Minggu, 11 Desember 2016

Di bagian mana kita ditempatkan?

Nona, aku seringkali khawatir tiap kali aku membaca tulisanmu. Seringkali bertanya-tanya dalam hati, apakah mungkin itu benar-benar tentangmu atau hanya sekadar cerita yang kau khayalkan.

Aku juga suka menulis, dan karena itu, aku tahu kau meletakkan sebagian dirimu pada tulisan-tulisanmu. Namun, entah bagian apa di sebelah mana, aku tak tahu. Seperti Horcrux pada Voldemort, begitu juga hubungan antara tulisan dan jiwamu. Kau menyimpannya dengan rapi, dengan sedikit isyarat yang tersembunyi, dan aku, kadang-kadang penasaran, di manakah dirimu kau tempatkan.

Kau pernah bilang padaku, kau tak selalu menempatkan dirimu pada tokoh utama. Bahkan tidak pula pada tokoh kedua dan seterusnya. Kadang kau hanya menempatkan segelintir ingatanmu menjadi latar cerita. Atau kadang-kadang, kau meletakkan satu peristiwa utuh yang terjadi pada hidupmu di kehidupan tokoh lain, yang sama sekali tak mirip denganmu.

Apapun itu, tetap saja kadang aku masih cemas tiap membaca tulisanmu. Namun kini aku berhenti bertanya-tanya dan mencari fakta. Karena pada akhirnya aku tahu, kenikmatan membaca sebuah cerita akan terganggu jika aku selalu terus bertanya-tanya apakah ini nyata.
Lagipula, aku juga menulis tentangmu, kok. Menyimpan kenangan tentangmu pada bait-bait tulisanku, yang mungkin tak semuanya terlihat seperti sedang menceritakan kamu. Mungkin aku menulis kisah lain, tapi akan selalu ada kamu dan sebagian diriku yang kuselipkan di sana.

– karena kita tidak pernah tahu, di cerita bagian mana kita ditempatkan, atau bisa jadi, tak pernah ada kita sama sekali di cerita yang ditulis oleh para penulis itu —
continue reading Di bagian mana kita ditempatkan?

17:7

In ahsantum ahsantum lianfusikum (17:7).

Saya pernah membaca suatu kalimat yang 'iya banget!' rasanya, "Bahwa dengan menjatuhkan orang lain, tidak serta merta membuatmu terlihat lebih unggul daripadanya. Tidak."
Dan saya belajar hal tersebut hari ini...

Benar sepertinya jika banyak yang bilang bahwa orang tua merupakan gudangnya nasehat(?). Dari sekian banyak nasehat yang orangtua saya berikan pada anak-anaknya, ada diantaranya adalah nasehat-nasehat 'magis' yang seperti simsalabim!! menempel lekat-lekat, erat-erat, kuat-kuat di hati saya.

Salah satu nasehat magis tersebut mengacu pada ayat di atas yang saya tulis. Yang mengikuti beberapa akun sosial media saya *eaaakkk promosi colongan*, pasti menemukan 17:7 tercantum di bio nya. Dan seperti yang saya bilang di atas, saya kembali diajarkan sama Allah tentang hal itu hari ini.

Sesungguhnya tak ada balasan untuk kebaikan melainkan kebaikan pula.. Ini salah satu ayat favorit saya. Paralel dengan Hukum Newton III. Besar gaya reaksi sama dengan besar gaya aksi. Jika kamu melepas kebaikan pada semesta, maka semesta -tak peduli dengan cara apa, tak peduli nanti atau saat itu juga- akan "mengembalikan" lagi kebaikan itu tepat padamu. Sungguh, tak pernah rugi orang yang berbuat baik

Maka, seperti kata orang tua saya, "Jadilah baik sebisamu dulu. Walaupun belum dianggap baik, walaupun belum terlihat baik, jadilah sebisamu dulu. Sambil melebihkannya setiap harinya".
Pun untuk diri saya sendiri setelah pelajaran hari ini, semoga selalu ingat bahwa 'jangan menyakiti orang lain hanya untuk kepentingan kita sendiri. Jika bahagia yang dicari, mungkin bahagia dari cara seperti itu adalah bahagia yang hanya sekelebat mata saja, setelahnya? Wallahu'alam'
continue reading 17:7

Senin, 05 Desember 2016

The Alchemist

Beberapa waktu lalu saya meminta tolong kepada ibu saya untuk mencarikan sebuah buku di tumpukan dalam kardus yang ada di rumah. Saya membutuhkan kembali buku tersebut untuk belajar. Saya agak lupa-lupa ingat dengan judul bukunya, karena yang saya butuhkan hanya part-part didalam buku tersebut. Maka saya sebutkan saja ciri-ciri yang tersisa pada remahan ingatan saya. Karena Ibu saya tidak punya banyak waktu untuk memilah-milah buku-buku yang saya maksud, alhasil yang judulnya menggunakan bahasa asing dikirimlah semua ke Jogja. Dan tererengggg... terbawalah buku satu ini “The Alchemist”.


Buku ini pemberian salah seorang teman SMA sebagai kado ulang tahun saya yang ke-17 kala itu. Sebenarnya ada fakta yang menyedihkan pada diri saya, ketika saya selesai membaca buku, lalu menyimpannya kembali ke rak, beberapa lama kemudian (ketika saya melihat buku itu lagi) kemungkinan saya akan menghabiskan beberapa detik untuk berusaha mengingat kembali isi buku yang pernah saya baca, lalu bertanya “ini buku ngomongin apa yak?” Lupa. Oh Allah... saya lebih suka mengimajinasikan isi-isi dalam buku-buku yang pernah saya baca dengan kata-kata saya sendiri dan sepahamnya saya, yang seperti ini lebih lama melekat di ingatan saya. Ketimbang harus didikte dengan si penulis buku.

Tapi ketika melihat buku ini kembali... aturan yang biasa saya pakai berubah seperti ultraman ketika mendeteksi ada ancaman dari monster, hehe. Khusus buku ini, saya ingat seingat-ingatnya.

Saya yang sebenarnya bukan tipe penikmat novel, ehhh tau-tau sudah dua novel Paulo Coelho yang saya baca. Yang pertama ya The Alchemist *modal dikasih temen* ini, dan yang kedua By the River Piedra I Sat Down and Wept *modal dipinjemin temen* *ya ampyunnn*.

Pada The Alchemist, setiap kata dari buku ini seperti mengajarkan sesuatu. Setiap kalimat dari buku ini adalah kutipan favorit saya. Buku ini mengajarkan untuk mendengarkan dan mengikuti kata hati. Bahwa sesuatu atau seseorang yang betul-betul mencintai kita tidak akan menjadi penghalang kita untuk meraih mimpi-mimpi. Karena ketika kita menginginkan sesuatu dan terus berusaha, alam semesta akan mendukung kita untuk mencapainya. The Alchemist juga mengingatkan bahwa segala sesuatu yang terjadi sudah ada yang mengatur, mengajarkan untuk melepaskan yang memang sudah jalannya untuk dilepaskan.. karena satu kata yaitu “Maktub” yang berarti “It is written”. 
It is indeed a life changing book!!! But, the holy Qur'an is the most life changing book dong yaaa hehe







continue reading The Alchemist

Jumat, 02 Desember 2016

Ikat-Terikat

Orang bilang menyambung tali silaturahim itu membuka pintu rezeki. Ya, saya percaya, tapi lebih dari itu kebutuhan untuk saling menyapa, berkunjung dan berjejaring bagi saya kemudian adalah kebutuhan tentang hati dan akal sehat.
Allah selalu mencoba mengingatkan saya kembali tentang makna silaturahim ini. Entah tiba-tiba seorang kakak yang sudah bertahun-tahun lost contact karena sedang memperjuangkan hidup dan mimpi masing-masing secara susah payah mencari contact adik-adiknya dan kami kembali berkomunikasi, atau seorang teman lama(?) yang mendadak muncul kembali di akun officialnya dan kebetulan apa yang terjadi padanya saat ini seperti rencana kita lalu kita saling diskusi dan bertemu kembali, atau seorang adik yang tak pernah kita anggap(?) yang mendadak menghubungi kita hanya untuk memastikan hidup kita bahagia atau tidak lalu kita membicarakan apa saja dan seringnya menertawakan diri kita sendiri. Ahh, betapa kita (eh, saya saja ding hehe) sering lalai mengenai makna silaturahim ini. Berkomunikasi kala dulu masih dalam lingkup yang sama, setelah jalan bercabang maka saling (me)lupa(kan). Atau mungkin saling sungkan mengabari dan menanya kabar.  
Sungguh, Tuhan memang penuh dengan kejutan. Siapa yang pernah mengira akan ada orang-orang yang bahkan sudah satu dua tiga tahun belakangan tidak pernah bertemu, tidak pernah saling bertukar kabar, tiba-tiba saja menyempatkan diri untuk memastikan jalan hidupmu seperti apa dan bagaimana. Saya tahu dunia terlalu kompleks untuk sebuah kebetulan. Semesta pasti tahu ada bagian yang digerakan dan saling menggerakan, hingga akhirnya sebuah momentum muncul dan untuk tidak pernah terulang lagi.
Kejadian sederhana tersebut membuat saya semakin paham bahwa keindahan saling menjaga silaturahim tidak berhenti pada siapa memerlukan siapa, dan apa bertemu dengan urusan apa, lebih jauh dari itu…pertautan hati dibuat untuk saling menjaga, memastikan saudara-saudara kita berada pada kondisi yang baik dan sedang berjuang untuk kebaikan pula. Mungkin belakangan saya mulai terbenam dalam hiruk pikuk rutinitas yang saya buat sendiri, hingga saya kerap kali lupa ada sesuatu yang sangat sederhana, yang jauh lebih menyentuh orang-orang di sekitar kita, orang-orang yang rindu saling menyapa dan mengingatkan, orang-orang yang selalu ingin bertaut dalam kebaikan.



Dalam kerinduan yang memuncak pada ikatan-ikatan kebaikan

Izinkan aku kembali ke jalan-Mu :')
continue reading Ikat-Terikat

Hujan dan Adik Kecil

Semua orang tentu pernah merasakan masa kecil, entah bahagia atau tidak. Mungkin ada yang menghabiskannya untuk berlarian di tengah sawah, meniti setiap tegalan dan bermain lumpur bersama kerbau-kerbau yang jorok. Pasti menyenangkan pulang dengan sisa kubangan lumpur dan belepotan yang tidak karuan. Tapi mungkin ada juga yang menghabiskannya untuk memelototi video games, berkencan dengan stick Play Station, dari hari masih terang ketika kantong sekolah baru saja mendarat di kasur, hingga sang empunya tergeletak tengah malam dengan mata lelah terkena radiasi. Pasti menyenangkan menimbun lawan yang terkalahkan di setiap level permainannya.



Namun sore itu saya tidak bisa menebak apa yang sudah dilakukannya untuk hari-hari yang bersinar. Yang jelas, saat hujan turun agak deras sore itu, dia menghabiskan waktunya berkuyup hujan di seberang jalan itu. Menunggu kendaraan hilang sepertinya.
Saya mengacungkan batang payung saya yang berwarna jingga agak tinggi, memastikan bagian ujung lengkungannya tidak menghalangi pandangan, karena saya hendak menyeberang. Sisi sebelah kanan saya tengok dengan hati-hati. Tidak begitu lama mobil yang hendak melintas melambatkan lajunya di jalan yang sudah licin. Saya bergegas. Sedikit cipratan mendarat di rok hitam yang saya kenakan, dan saya tidak begitu peduli. Sayangnya ruas jalan ini begitu lebar. Usai menyeberang setengah jalan, saya menepi di bagian tengahnya. Sebuah titik singgah untuk kemudian menghadap roda-roda yang melesat dari arah yang berbeda. Kini sisi sebelah kiri. Dan hujan semakin menderas.

Sekecipak langkah terdengar sayup dari belakang. Saya tetap menjaga pandangan. Memastikan ada sela dimana jalan sedikit kosong, dan saya bisa mencuri waktu untuk berlari. Sebuah tujuan di seberang jalan. Lalu saya sedikit terkaget. Dari sebelah kiri sesosok mungil menggiring saya melangkah. Menahan telapak tangan ke depan kaca-kaca mobil yang terintik air. Meminta waktu untuk sedikit mengalah, karena kami butuh segera sampai, sebelum terlampau kuyup. “Ayo mbak…”, ucapnya singkat dengan senyuman tulus yang menghangatkan. Tarikan bibirnya menggembungkan kedua pipi yang masih gembil. Melukis lingkaran sempurna di wajahnya. Menggemaskan.

Tanpa banyak membuang waktu, saya sedikit berlari mengejar sosok yang baru saja mengejutkan saya. Dingin udara sore itu, dan lembap khas iklim tropis menambah keyakinan bahwa hujan ini belum akan reda.

Saya kini tiba di tepian jalan, menarik sedikit jahitan rok di sebelah kanan, mengangkatnya beberapa centi supaya tidak menyentuh genangan air. Usaha yang agak sia-sia sebetulnya. Saya menoleh kembali ke belakang. Masih penasaran dengan sosok mungil tadi. Dia menepi dan segera berlalu, menuju sebuah gang yang saya tidak tahu. Tapi sebelumnya dia berbalik sejenak. Saya tersenyum, dan dia juga.


Untuk adik yang menggemaskan. Sore itu di kala senja semakin gelap. Terima kasih untuk sedikit memberi kesan hangat bagi saya yang tidak pernah menyukai hujan :)

Oh iya... Jika kau bertanya, Kenapa aku tidak suka hujan(?)... itu karena gerimisnya sanggup meluruhkan rindu, membiarkan matahari kalah dan menunggu. *ini jawaban puitisnya*.
Karena membuat malas mandi *ini jawaban sebenarnya* *lempar kerikil*.
Tapi kan... saya harus suka semua yang Allah berikan, ya(?) 
continue reading Hujan dan Adik Kecil

Children




There was something warm flowing in my heart when they called me "Teh". Then by the time I left and came back again to meet them, they didn't not only give me warm welcome, smile, and embrace. They gave me a beautiful red-flower and pinned it for my hijab, which turned me realized that I'm being a part of the world, a place where we all live together, where we share all resources one another, and where we all together will grow and die. So, why bother to have a clash?

Berinteraksi dengan anak-anak adalah saat dimana saya kembali belajar tentang mimpi, kebebasan berpikir, dan kekuatan keinginan yang tidak mengenal hambatan dan kepayahan. 
Semangat yang masih lugu, yang muncul dari ketulusan hati, tanpa hawatir kapan dunia akan menghendaki.


Coming very soon road to 2017!!! *italic, bold, gedein segede-gedenya, pasang di jidat*
continue reading Children

Kamis, 01 Desember 2016

Gravitasi

Suatu hari, hujan jatuh dari langit. Lalu aku bertanya pada ibu, kenapa hujan jatuh ke bumi?
Kata ibu, hujan jatuh ke bumi karena bumi punya gravitasi. Aku mengerutkan kening, saat itu ‘gravitasi’ seperti nama makhluk luar angkasa yang asing bagiku. Panjang lebar ibu menjelaskan padaku tentang apa itu gravitasi. Aku sedikit bingung, tapi kuangguk-anggukkan kepalaku.
Bumi punya gravitasi karena bumi istimewa, katanya lagi. Jika benar demikian, bangga sekali rasanya bisa tinggal di bumi yang istimewa, pikirku.
Suatu saat, kakiku tersandung sebuah batu yang terpendam separuh di tanah, lalu aku jatuh. Aku menangis kencang sampai ibuku bingung bagaimana cara membuatku diam.
“Gravitasi menyakitkan, jika kita jatuh di tempat yang salah.” kata ibu sambil mengelus-elus kepalaku yang mulai tenang.
***
Hari ini, gavitasi kembali mengantarkan hujan ke bumi, tepat dua puluh tahun setelah aku tahu apa itu ‘gravitasi’ dan bagaimana ia bekerja. Dan beberapa saat yang lalu, ada sebuah gravitasi yang sangat besar dan kuat. Aku jatuh, kali ini tanpa tangisan yang kencang.
Sekarang aku mengerti, bahwa bumi tak hanya punya satu gravitasi, tapi dua. Ia menjatuhkanku ke tanah suatu ketika, dan menjatuhanku pada yang lain.
Mungkin ini yang dikatakan oleh ibuku dulu. Bahwa jika aku telah jatuh di tempat yang benar, tidak akan terasa menyakitkan.
Kepada bumiku, akulah hujan yang tak pernah bosan jatuh ke arahmu.
Di derasnya hujan pagi hari
Yogyakarta, 2 Desember '16

Sudah menjadi fitrah manusia untuk condong dan mencari hal-hal yang membuat tentram hati dan hidupnya. Yang membedakan, kadang ada yang menjadi ketentramannya adalah hal-hal duniawi, ada pula yang ketentramannya berbau hal-hal setelah kehidupan di dunia yang fana ini. Maka, sudah pastilah setiap orang akan jatuh pada ‘gravitasi’ masing-masing. Apapun itu. Termasuk gravitasi yang membuat hati kita jatuh pada satu jalan ketentraman. Maka hari ini, jika hati kita belum jatuh pada gravitasi yang sama, janganlah saling menyakiti. Sekali lagi, tiap orang punya gravitasinya masing-masing. Mungkin kebetulan, ribuan mereka yang sedang berkumpul disana, 'jatuh' pada gravitasi yang sama J
Photo from @fandyaris's instagram

continue reading Gravitasi

statistics

Bukan pakar, mari sama-sama belajar. Pun bukan ahli, mari saling berbagi | Melangit dan Membumi

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact