas kembali ke Aragon dan menyarankan kepada raja Ferdinand untuk tidak menyerang Granada saat ini. Anak kecilnya saja sudah sangat luar biasa seperti itu, tidak bisa dibayangkan bagaimana para orang dewasanya.

Beberapa tahun kemudian seorang mata-mata kembali ditugaskan ke Granada dan dilihatnya seorang dewasa yang sedang menangis. Dia pun bertanya, "Mengapa kau menangis?". "Kekasihku (wanita yang dia cintai) pergi meninggalkanku", jawab si orang dewasa tersebut.

Mata-mata tersebut segera bergegas kembali ke Aragon, kali ini lebih cepat ketimbang tugas sebelumnya. Mata-mata tersebut berkata pada raja Ferdinand bahwa inilah waktu yang tepat untuk melakukan penyerangan ke Granada.

Tidak butuh waktu lama, Granada sebagai benteng terakhir kaum muslimin di Eropa, dapat dikuasai dengan mudah. Puncak malapetaka bagi kaum muslimin Granada adalah dengan dibentuknya lembaga Inguisition (inkuisisi, pengadilan yang dibentuk oleh dewan gereja). Pilihannya hanya 2 : menerima ajaran katholik atau dibantai. Maka tamatlah riwayat kaum muslimin di Andalusia, dan Eropa secara keseluruhan kala itu.

Kita dapat belajar dari peristiwa Granada. Seperti mata-mata di Granada dulu, musuh-musuh kaum muslimin saat ini juga sedang memata-matai kita. Menunggu waktu yang tepat untuk 'meruntuhkan'. Bahkan kini mereka tak perlu susah payah menanyai anak kecil yang menangis di jalan atau orang dewasanya yang galau ditinggal pasangan. Cukup pantau sosial media dan simak tema-tema apa yang menjadi fokus kaum muslimin. Untuk saat ini bolehlah kita bernafas lega. Namun tetap bersiaga dan berjaga.

Bahwa disaat MU kalah telak oleh Chelsea, atau saat *Indonesia Juara AFF* kita masih 'ngoceh' soal penindasan saudara kita di Suriah dan Palestina.
Bahwa tatkala Valentino Rossi terjatuh di GP, kita masih 'ngoceh' tentang Al-qur'an yang dinistakan.
Bahwa ditengah meme 'kelar hidup lo' kita masih 'ngoceh' tentang penggalangan bantuan untuk saudara-saudara kita yang terkena musibah di Aceh.

Alhamdulillah. Semoga ini tanda dan menjadi pesan bagi musuh bahwa ghiroh jihad itu belum luntur dari dada kaum muslimin. Apalagi kemudian jika terbukti bahwa kita tidak sekedar bisa ngoceh di sosial media, tapi juga diwujudkan di dunia nyata.

Maka tidak heran jika marak digaung-gaungkan bahwa salah satu hal yang bisa kita lakukan selain yang pertama doa, yang kedua donasi terbaik kita, yang ketiga adalah blooming informasi untuk para saudara kita sesama muslim disana. Karena bisa jadi inilah yang membuat musuh berfikir ulang untuk menyerang kita.

Wallahu'alam...
continue reading Belajar dari Granada

Jumat, 16 Desember 2016

Yang Tampak Terbaik Belum Tentu yang Paling Cocok

Rangkuman kajian bersama Ustadz Faris Khairul Anam *dicatat disini supaya tidak lupa. Karena saya tidak punya buku tulis untuk mencatat -_- *


“Jika datang padamu lelaki yang kau ridhai agama dan akhlaknya, maka nikahkanlah dia. Jika tak kau lakukan, maka akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang panjang.” (H.R .Turmudzi dan Ibnu Majah)

Jika kita perhatikan benar-benar. Nabi tidak mengatakan “Jika datang padamu lelaki beragama dan akhlaknya baik”. Namun Nabi mengatakan, “Jika datang padamu lelaki yang kau ridhai agama dan perangainya”.

Terus terus terus, apa bedanya?

Pernyataan pertama – dan itu tidak diucapkan Nabi – bermakna, orang tua harus menikahkan anaknya dengan lelaki shalih, dan bahwa lelaki shalih itu pasti akan menjadi suami shalih.
Namun pernyataan kedua – yang diucapkan Nabi – memberikan pengertian pada kita bahwa orang tua dalam memilih calon menantu, syaratnya harus ridha terhadap agama dan perangainya, karena memang tidak semua lelaki shalih, disetujui cara beragama dan perangainya. Jadi, ada unsur penilaian manusia di sini. Sedangkan penilaian manusia itu hanya terbatas pada sesuatu yang lahiriah atau yang tampak.

Ada sebuah kisah zaman sahat dulu. Suatu saat, Fathimah binti Qays dilamar dua lelaki. Tak tanggung-tanggung, yang melamar adalah dua pembesar sahabat, yaitu Mu’awiyah dan Abu al-Jahm. Setelah dikonsultasikan kepada Rasulullah, apa yang terjadi? Nabi menjelaskan, baik Mu’awiyah maupun Abu al-Jahm, tidak cocok untuk menjadi suami Fathimah binti Qays.

Apa yang kurang dari Mu’awiyah dan Abu al-Jahm? Padahal keduanya adalah lelaki shalih dan memiliki keyakinan agama yang baik. Namun Nabi tidak menjodohkan Fathimah dengan salah satu dari keduanya, karena Nabi mengetahui karakter Fathimah, juga karakter Mu’awiyah dan Abu al-Jahm.

Lebih lanjut, Nabi menawarkan agar Fathimah menikah dengan Usamah bin Zaid, seorang sahabat yang sebelumnya tidak masuk “nominasi” Fathimah. Setelah Fathimah menikah dengan pilihan Nabi itu, apa yang dikatakannya setelah itu? Fathimah mengatakan, “Allah melimpahkan kebaikan yang banyak pada pernikahan ini dan aku dapat mengambil manfaat yang baik darinya.”

Jadi, kepala rumah tangga yang ideal bagi seluruh wanita muslimah adalah: Pertama, lelaki shalih. Kedua, memiliki perangai yang sesuai dengan karakter si muslimah tersebut, dan ini nisbi atau relatif, yang tidak mungkin bisa dijawab kecuali oleh yang bersangkutan.

Keshalihan seorang lelaki memang menjadi syarat bagi wanita yang ingin menikah. Namun, itu saja tak cukup. Perlu dilihat kemudian munasabah (kesesuaian gaya hidup, meski tak harus sama), musyakalah (kesesuaian kesenangan, meski tak harus sama), muwafaqah (kesesuaian tabiat dan kebiasaan).

Sekali lagi, aspek kedua ini sifatnya relatif ya cemss, tidak bisa dijawab kecuali oleh wanita yang akan menikah dan keluarganya. Oleh karena itu, kalau ada yang datang melamar, tanyakanlah karakter dan perangainya pada orang-orang yang mengetahuinya, baik dari kalangan keluarga atau teman-temannya.

*paragraf ini nasehat ustadznya, bukan nasehat dari saya, bukan.* Bagi yang belum menikah dan sedang “mencari jodoh”, agama mensyari’atkan untuk istikharah. Lakukanlah!. Sementara bagi yang sudah menikah, terimalah keberadaan suami apa adanya, karena menikah itu “satu paket”: paket kelebihan dan paket kekurangan dari pasangan. Tinggal bagaimana kita menyikapi kelebihan dan kekurangan itu. Orang bijak menyikapi kelebihan dengan syukur, menyikapi kekurangan dengan sabar. Orang bijak itu “pandai mengubah kotoran yang tidak bermanfaat menjadi pupuk yang bermanfaat”.

Sesuatu yang baik dari suami, ajaklah dia untuk makin meningkatkannya. Sedang yang jelek darinya, bersama kita, hilangkan dari lembar kehidupannya. Janganlah memikirkan lelaki lain. Karena boleh jadi lelaki lain itu dalam pandangan kita baik, namun ternyata ia tak baik dan tak cocok untuk menjadi suami kita.

Boleh jadi kita melihat sepasang suami istri yang hidupnya bahagia. Lalu, kita berkhayal seandainya lelaki itu yang menjadi suami kita, pasti hidup kita akan bahagia. Wah, itu belum tentu. Karena ternyata, bisa jadi lelaki itu memang cocok untuk perempuan yang sekarang menjadi istrinya, namun tidak sesuai bila menjadi suami kita.

Allah Maha Tahu, sedangkan kita, para hamba, tidak :)

continue reading Yang Tampak Terbaik Belum Tentu yang Paling Cocok

Think!!

Saya membaca kisah menarik dari seseorang yang telah membaca buku Lisa Bloom, pengarang Think: Straight Talk for Women to Stay Smart in a Dumbed-Down World. Menurutnya, anak perempuan sekarang bertumbuh dengan keinginan besar untuk tampil cantik, daripada tampil pintar. Mereka lebih khawatir kalau mereka tampak gemuk dan jelek.

Dalam bukunya, ia menunjukkan bahwa 15-18 persen anak perempuan di bawah dua belas tahun saat ini sudah memakai maskara, eyeliner dan lipstik. Kepercayaan diri anak perempuan menurun kalau tidak merasa cantik. Hampir 25 persen remaja perempuan akan merasa bangga menang America’s Next Top Model daripada memikirkan untuk memenangi Nobel.

Karenanya memuji anak perempuan bahwa dia cantik, akan membuatnya makin merasa betapa penampilan menjadi penting. Bayangkan nanti dia sudah diet di usia lima, memakai bedak di usia 11, botoks di usia 20-an *ya ampyunnn*. Apa yang hilang? Mereka akan kehilangan makna hidup, mengungkap sebuah gagasan dan membaca buku untuk mengembangkan pemikiran dan pencapaiannya.

Bloom berkisah, suatu kali ia pernah bertemu dengan anak perempuan temannya berusia lima tahun yang cantik bernama Maya. Rambutnya terurai, matanya indah, dan gaun warna pink yang manis. Seketika ia ingin sekali teriak “Maya, kamu cantik sekali, coba lihat dan berputar”. Namun, ia urungkan dan ia tahan niatan itu. Meskipun itu adalah hal yang biasa untuk memuji seorang anak perempuan, sekaligus mencairkan suasana, dia punya alasan lain.

Lalu, bagaimana baiknya? Lisa lalu mengajak Maya, untuk bicara hal lain daripada sekedar memuji. 

“Hai Maya, senang bertemu denganmu,” sembari menatap mata Maya.
“Senang bertemu denganmu juga,” ujarnya dengan kalem seperti orang dewasa.
“Apakah kamu suka membaca?” ujarnya lagi. Maya diam sebentar. “Aku menyukai buku, apakah kamu juga suka buku,” lanjutnya.
“Ya. dan aku bisa membacakannya untukmu,” jawab Maya akhirnya.

Maya lalu benar-benar membacakan buku pilihannya dengan lantang. Kisah tentang seorang tokoh perempuan yang menyukai warna pink melawan sekelompok anak jahat yang kerap memakai warna hitam. Tidakkah buku ini juga mengajarkannya betapa sosok perempuan dilihat dari penampilan daripada karakternya. Maya juga kerap membandingkan mana yang lebih cantik, tubuhnya lebih ramping dan pakaian yang paling bagus.

Lisa lalu mengajak Maya untuk di kemudian hari memlih buku yang lain jika nanti mereka bertemu lagi. Dari sini diketahui bahwa betapa susahnya nanti mendidik anak perempuan untuk mengajarkan mereka betapa penampilan mestinya tidaklah hal yang utama. Namun, di tengah kepungan industri kecantikan, produk perawatan, kompetisi perempuan cantik sejagad dan budaya selebriti lainnya, usaha mengajari mereka harus dua kali lipat lebih besar.

Setidaknya jika suatu saat nanti kita bertemu seorang anak perempuan, termasuk anak kita sendiri, usahakan jangan buru-buru memuji penampilannya. Akan lebih baik mengajak mereka untuk berpikir dan bertanya sesuatu tentang apa yang ia baca. Apakah ia menyukai buku itu atau tidak, dan mengapa? Dari sini pembicaraan akan berkembang sekaligus mengembangkan pola pikir dan inteligensia mereka. Sehingga bisa mengubah cara berpikir anak perempuan bahwa menjadi pintar lebih penting daripada sekedar cantik.

Saya teringat Ibu saya, tiap kali Ibu saya mendapati ada yang memuji saya mengenai hal-hal berbau fisik atau penampilan, sejurus kemudian beliau selalu memberikan spion ke saya bahwa saya biasa saja; orang yang memuji itu berlebihan; tinggi badan saya tidak memenuhi standar menjadi putri Indonesia (a.k.a minion); dan hal-hal -menyakitkan- lainnya Haha. Waktu itu saya berpikir, "Jangan-jangan gue anak pungut yak(?) Disaat semua Ibu memuji anaknya -yang entah bagaimanapun keadaannya, yang walaupun tidak ada orang yang memujinya. Seorang ibu akan hadir sebagai satu-satunya pemuji di setiap waktu- kok ibu gue engga(?)." Tapi justru karena itu, saya jadi teramat santai dengan penilaian fisik dan penampilan.
Kala usia sudah menginjak dewasa, barulah ibu saya menjelaskan kepada saya dengan bahasa yang saya pahami. Tidak lah menjadi hal utama masalah fisik dan penampilan itu, katanya. Semua hanya titipan Allah, yang harus kita lakukan adalah menjaganya dengan baik. Berhubung milik Allah, ya suatu saat kembali ke Allah. Ibu saya hanya takut, kalau pujian-pujian (fana) tersebut akan menjadikan saya tinggi hati. Maka, beliau tidak pernah buru-buru memuji penampilan atau fisik saya. Justru oleh beliau, saya diperkenalkan dengan definisi cantik yang 'lain'.


Ambition is priceless. Its something thats in your veins. "A busy, vibrant, goal-oriented woman is so much more attractive than a woman who waits around for a man to validate her existence". Selamat menjadi perempuan. Jangan lelah menjaga kehormatan, ya :)


Ps: mohon maaf apabila tulisan ini banyak bujukan dan rayuan (tapi tidak pakai malaikat maut). Harap maklum, yang nulis merupakan wanita yang tidak cantik. Jadi doi banyak-banyak bela diri doang ini mah... maklum yak
continue reading Think!!

Kamis, 15 Desember 2016

Teruntuk

…semuanya, yang sedang dikelilingi banyak tugas, tanggung jawab, kewajiban. Yang kepala dan hatinya sedang diisi berjuta pikiran, berkecamuk tak keruan. Yang tidak berhenti merasa khawatir dan takut. Yang sungkan mengambil jeda karena ingin terus bekerja. Yang mungkin senantiasa merasa bingung, butuh pegangan, butuh sandaran. Yang mungkin sedang disiksa dengan ketidakpastian. Yang sedang berjuang sendirian. Yang merasa kurang diapresiasi. Yang kesabarannya senantiasa diuji. Yang tugasnya mati satu tumbuh seribu. Yang sengaja berjalan di bawah hujan demi sembunyikan sendu. Yang gamang karena punya sejuta pertanyaan, tapi tak kunjung dapat jawaban. Yang memutar murotal berulang-ulang karena hanya dengan begitu pegal hati bisa terwakilkan. Yang menangis malam-malam, karena saat terang kalian harus tersenyum seharian. Yang rindu pelukan ibunya, yang rindu senda gurau ayahnya. Yang rindu rumah, tapi belum bisa pulang. Yang sedang diuji oleh jarak dan waktu. Yang sedang diuji sehat jiwa serta raganya. Yang terduduk, terengah kelelahan. Yang merindukan teman. Yang berekspektasi dan dikecewakan. Yang sudah berusaha tapi mungkin terabaikan…

…jangan lupa mengambil napas, Teman-teman. Jangan lupa untuk minum, jangan lupa makan yang banyak, ya. Di saat susah, ini bisa jadi sulit untuk dipercaya, tapi aku akan katakan juga: kita tidak pernah sendirian.

Menangis sangat diperbolehkan, kawan-kawan

tapi iringi juga lah dengan doa.

Ya? :)

Menepi sejenak tidak menjadi hal yang buruk. Iya, mungkin itu malah lebih baik. Menepi sejenak untuk mengosongkan hatimu. Supaya ia mempunyai ruang lapang yang cukup untuk diisi kembali dengan rasa-rasa yang baru, entah rasa apapun itu.
Katakan pada hatimu untuk menjadi mandiri. Ajarkan dia untuk mengobati lukanya sendiri. Bujuk ia untuk tak lagi sakit walau banyak hal menumpuki ruang-ruangnya. Ajaklah hatimu untuk menjadi lega, sebab kita punya Tuhan yang tahu bagaimana cara keluar dari segala himpitan yang mengisi ruang hatimu, Teman.
Jadi, katakan pada hatimu... "Wahai hati, bukankah ikhlas itu tak berbatas? Mari terus menjadi luas, ya."




Masya Allah... indah nian ciptaan Allah. Ini senja hari ini yang saya lihat.
Mungkin, langit yang dilihat saudara-saudara kita di Aleppo tidak seindah ini di mata mereka.
Oh Allah... ampuni ketidak kuasaan kami untuk menolong saudara kami disana. Hasbunallah wanikmal wakiil...
Jangan lupa untuk membaca Doa Qunut Nazilah di setiap sholat kita untuk saudara-saudara kita sesama muslim, khususnya saudara-saudara kita di Allepo dan Suriah umumnya. Karena ada kekuatan yang mampu melunakkan yang keras, mendinginkan yang panas, mendamaikan yang bertikai, yaitu doa

continue reading Teruntuk

Selasa, 13 Desember 2016

save the earth

Kemarin saat di rumah, saya bertemu kembali dengan meja setrika saya, namanya Nebu. Saat saya mendekatinya, dia mendadak tidak ramah, bautnya tidak lagi terpasang dengan benar, agak kendor. Mungkin dia malu sama saya, soalnya kami udah lamaaaaa banget tidak menjalin kerjasama(?), kira-kira sejuta tahun yang lalu.
Saya kehilangan chemistry, tepatnya saat saya yakin –selain karena artistik- baju yang lecek juga sangat hemat energi hingga mampu membantu saya untuk menjadi pribadi yang lebih green.
Save energy (saya), save the earth!!!


*Bukan, bukan. Hari ini bukan lah Hari Bumi. Saya cuma ingin bilang, kalau salah satu cara menjaga bumi kita tercinta, yaitu dengan menghemat energi misalnya mencabut charger HP dari sumber listrik ketika sudah tidak digunakan (FYI: charger HP yang tidak dicabut dari sumber listrik saat sudah tidak digunakan, masih menyedot sekitar 80% daya listrik normalnya), lalu ride a bike (lumayan ye kan bisa menghindarkan bumi dari emisi plus plus plus olahraga tanpa harus bayar untuk nge-gym *siul-siul*), lalu itu tadi yang terpenting (untuk saya) menghindari menyetrika (baju-baju yang tidak perlu disetrika) *plakkk* *terkena tamparan gaib*.
continue reading save the earth

statistics

Bukan pakar, mari sama-sama belajar. Pun bukan ahli, mari saling berbagi | Melangit dan Membumi

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact