Selasa, 30 April 2024

Tapi sehisteris-histerisnya aku dalam menyalahkanmu, aku juga merasa bersalah pada keadaan ini. Mengapa di kehidupan yang hanya sekali ini, aku gagal membuatmu bersyukur karena telah memilikiku.

Kata perempuan itu...
continue reading

Untukmu, Mona

Mungkin, belum ada yang mengatakan ini kepadamu.

Mungkin, kamu butuh menerima kalimat ini untuk menenangkan hatimu dari hidup yang tidak selalu menenangkan.


"Dengan kamu memilih untuk tetap berdiri setelah apa yang sudah kamu lalui, semua sudah lebih dari cukup. Kamu tidak pernah sendirian, kamu selalu punya Allah kan? Dan... Di dalam dirimu banyak bakteri baik yang akan selalu menemanimu kemanapun kamu pergi. Sudah ya? Jangan sedih lagi. Ayo peluk dirinya sendiri. Terimakasih"

continue reading Untukmu, Mona

Jumat, 20 Januari 2023

Minggu, 25 Desember 2022

Memanggil Cassini

Cassini, tidak peduli Saturnus telah hilang dari peredaranmu, ia yakin kau tetap berada disana memandang lamat-lamat ke arah Saturnus. Tetaplah disana, tetaplah memandang, tetaplah tahu mengenai Saturnus. Diam-diam, dia bahagia dengan itu, jauh di lubuk hatinya itu menjadi pelipur lara dari akibat partikel-partikel yang selalu menghantamnya dan menimbulkan luka makin lama makin menganga. 

continue reading Memanggil Cassini

Rabu, 01 Juni 2022

Jumat, 08 April 2022

Canada

Hai cita-cita!!!

Siang ini aku sangat rindu padamu. Beruntungnya, aku masih bisa menutup mata dan mengingat-ingat aromamu, semangatku dulu. Semoga, kamu tetap akan terwujud, ya!!! Tunggu aku berusaha lagi. Oke?! Aku hanya butuh mendapatkan waktu yang tepat untuk kembali meraihmu.

Cita-cita, terimakasih karena masih berada dalam hatiku. Tak peduli sekeras apapun keadaan mengubahku, kamu tetap berada di sana.

continue reading Canada

Selasa, 17 Agustus 2021

Untuk Diriku

Wahai diriku, terimakasih karena tetap kuat dan tetap jadi baik setelah semuanya yang sudah terjadi. Kamu hebat, kamu keren, aku ngefans sama kamu wkwkwkw. Diriku, janji ya... setelah ini harus hidup lebih bahagia lagi, bahagia terus, tidak peduli apa yang terjadi, kamu selalu punya Allah, Damai dan Danau yang selalu menemani 🤗



continue reading Untuk Diriku

Sabtu, 31 Juli 2021

Sekotak Sari Kacang Hijau

Merasa bahagia pada hal sederhana sungguh nikmat luar biasa rasanya. Seperti yang terjadi pada sekotak sari kacang hijau dan aku siang hari ini. 

Entah kenapa sari kacang hijau ini terasa lebih legit ketimbang biasanya. Sepertinya, karena tangan yang membawanya deh hehehe. Tangan suami sepulang kerja.

Entah sudah berapa lama, aku merasa tak mendapat perhatian dari siapapun, bahkan dari diriku sendiri pun tidak. Kasihan ya aku ini. Jadi, hal sesederhana ini sangat membuatku bahagia. Terimakasih.

continue reading Sekotak Sari Kacang Hijau

Senin, 26 Juli 2021

H-7

Setiap kepergian selalu memiliki alasan. Ada alasan yang kita ketahui, pun ada juga alasan yang tak perlu kita ketahui dari kepergian tersebut.

Menurutmu, siapa yang akan lebih menderita? yang meninggalkan atau yang ditinggalkan? Aku rasa, dua-duanya akan sedih bagi yang saling menyayangi dan ingin selalu mendekap tapi takdir tak bisa berderap mengabulkan hal itu.

Hmmm... aku adalah orang yang paling takut pada kata 'pergi', entah itu aku yang pergi, atau aku yang ditinggal pergi. Itu sebabnya aku tak pernah mau singgah pada apapun dan siapapun dulu. Aku terlalu cupu, takut patah dan mematahkan jika singgah lalu muncul kata pergi dalam cerita.

Tapi, berbeda halnya jika kata pergi hadir pada hubungan yang tak pernah bisa kita hindari untuk bersinggah, seperti hubungan orang tua dan anak.

Mendewasa, dan makin lekat dengan kata 'pergi' semaksimal apapun usahaku untuk menghindari, aku jadi sadar bahwa sepahit apapun perpisahan, toh nanti juga terbiasa. Sebab, lambat laun kita akan disibukkan dengan urusan masing-masing. Meski kesedihan itu ada, lama-lama kita akan lupa karena harus melanjutkan hidup. Sedih dan bahagia memang terus berganti menemani waktu kita, bukan?

continue reading H-7

Rabu, 30 Juni 2021

Ingatan itu selalu Menyiksa

"Ohh gitu"
"Eh..."
"Iya iya..."
"Paham sih"

Kalimat-kalimat itu saja yang bisa saya lontarkan ketika mendengar seseorang bercerita tentang rumah tangganya. Saya, tak sampai hati. Saya yang sesama wanita, ikut menangis bersamanya. Ahhh... kesalahannya sudah bercerita kepada saya.

Ketulusannya, dikhianati oleh pasangannya. Bukan, bukan... dia tak gampang bercerita kepada setiap orang, hanya saya. Itupun karena ada benang merah diantara kami yang menjadikan alasan dia menceritakannya kepada saya.

"Dia selalu minta maaf padaku. Tapi tiap kali aku sudah memaafkannya, Allah menunjukkan kembali kesalahan yang sama darinya walau sudah berusaha ia tutupi dariku. Porak poranda lagi hatiku" dia terisak-isak.
"Dia kira, aku sudah 'selesai' hanya dengan memaafkannya, padahal dia tidak tahu bahwa memaafkan bukan sepenuhnya lupa akan luka itu. Aku sekuat tenaga untuk sembuh... sekuat tenaga sampai rasanya hampir gila. Aku melanjutkan pernikahanku, tapi aku tersiksa dengan ingatanku sendiri. Ingatan akan kesalahannya yang sering melintas di benakku ketika melihat wajahnya. Ehhh belum beres aku berusaha, dia sudah melakukan kesalahan yang sama." lanjutnya.

"Mon, aku harus bagaimana?"
continue reading Ingatan itu selalu Menyiksa

Selasa, 01 Juni 2021

Kamis, 27 Mei 2021

Untuk Suami dari Putriku

Nak, entah kita sempat bertemu atau tidak kelak, tapi ketahuilah bahwa ada yang ingin aku katakan padamu. Aku sungguh menyayangimu tak ubahnya anak kandungku sendiri. Terimakasih karena telah dengan gagah datang mengambil tanggung jawab besar untuk menikahi dan menerima putriku sebagai istrimu. Aku selalu mendoakan dan yakin bahwa engkau adalah lelaki yang sholih.


Nak, hendak kuceritakan sebuah rahasia... mau kah kau mendengarnya?

Tahukah nak? Ketika wanita menikah, ia mengorbankan banyak hal dari dirinya demi membersamaimu. Ia memiliki rumah masa kecil yang penuh cerita, tempat ia dibesarkan dengan kasih sayang oleh orang tuanya, dan ia meninggalkannya demi tinggal denganmu.

Ia memiliki orang tua yang sangat mencintainya, yang merawatnya ketika ia sakit dan terjatuh, yang mendidiknya penuh keringat dan air mata untuk menjadikan ia wanita shalihah seperti sekarang, yang membiayai sekolahnya hingga berpendidikan tinggi, dengan tiba-tiba harus ia tinggalkan untuk tinggal bersamamu. Jangan sakiti ia, tolong jangan kecewakan orang tuanya, karena aku tau betapa hancurnya hati orang tua jika mengetahui anaknya disakiti oleh orang lain. Berikan ia kesempatan untuk berbakti dan mengunjungi orang tuanya. Meskipun dirimulah surganya saat ini.

Nak, dahulu ia memiliki lingkungan dan teman-teman baik yang menyayanginya, yang menghibur di kala ia sedih, yang mengajaknya rutin mengaji dan berdakwah serta mengajak kebaikan. Saat ia sudah menikah denganmu, mungkin ia sudah jarang kontak, hidupnya mulai diliputi kesepian, berusahalah menjadi teman pengganti yang baik baginya. Saling menjagalah kalian dalam kebaikan dan keistiqomahan amal. Jangan sampai ia menjadi melemah imannya ketika menikah denganmu. Menguatlah bersama.

Ketika setelah menikah ia hamil dan melahirkan, tubuhnya mungkin tak seindah dulu. Besarkanlah hatinya dan tetap cintai ia apa adanya. Ia mempertaruhkan nyawanya demi melahirkan anakmu, keturunanmu, cucuku.

Setiap wanita selalu memiliki kekurangan Nak.. Dirimu pun tak selalu ada di kondisi iman dan emosi terbaik. Berpikirlah seribu kali ketika dirimu hendak memarahi dan menyakitinya. Bayangkan dirimu ada di posisinya, aku mengenal putriku, aku yakin ia sudah berusaha, tapi sudah sunnatullah bahwa tak ada istri yang sempurna. Selalulah mendekat dan meminta pada Allah untuk mencari jalan keluar dari masalah yang kalian hadapi.

Nak.. Ada atau tiadanya aku saat kalian menikah nanti, ketahuilah bahwa aku sangat mencintaimu. Bahkan sebelum kau muncul. Semoga rumah tangga kalian diliputi sakinah mawaddah warahmah sampai ke jannahNya.

Nasehat ini juga berlaku dan kuajarkan sedari kecil kepada putriku Nak.

Nak, aku titip putriku, ya. Tolong jangan sakiti dan kecewakan ia. Terimakasih Nak 🙂

continue reading Untuk Suami dari Putriku

Minggu, 16 Mei 2021

Semua Titipan Allah

Allah, layaknya apa yang Kau lekatkan pada tubuhku, begitu pula dengan apa yang Kau berikan pada hidupku bukan? Kenyaman hidup, rumah untuk bernaung, suami dan anak yang kusayangi..  semua hanya titipanMu bukan?

.

Tugasku merawatnya dan menjaganya kan? Memuarakan semua syukur dan penjagaan serta perawatanku sebagai sarana bekal mengumpulkan pahala menuju dan mendekatiMu.

.

Salah bila aku menyayangi semuanya dengan dasar si titipan itu sendiri kan?

.

Allah aku akan menjaga semuanya sekuat tenagaku, tak akan menyerah sama sekali karena menyerah bukanlah jalan ninjaku. Tapi Allah, mohon lembutkan  hatiku untuk selalu memuarakan cinta kepadaMu, ingatkan diriku selalu bahwa mereka semua adalah titipanMu, hingga aku mampu menjadi sebaik-baik perpanjangan tanganMu untuk menjaga dan merawat mereka semua. Jauhkan aku dari rasa khawatir dan kecewa akan kehilangan mereka karena semua adalah milikMu. Aamiin

continue reading Semua Titipan Allah

Untuk Cita-Citaku Yang Tak Pernah Jadi Nyata

Kalau diingat-ingat, aku dulu begitu yakin dan percaya akan menujumu saat sudah dewasa. Tapi, hidup membuka dirinya, dan kini aku menjalani rute yang sama sekali berbeda. Bertahun-tahun aku berusaha rela, dan meyakinkan diri bahwa aku baik-baik saja. Kuharap suatu hari nanti aku paham sepenuhnya: bahwa tidak mencapaimu juga tak apa-apa.


"Apa idealnya yang harus seseorang miliki di usianya yang ke sekian sekian?" menurutku... pemahaman dan keikhlasan bahwa tidak mencapai yang semua orang bilang ideal juga tak apa-apa ehehehe
continue reading Untuk Cita-Citaku Yang Tak Pernah Jadi Nyata

Jumat, 25 Desember 2020

Sabtu, 24 Oktober 2020

Setiap malam, aku selalu merasakan banyak gumpalan awan di kotak pikiranku. Mataku berat, tapi seolah tak bisa terpejam sedikit saja karena sesak dimana-mana. Angin yang membawa gumpalan awan-awan ini tak tentu kapan datangnya, jadi kadang aku harus bertahan cukup lama untuk merasakan ketidaknyamanan ini.

Aku juga kadang merasa dunia ini sangat sepi, namun... tiap melihatnya tertawa hingga matanya nampak segaris saja, tawaku ikut menyembul bersamanya. Mendadak, dunia jadi begitu ramai bagiku. Aku bersyukur Tuhan masih memberiku dia, alasanku untuk tertawa.

Ah... kita cuma butuh percaya saja bukan? percaya akan ada bahagia di ujung jalan sana. Tidak peduli seberat apapun jalannya, jika kita percaya, maka perjalanan ini akan terasa ringan, bukan begitu?

Aku... masih berusaha. Berusaha apa saja...

Apakah, aku ini bahagia?


continue reading

Kamis, 15 Oktober 2020

Senin, 05 Oktober 2020

Selasa, 15 September 2020

Hujan dan Petrichor

Di tempatku hari ini tidak hujan. Bagaimana di tempatmu? Kulihat dari beberapa unggahan teman, di kota mereka sudah hujan.


Apa yang kau rindukan dari hujan? Ah! sejuknya ya?! Sama! Aku juga 😁


Tapi, yang lebih ku rindukan dari hujan adalah, aku bisa berdiam di rumah. Tidak perlu keluar dan bertemu orang karena alasan basah. Aku bisa leluasa berbaring di kasurku dan menghadap tembok sambil mengobrol dengan diriku sendiri. Sesekali aku hirup nafas dalam-dalam, merasakan petrichor menembus rumahku dan sampai di hidungku.


Orang bilang aku ekstrovert. Oh ya? Yang kutahu, semua orang suka berbicara menurut apa yang mereka lihat, ya... orang memang bisa melihat halaman rumah kita dan membicarakannya, tapi yang tahu isi dalam rumah kita kan kita sendiri. Mereka tak tahu, kecuali kita mengizinkan mereka untuk masuk. Jadi, tak masalah mereka mau berkata apa. Yang tahu, ya aku sendiri...

dan orang-orang yang ku izinkan masuk ke dalam menengok isi rumahku.

continue reading Hujan dan Petrichor

Selasa, 01 September 2020

Agenda

Untuk seseorang yang nanti kulihat kali pertama saat membuka mata. 
Seseorang yang setiap hari akan mendengarkan suara berisikku. 
Seseorang yang tahan dengan omelan karena aku tak suka melihat handuk diletakkan sembarangan — berantakan.

Aku selalu suka menuliskan ini dan cerita kita nanti.

Aku menyukai pagi hari, menyiapkan sarapan sambil bertanya, "Kamu mau dibikinin apa? Nasi goreng atau roti saja?"

Saat malam, aku akan membantumu menyiapkan baju mana yang akan kamu pakai untuk kerja keesokan harinya.

Dan ini, aku selalu suka saat akhir pekan tiba.
Kita di rumah saja, ya. Menonton televisi. Ah! atau  keluar juga boleh, kita ke toko buku membeli tambahan buku untuk mengisi rak-rak buku kita.

Bagaimana kalau kita membuat pisang goreng? Aku akan menggorengnya dan kamu yang membuat adonannya.

Sebelum hari semakin siang, kita akan membersihkan tempat tinggal kita berdua. Kita berbagi tugas, kamu mencabut rumput liar di luar dan membersihkan halaman, sementara aku membersihkan bagian dalamnya.

Lalu apalagi? Oh iya!

Bukankah sudah waktunya mencuci motor yang kamu pakai sehari-hari? Sini, aku temani.

Aku senang menemanimu sambil mendengarkan kamu bercerita ada busi, aki dan oli yang harus diganti bulan ini.
Aku yang tak tahu apa-apa hanya bisa tertawa sambil berkata, "Ya diganti saja."

Mungkin kita akan berbeda pendapat sesekali. Kamu begitu keras kepala, agaknya aku yang memang harus banyak mengalah, tapi tak apa. Karena tak ada kehidupan yang sempurna.

Jika aku terlalu sering marah, tegurlah dengan kasih dan ramah.
Aku akan berubah menjadi lebih baik lagi. Sini, kait kelingking. Aku janji.

Satu sama lain kita akan belajar saling memantaskan diri.

Sebab aku ingin menjadi rumah, tempatmu mengarahkan tujuan.
Aku ingin menjadi rumah tempatmu kembali pulang, bukan sekadar tempat singgah saat kamu merasa lelah.

Aku ingin menjadi rumah yang bahagia, sebab di sanalah kita dan kisah-kisah indah lainnya.




-2018-

continue reading Agenda

statistics

Bukan pakar, mari sama-sama belajar. Pun bukan ahli, mari saling berbagi | Melangit dan Membumi

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact