Minggu, 16 Oktober 2016

Tanggung Jawab dong, Boss

Sebab media telah menjadi kiblat gaya hidup, sontak segala sajiannya menjelma konsumsi masyarakat yang kemudian begitu tangguh memengaruhi gaya hidup. Termasuk dalam hal jalan-jalan. Sebutlah sebuah acara televisi yang isinya adventure gitu yang muncul di tengah menjamurnya acara epleketek ala remaja-remaja lebay–alay dalam sinetron-sinetron percintaan aduhai yang skripnya sama sekali tak layak diterbitkan.
Acara ini gemilang menularkan virus jalan-jalan, bahkan fan base-nya tersebar di berbagai kota. Kausnya? Jangan tanya lagi, bahkan tukang ojek di pasar hingga tukang tambal pun memakainya dengan bangga.
Oke, tulisan ini tidak hendak membahas kaus acara TV tersebut—yang entah karena pertimbangan apa kemudian juga disisipkan logo National Geographic—melainkan tentang tren jalan-jalan, khususnya di kalangan anak muda. Ini jelas berita bagus, mengingat para pemuda memang seyogianya bertualang, melihat dunia luar, membuka jiwa dan pikiran, agar tak menjadi katak dalam tempurung atau lalat dalam stoples *plakkk*. Tak usah cemas, sebuah negara tidak akan kekurangan sosok pemimpin jika generasi mudanya sering bertualang ke hutan, gunung, dan lautan, demikian kata Henry Dunant (dan saya hehehehe).
Sayangnya, pada sebagian kasus, banyak pemuda baik yang terjangkiti virus jalan-jalan dan bertualang justru menyumbang kerusakan lingkungan. Andai Henry Dunant masih hidup, ia mungkin akan meralat fatwanya.
Terlalu banyak pejalan dan petualang yang bermasa bodoh pada sampah-sampahnya. Adanya tempat-tempat sampah, plus tulisan dilarang membuang sampah sembarangan, hanya dianggap aksesori. Celaka lagi bila seseorang sampai tega berkata, “Kita masuk ke sini bayar, kok, ngapain harus susah-susah bawa sampah, nanti juga ada petugas yang membersihkan. Buang sampah bukan urusan gue, dong!”
Ini belum termasuk perilaku orang-orang yang dengan santainya membuang sampah ke jalanan sambil menyetir motor atau mobil. Mencari adegan demikian sungguhlah jauh lebih mudah ketimbang mencari jodoh(?). Dalam sebuah perjalanan Jogja–Salatiga, beberapa anak muda berboncengan motor dan membawa carrier berukuran enam puluh liter, lengkap dengan matras dan sepatu tracking, yang dapat dipastikan hendak naik gunung, secara mengejutkan melempar seplastik sampah ke pinggir jalan. Ya Tuhan, jika di jalan raya saja bisa seenak udelnya begitu, apalagi di gunung? Dogma jangan meninggalkan sesuatu selain jejak hanya omong kosong bagi mereka, karena mereka pun meninggalkan sampah. *ini omelan orang yang sedang iri karena lihat orang lain mau naik gunung. Hmnyehhh*
Lebih mengerikan lagi jika sampah yang mereka tinggalkan adalah puntung rokok yang belum sepenuhnya mati. Puntung rokok berserakan di antara rerumputan bersama sisa api unggun di sekitar camping ground. Kalau saya nemu orangnya, saya jejalkan putung rokok itu ke mulutnya -__- lumayan, bisa menghangatkan perut. Ye kan?
Meski bukan satu-satunya penyebab, bagaimanapun, puntung rokok dan api unggun yang tak tuntas mati sangat berpotensi memicu kebakaran hutan. Kita tak bisa pura-pura amnesia pada penyebab kebakaran di Gunung Lawu dan Semeru beberapa waktu lalu yang ditengarai akibat api unggun.
Belum lagi masalah lingkungan yang dipantik urusan cinta dan romantisme. Tebak apa? Tak lain para pendaki-petualang yang memetik edelweis untuk sang kekasih *ini hal bodoh banget menurut saya*. Lagi-lagi, ungkapan jangan mengambil sesuatu selain gambar hanya isapan jempol. Saya teringat perjalanan pulang ke Jogja dari Solo dengan bus. Ada seorang mas-mas yang baru turun dari Gunung Merbabu. Kami sempat ngobrol selama di bus, lalu sejenak ia mengeluarkan kresek hitam berisi edelweis yang masih segar, kemudian memotretnya. Mungkin ia mengirim foto edelweis itu kepada kekasihnya dengan caption romantis bahwa edelweis adalah bunga abadi yang melambangkan keabadian cintanya. Edelweis itu ilegal untuk dibawa turun gunung cenah salah seorang adek saya. Kalau saya jadi perempuan yang dikirimin macem begituan, saya suruh si mas mas itu naik ke atas gunung lagi, balikin bunganya sampe nempel lagi di batang tanamannya, kalau engga bisa nempel lagi, jangan turun!!! Yahh tapi sayangnya saya tidak pernah dapat kiriman-kiriman yang macem begitu sih. Untung...
Halah, Le, gombal! Jika menjaga lingkungan saja tidak bisa, bagaimana mungkin kuasa menjaga cinta, menjaga hati kekasihnya? *hasseeggg* Saya akhirnya berkata ke mas tersebut, jika ingin menunjukkan cinta kepada sang kekasih, akan lebih manis bila mengajak kekasihnya melihat langsung pesona edelweis, bukan membawa turun edelweis, jangan jadi bodoh dong mas :) *sambil membubuhkan senyum bidadari di akhir kalimat saya. Teteupp itu mah, biar nggak kena tonjok. Kan nggak lucu, turun dari bus bonyok-bonyok.*
Tak beda jauh dengan gunung, nasib pantai dan objek wisata lainnya senasab saja. Pantai yang dulu sepi kini mulai dieksplor atas nama petualangan, jelajah alam, tadabbur alam, atau istilah agung lain. Sayang, tak semua orang punya kasadaran untuk tak meninggalkan sampah. Kesadaran berwisata tak diimbangi kesadaran menjaga. Semangat bertualang tak dikawani semangat mencintai alam.
Para ABG dan mahmud abas (mamah muda anak baru satu) bersaing mencurahkan esksitensi di hadapan kamera. Pasukan tongsis merajalela. Dengan semangat mengutamakan moncong monyong artistik pragmatik—meminjam istilah Prie GS—di depan kamera untuk kemudian memamerkannya di media sosial, tanpa merasa durja menginjak-injak tempat yang sudah di label batas aman.
Jika demikian adanya, masih relevankah fatwa Henry Dunant itu? Bagaimana mungkin pemuda yang tak bisa bertanggung jawab pada sekadar sampahnya kelak dijadikan pemimpin? Bagaimana mungkin pemuda yang tak bisa menjaga lingkungan sahih dipercaya menjaga negeri ini?
Segala sesuatu memang haruslah dimulai dari hal kecil, salah satunya dengan cara bertanggung jawab tidak membuang sampah sesukanya. Sesuatu yang makin (sengaja) dilupakan.
Dari sudut filosofi Jawa, dikenal istilah sedulur tunggal dino kelahiran untuk menyebut segala sesuatu, baik tumbuh-tumbuhan maupun binatang, yang lahir bersamaan dengan kelahiran seorang manusia. Jika setiap orang berpegang pada filosofi ini, niscaya mereka akan seturut dalam menghargai dan menjaga alam demi menyayangi sedulurnya yang lahir di hari yang sama.
Tapi, itu “sekadar” filosofi. Munculnya “anak gaul” yang hobi traveling, bertualang, mengaku pencinta alam, justru lebih sering merusak alam. Saking meluasnya jarahan kelompok ini, di media sosial bahkan beredar luas “komik strip” untuk tidak mengunggah foto tempat wisata agar tidak dirusak mereka. Pada derajat ini, traveling yang seharusnya mampu mengayakan batin dan pikiran, menisbatkan kebijakan dan kedewasaan, sebagai pengalaman berharga yang bahkan tak didapat di bangku sekolah, menjadi sangat sering ambigu. Dalam celoteh Edi AH Iyubenu, traveling yang tidak mendonorkan makna apa pun pada pikiran dan batin hanya akan menyisakan kerugian material, waktu, dan energi. Ini sih alasan saya tiap bepergian ataupun mengunjungi suatu tempat yang pernah punya banyak kenangan buat saya dulu, selalu saya simpan seluruh gadget saya. Saya hanya ingin menjadi lebih bijak dan dewasa dengan hal tersebut, memaknai perjalanan saya untuk menambah kekayaan batin dan pikiran. Thats point!!!
Lepas dari nilai idealitas traveling sebagai urusan tiap pribadi yang niscaya takkan pernah sejamaah, seyogianya para traveler berkomitmen kuat untuk selalu menjaga alam dan seisinya. Sebab alam seisinya adalah titipan anak-cucu kita dari masa depan. Soal seorang traveler berhasil meraih sesuatu yang memperkaya batin, keberuntungan itu adalah miliknya. Bilapun tidak, cukuplah kerugian materi, waktu, dan energi itu menjadi tanggungan pribadinya.


continue reading Tanggung Jawab dong, Boss

Sabtu, 15 Oktober 2016

Penggandaan

Biarkan kesedihan itu berlalu. Sebaiknya jangan menggandakannya dengan mengingat-ingat selalu, menulis status, atau memutar lagu sendu terus menerus. Itu hanya akan membuat kesedihan yang semula kecil menjadi dalam, dan yang sebelumnya hanya mengambang di permukaan, jadi tertancap kuat ke dasar.


Gandakan saja kebahagiaan. Bukankah itu yang sering kita cari dan inginkan?


***

Nuhun pisan ih buat seorang teman, si Aa. Atas inspirasinya soal 'penggandaan' ieu teh.

Hayuuu, da anjeun mah pilih menggandakan apa kitu???




continue reading Penggandaan

Rabu, 12 Oktober 2016

Amah, mau tahu ciri-ciri rezeki yang berkah atau tidak?
Seperti ini, mungkin iya kamu punya sekotak penuh bross cantik dan lucu, tapi ternyata yang sering kamu sematkan pada jilbabmu adalah jarum pentul, bross sekotak itu nganggur. Bisa jadi bross itu tidak termasuk dalam berkah rezekimu, walaupun kamu memilikinya. Karena yang berkah, ada pada apa-apa yang menyertaimu untuk berjalan mendekati Allah.
continue reading

Selasa, 11 Oktober 2016

Ada Indah di Setiap Pindah

Waktu adalah hal yang bisa menyapu dan mengantar segalanya. Baik kenangan, maupun perasaan. Baik hal-hal buruk, maupun hal-hal baik. Baik awal, maupun kesudahan.

Hanya saja, tak banyak manusia yang mau merelakan sedikit detik lebih lama untuk berproses, untuk berani melangkahi sesuatu yang teramat dicintai. Untuk pindah dari satu pijakan ke pijakan lain yang terasa begitu asing - tapi sesungguhnya adalah rumah yang seharusnya.

Karena dalam hidup ini, manusia selalu butuh berpindah. Pindah dari hal-hal yang salah, pindah dari perasaan-perasaan yang keliru. Namun, untuk melakukannya diperlukan keteguhan, dan manusia terlalu tidak sabaran menjalaninya; terlalu tidak berani memilihnya.


continue reading Ada Indah di Setiap Pindah

Senin, 10 Oktober 2016

Staying Focused

Salah satu alasan kenapa banyak orang yang tidak bisa meraih tujuan karena kurang bisa menjaga fokus. Diakui atau tidak, disadari atau tidak, fokus sangat penting untuk mencapai tujuan dan untuk mendapatkan hasil sebaik mungkin. Dengan fokus, kita bisa menyatukan energi yang berserak hanya terarah ke satu titik sehingga akan menghasilkan energi yang lebih dahsyat.
Emmm analoginya seperti kaca pembesar, yang bisa menjadikan sinar matahari yang hangat menjadi sangat panas dan mampu membakar benda yang disinarinya. Karena apa? Ya karena sinarnya difokuskan menggunakan kaca pembesar itu tadi.
Tapi tapi tapiiii... nggak tau apa cuma saya saja yang merasakan ini, bahwa menjaga fokus ini tidak mudah *nangis di bawah shower kamar mandi*. Untuk meraih tujuan, apalagi tujuan besar, kita (terutama saya) perlu kesabaran yang zuperr karena mungkin memerlukan waktu yang lama untuk mencapai tujuan tersebut. Selama proses mencapai tujuan, tidak jarang banyak hantu yang terkutuk(?) akan mengganggu dan membuyarkan fokus kita. Jika kita tidak bisa menjaga fokus, maka tercapainya tujuan akan lebih lama bahkan gagal.
Setelah analogi kaca pembesar di atas, mari kita membahas mengenai kaca mata kuda. Kamu mau pakai kaca mata kuda? *palelumon!*. Oke, menurut penuturan mamang-mamang per-kuda-an Indonesia yang tidak perlu lagi diragukan kehebatannya, salah satu tujuan kaca mata kuda adalah agar kuda fokus ke depan. Namun, yang dimaksud menjaga fokus disini bukan berarti kita akan memakai “kaca mata kuda” sehingga tidak bisa melihat yang lain. Cara fokus seperti ini bahaya sih hehe. Persis seperti seorang seniman yang hanya melihat seni. Dia tidak bisa melihat yang lainnya seperti aturan agama dan dampak sosial dari hasil karya seninya. Atau saya, yang hanya fokus pada tempe kemul tanpa melihat mau dikemuli pakai selimut siapa. Hiks.
Yang dimaksud fokus dalam meraih tujuan bukan berarti kita tidak melihat aspek kehidupan lainnya. Misalnya, saat saya memiliki tujuan mendapatkan resort di Hawai(?), bukan berarti hanya memikirkan resort itu saja, sementara aspek kehidupan lainnya tidak. Ayolahh jangan jadi sepicik ini.
Untuk menghindari memakai kaca mata kuda, maka kita (terutama saya) harus memahami konsep komitmen. Menjaga fokus yang benar adalah adanya komitmen untuk mencapai tujuan. Komitmen adalah keterlibatan diri dalam mencapai tujuan dalam waktu yang tetap atau bertambah dan dilakukan secara konsisten *kedengaran keren ya bahasa saya(?)* *rapi-rapi jilbab*. Jika tujuan (saya) mendapatkan resort di Hawai, maka saya pikir saya perlu memiliki komitmen untuk mendapatkan resort tersebut, artinya ada satu waktu khusus setiap harinya atau setiap minggunya untuk mendapatkan resort tersebut. Ibarat kata, langkah dan setiap kerja-kerja kita sekiranya dapat membawa kita pada goal tersebut. Inilah yang disebut fokus. Bukan berarti melupakan yang lain.
Oke.. masalah berikutnya datang. Kita (terutama saya) akan kehilangan komitmen jika kita lupa dengan tujuan kita. Dengan berbagai kesibukan dan kewajiban yang harus kita lakukan setiap hari, kadang kita terlupakan untuk berusaha mencapai tujuan yang sudah ditetapkan (seperti saya. ampuni hamba ya Allah. Hiks). Jadi, harus ada pengingat bahwa kita on going mencapai tujuan tertentu. Nah kalau sudah seperti ini, saya biasanya keep in touch nih sama orang-orang yang punya goal sama dengan saya. Karena kadang melihat semangat orang lain itu bisa mengingatkan kita akan tujuan-tujuan kita. Saya juga melakukan ini... yang pernah ke kamar saya pasti tidak menemukan space kosong di tembok kamar, karena diisi dengan tempelan-tempelan (freak) yang menambah estetika kamar saya menjadi trigger untuk seseorang mual *saking nggak indahnya*. Tempelan-tempelan itu berisi goal jangka pendek dan jangka panjang saya. What to do next year? 2 till 5 years, and so on. Bacaaa terus, pantengiin terus. Maka saya menaruh tempelan-tempelan itu di tembok bagian kaki saat saya tidur, jadi pas saya bangun tidur, yang dilihat pertama kali adalah tempelan-tempelan itu. Its crazy, isn’t it? Mending mah liatin kamu ya *lhoh!*. Atau ini, saya meminta Ibu saya untuk menjadi alarm gretongan bagi saya. Di setiap percakapan atau pesan, selalu di mention tentang tujuan-tujuan saya. Berhasil kah metode-metode itu? Hehe, kadang sih. Banyakan engga *tampar*. Its okay, tiap orang punya metode masing-masing. Find your  own method too, folks!!!
Tidak dipungkiri, bahwa kadang kita merasa sudah sangat amat berupaya tapi tidak kunjung mencapai tujuan kita. Kecewa? Hehe jangan ya... Its okay, this is we called ‘Shabr’, Bro Sist. Let God do the rest after we do our best. I believe it :)

Okeh, selamat berjuang evri’badi!!!

continue reading Staying Focused

Sabtu, 08 Oktober 2016

Tepat Ber-Mahabbah

"Masih adakah orang lain setelah Khadijah?“


Karena rasa cinta yang begitu kuat pada wanita terhormat itulah, Muhammad bin Abdullah, Rasulullah kekasih Allah, merasakan kesedihan teramat ketika Khadijah wafat. Beliau tidak pernah dapat melupakan istri Beliau ini walaupun Khadijah telah meninggal.

Sampai ketika ‘Aisyah cemburu pada Khadijah karena Rasulullah sering menyebut namanya

“Demi Allah! Ia tidak memberikan ganti untukku yang lebih baik darinya. Khadijah telah beriman kepadaku ketika orang-orang masih kufur, ia membenarkanku ketika orang-orang mendustakanku, ia memberikan hartanya kepadaku ketika manusia lain tidak mau memberiku, dan Allah memberikan kepadaku anak darinya dan tidak memberiku anak dari yang lain.”

****

Pun ketika Ali bin Abi Thalib menemui Rasulullah dengan maksud melamar putrinya, Fatimah binti Muhammad, dengan ucapan yang halus, namun mendalam sebagaimana perasaan yang lama ia pendam, katanya, “aku terkenang pada Fatimah binti Rasulullah.” Maka Rasulullah pun menjawab, “Ahlan wa Sahlan!”

Kiranya Rasulullah tahu bahwa Ali dan Fatimah adalah kawan karib semasa kecil, dan keadaan ini berpotensi untuk menumbuhkan rasa cinta diantara dua muda-mudi ini. Benar saja, keduanya saling mencintai, maka berkata Fatimah kepada Ali, “Aku pernah satu kali merasakan jatuh cinta pada seorang pemuda.” Dan tentu saja ia adalah Ali bin Abi Thalib.

****

Cinta menjadi kuat karena mereka saling mencintai. Cinta menjadi kuat karena si Pecinta menjaga cintanya serupa rahmat yang Allah limpahkan kepadanya.

Meniti jalan cinta, membangun sebuah negeri impian dimana kita menjadi ratu dan rajanya. Mendirikan sebuah negeri penuh berkah, karena pada puncaknya, negeri kecil itu mulia, dimana tujuannya adalah Allah, teladannya adalah Muhammad saw, dan perundang-undangannya adalah Alquran. Itulah negeri orang-orang yang bermahabbah, saling mencintai, karena Allah semata.

***

Lalu saya mendengar kisah mengenai -sebut saja- Fulan dan Fulanah. Cerita yang akan saya ceritakan ini saya dapatkan dari si Fulanah.

"Beliau selalu bilang 'Mungkin kamu sedang khilaf ketika mengizinkan saya untuk menemui walimu', haha." Kata Fulanah menirukan ucapan Fulan, sambil tertawa kecil.

"Mengapa beliau sampai bicara begitu?" Tanya saya.

"Karena beliau tahu dan mendapati, banyak yang menawarkan diri membersamai saya sebelum beliau datang. Mungkin beliau berpikir, 'Kenapa tidak memilih yang itu padahal ada kesempatan memilih yang itu(?)'" Jawab Fulanah sambil menatap saya.

"Iya, saya pun berpikir seperti beliau. Kenapa?" Tanya saya lagi.

"Mmm.. kala itu, entah seberapa banyak yang datang, entah seberapa berkilaunya masa depan yang ditawarkan mereka kepada saya, tapi kok saya rasanya memang belum 'peduli' untuk memikirkan perjalanan yang mereka tawarkan ya. Ah sebenarnya pun, ketika awal beliau datang, saya pun masih belum 'peduli' juga. Tapi mungkin ini kuasa Allah, yang membukakan hati saya mungkin ya. Jadi keadaan menjadi tiba-tiba berbalik, yang awalnya tidak 'peduli' eh jadi peduli, saya tertuju pada beliau. Kalau beliau tanya 'Kenapa saat sudah punya 'kepedulian' tidak mencoba menengok yang di belakang?'
Haha saya tertawa lagi. Lucu ya beliau, lha wong kepeduliannya datang UNTUK beliau kok. Suatu hal yang khusus pada objeknya, bukan pada variabel waktu terjadinya. Ya mungkin kalau yang datang bukan beliau, mungkin ceritanya akan beda lagi. Mungkin saya masih jadi 'tidak peduli'(?) Wallahu'alam.
Jangan tanya alasannya apa (selain 4 tuntunan yang dianjurkan kepada kita ketika memilih seorang pasangan), kenapa akhirnya saya memutuskan tertuju pada beliau karena saya juga tidak tahu hehe. Ya rasanya pas saja. Tapi bingung mendefinisikan pas nya itu bagaimana.
Nah hal yang berbeda terjadi pada beliau, sebelum-sebelumnya jalan restu orang tuanya masih terkunci saat beliau memiliki niat baik, tapi saat-saat dimana beliau tertuju pada saya, kunci restu itu terbuka dengan mudahnya. Saya balik tanya 'Lha kenapa saat jalan restu sudah terbuka, tidak menengok yang di belakang?' Lalu beliau balik menertawakan saya dan menjawab 'Ya kamu ini juga lucu. Lha wong kunci restunya terbuka SAAT kamu yang saya tuju kok. Mungkin, walaupun sekarang minta restunya, tapi kalau yang dituju misalnya bukan kamu, mungkin ceritanya juga bakal beda sama yang sekarang ini. Wallahu'alam.' Saya mendengarkan beliau sambil mikir sih sebenarnya waktu itu." Fulanah bercerita panjang sekali.

"Oh... hehe. Menurut saya, kalian sama-sama lucu." Jawab saya.


Setelah saya mendengar cerita dari Fulanah mengenai ia dan Fulan. Saya jadi berpikir... ini mungkin ya, yang namanya 'jodoh itu kuasa Allah'. Entah seperti apa perjalanan sebelumnya, kuasanya tetap di Allah yang bertugas mempersatukan. Jadi membuat jalan-jalan yang dilalui rasanya 'lucu' kalau diingat kembali. Bawaannya semua 'pas' aja. 

Karena pada akhirnya, cinta akan bertemu pada sesuatu yang tepat. Kualitas yang tepat, waktu yang tepat, dan tentu pada orang yang tepat.

Cinta pun supaya terus terjaga dan tumbuh menjadi lebih indah maka harus dipupuk terus dalam doa, dalam ibadah yang tak henti-henti, dalam ujian yang terlewati, dalam pengertian untuk saling memahami, dalam pelajaran yang menumbuhkan karakter diri, dan niat yang murni karena Allah: Membangun cinta sehidup sesurga.


Kepada siapapun, insya Allah ada  saatnya sahabat semua mendapat amanah, mendapat seseorang dari Allah untuk membangun cinta dalam ikhlas... Semoga :)





continue reading Tepat Ber-Mahabbah

Jumat, 07 Oktober 2016

Untuk Nona Penggembala Sapi

jika keinginan untuk memperbaiki yang tak tampak dinilai sebagai usaha menyia-nyiakan usia semata, jika kekuatan tekad untuk menjadi insan yang berpaling dari kebisingan dunia disinggung sebagai bibit kehancuran norma hidup di muka bumi.

jika mereka-mereka yang dipuja-puja karena jumlah mereka banyak, sementara yang bertahan untuk tak mengejar dunia tinggal satu dua tiga kepala. jika mereka-mereka yang dikagum-kagumi karena jasa mereka membuat dunia semakin dicintai..

bila jiwa-jiwa yang mengajarkan kebaikan disepelekan, dikucilkan, bahkan dipandang sebagai virus-virus yang mematikan zona nyaman mereka, milyaran jiwa lainnya hidup dengan jiwa orang lain, pandai memoles diri, dan membohongi diri….

sebenarnya, hidup macam apa yang ingin mereka dan kami cipta?


Untuk adikku, Nona Penggembala Sapi... Tak mengapa kau tak mengerti tulisan ini sekarang. Pelan-pelan saja memahaminya. 
Lelah ya? Aaaa iya, pasti lelah sekali ya, Sayang. Karena surga memang didapat tidak dengan cara bermudah-mudah.
Se-berisik apapun duniamu sekarang, tetaplah menjadi suci. Sebab segala yang terpuji akan tetap terpuji meski dicaci atau hidup tanpa dipuji, dan yang tercela akan tetap tercela meskipun melimpah harta dan kuasa.
Selamat mendewasa (sebelum waktunya lagi), Sayang :)
continue reading Untuk Nona Penggembala Sapi

statistics

Bukan pakar, mari sama-sama belajar. Pun bukan ahli, mari saling berbagi | Melangit dan Membumi

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact