Senin, 04 Agustus 2014
Sabtu, 26 Juli 2014
UJIAN ITU BERTINGKAT
![]() |
| CV yang dipakai apply |
Assalamu’alaikum
warahmatullah….
Alhamdulillah yah masih
diberi kelancaran dan dimampukan oleh Allah di ramadhan hari ke 28 ini…
Cerita
yang saya tulis ini sebenarnya belum lama saya alami kejadiannya, masih di
bulan ramadhan ini kok…
“Hidup
itu layaknya kita di sekolah. Kalau mau naik kelas, ya harus melalui ujian dari
guru dulu. Bedanya sama kehidupan, untuk naik tingkatan iman, dikasih ujian lah
sama Allah”
Salah satu mimpi di
kertas mimpi saya itu jadi penyiar radio waktu kuliah… hahaha (efek gak
diturutin belajar ilmu komunikasi nih). Nah, beberapa hari lalu pas dengerin
radio, ada tuh lowongan buat penyiar di salah satu station radio. Saya pikir, why should I procrastinate? …. Akhirnya, datang tuh sambil bawa CV. Ngrapiin jilbab warna
coklat yang menjuntai di dada dan sesekali curi-curi pandang lihat kaca di
ruangan (duileehhh dasar gadis haha). Tarurumpummmm…its time for ngobrol
langsung sama managernya nih wuuhuuu…
Udah
cukup ya latar belakangnya di atas… (lhoh? Kirain udah masuk inti cerita dari
tadi :3 ), hehe tadi belum masuk cerita woy…
Oiya test take vocal dulu, guys…
“Bukan kami membedakan-bedakan agama,
Mona. Tapi ada aturan dari pusat yang harus ditaati. Tidak ada yang berjilbab
ketika bekerja di kantor ini… Silakan kalau dari luar mau berjilbab, lalu
sampai kantor dilepas gapapa, waktu pulang dari kantor dipakai lagi. Intinya di
dalam kantor tidak diperkenankan memakai jilbab. Bisa, Mona?,” itu kurang lebih kata-katanya beliau
ketika memberikan rincian peraturan yang harus saya jalani. Terus waktu itu apa
yang saya lakukan? Stay cool lah, dan tetep kasih senyum bidadari dong hahaha…
Saat itu, tanpa ragu
ataupun berpikir baa bii buu dulu, saya tidak menyanggupi peraturan yang satu
itu tuh diantara sederet peraturan lainnya.. (Lhoh? Terus? Gak jadi penyiar di
radio ini dong? Apa kabar mimpi?) Hehe Insyallah ini sudah menjadi pilihan
saya, dan semoga Allah memberkahi, sama sekali tidak ada rasa beban terhadap
keputusan barusan. Tentang mimpi, ahhh atas kuasa Allah mimpi itu terwujud tidaknya,
itu sih yakin saya. Toh semua usaha dijalan-Nya, ketika satu pintu tertutup,
maka akan dibukakan pintu-pintu yang lain
Sempat
terlintas di benak saya, “Lhah? Apa hubungannya jadi penyiar gak boleh
berjilbab? Pendengar juga gak lihat.” Terus muncul lagi pikiran, “ Yaiya, kalo
kita bisa buat orang berjilbab syar’i, kenapa yang lain gak bisa buat orang
jadi gak berjilbab (lhoh? hehe),” Pikiran hanyalah sebatas pikiran hehe… Gak
niat nyari jawaban juga sih untuk pertanyaan yang terlintas itu.
Mungkin
orang-orang yang sudah mengenal saya lama, tahu perjalanan hijrah saya hingga
titik yang sekarang ini. Memang belum lama, emmm baru 2,5 tahun terakhir saya
meng-istiqamah-kan diri untuk berhijab syar’i. Sebenarnya tulisan
saya ini ingin berbagi cerita juga tentang proses berhijrah yang memang tak
semudah yang dipikirkan, kayak alasan-alasan yang seringkali saya dengar dari
orang-orang yang katanya ingin berhijrah tapi terbentur ini itu. Come on guys,
saya juga mengalami hal yang sama… Tapi, setelah saya menjalani prosesnya, saya
sadar. Bahwa satu hal yang kita butuhkan untuk berjalan menuju Allah adalah niat
yang kuat, dan istiqamah.. Saya sadar, saya masih harus banyak belajar. Banyak
banyak banyakkkkk untuk hal itu, sama, seperti kalian….
Setelah
dari radio itu, saya jadi ingat nasehat seorang kakak yang saya datangi dengan
berderai air mata 2,5 tahun yang lalu (Duh, jadi malu kan ketahuan nangis :’) )…
Saat itu lingkungan sosial saya tidak bisa menerima perubahan pada kenampakan
fisik yang saya lakukan, dan terlebih lagi…orangtua saya pun menolak perubahan
penampilan saya. “Mona, ujian itu bertingkat… ini baru awal. Di
depan akan ada lebih banyak ujian untuk meningkatkan keimanan. Jadi, untuk apa
air mata ini? Mungkin sekarang teman-teman dan kedua orangtua Mona, tidak
menutup kemungkinan di dunia kerja kita akan mendapat perlakuan yang berbeda,
belum lagi nanti siapa tau orangtua dari jodoh kita tidak bisa menerima
penampilan kita.. Nah lhoh, apa yang mbak katakan tadi benar-benar terjadi Mona
pada orang-orang lain, Naudzubillah. Bayangkan, betapa Allah selalu
meningkatkan ujian kita untuk semakin dekat padaNya.” Begitu kata seorang kakak
itu.
Emmm,
ini ujian selanjutnya kali ya yang harus saya jalani setelah orangtua dan
teman-teman saya menerima proses hijrah saya
Penerimaan di tempat lain … Jilbab ini, kehormatan bagi saya, salah satu bentuk cinta saya pada Tuhan saya dengan cara mematuhi perintahNya. Wallahualam…
Penerimaan di tempat lain … Jilbab ini, kehormatan bagi saya, salah satu bentuk cinta saya pada Tuhan saya dengan cara mematuhi perintahNya. Wallahualam…
“Allah menghilangkan
sesuatu dari tangan tangan kita bukan berarti untuk mengambilnya, namun agar
tangan kita kosong sehingga dapat menggenggam sesuatu yang lebih besar”
Wassalamu’alaikum
warahmatullah
Selasa, 15 Juli 2014
ALLAH... Pintaku, Kuatkanlah Pundakku Bukan Hanya Sekadar Ringankan Bebanku
"Tumben jadi pendiem Mon?" Pertanyaan itu banyak saya dengar hari ini hahaha. Lalu banyak pelukan semangat dan pesan-pesan dengan bahasa metafora.. duh duh duh :D Terima kasih banyak, kalian semua manis banget, folks !!!
Ahh biasanya kalau saya cerewet sama kalian aja dibilang galak :3
giliran ini diem dipaksa-paksa untuk rame. Maunya apa coba haha...
Sebenarnya saya baik-baik saja, yaaa multitasking berpikir kan memang wajar. Tidak menjadi masalah lah untuk hal itu... Saya hanya sedang merenung, mencoba mengevaluasi gerakan saya untuk menyusun treatment gerakan jalan ke depan. Itu saja, mungkin butuh kesunyian kali ya :) makanya diam dulu.
Hehe, akhir-akhir ini entah kenapa saya menjadi seperti... errrr *belum nemu istilah yang cocok* semacam berpikir terlalu panjang sebelum melangkah, alih-alih jadi matang melangkah, ehhh ini malah jadi banyak pikiran ketakutan. Takut kalau gini nanti bisa gitu, takut kalau ambil ini malah tidak bisa itu, takut kalo kesini tidak bisa kesitu.. Banyak takut ini itu deh pokoknya..
Saya merasa seperti kehilangan ke-"liar"-an saya dalam berpikir, melangkah.. Ya! saya merasa kehilangan itu beberapa waktu terakhir ini. Mendadak kemana kekreatifan gadis ini? Kemana hilangnya keberanian jiwa muda gadis ini? Kemana Saya juga tidak tahu hal apa yang melatarbelakanginya.
Terberkatilah mereka manusia-manusia yang
merdeka—siapa saja yang telah berani melangkah dari masa lalu, bahwa
memang tak seharusnya kita terus menangisi apa-apa yang telah terjadi.
Terberkatilah kita yang telah jauh berjalan hingga ke titik ini—titik
di mana kita hanya bicara tentang hari ini dan hari esok, sementara
hari-hari yang lalu hanya sesekali kita tengok untuk kita tertawakan,
untuk kemudian melaju lagi jauh ke depan dengan ritme yang lebih cepat.
Kita pernah terseok, terjatuh, juga
terluka hingga tak henti-hentinya berair mata. Kita pernah ceroboh
melakukan hal yang bodoh, keliru, juga melakukan begitu banyak dosa
sampai-sampai merasa tak layak lagi hidup di dunia (agak lebay ini, tapi beneran deh ini lagi ngomong serius, ga lagi dilebay-lebay-in). Tapi hidup adalah
perjalanan, bukan? Dan di dalam perjalanan itu memang jalan tak
selamanya mulus: ada jalan menurun dan menanjak di sana, ada
kelokan-kelokan biasa hingga tajam, ada cabang-cabang jalan buntu yang
menipu, ada godaan-godaan untuk melupakan arah tujuan yang membuat kita
hanya menikmati saja semua yang tersedia, ada cacian-cacian yang
memuakkan, ada juga rasa lelah yang dengan terampil kita dramatisasi
untuk kita klaim ‘aku telah berusaha sekuat mungkin’ lantas kita
duduk menyerah—kita pasrah seolah-seolah ketakberdayaan yang kita
rasakan adalah anugerah Tuhan yang tak tertolak. Setiap perjalanan punya
dinamika masing-masing, dan kabar paling baik dari semua kenyataan ini
adalah bahwa kita tidak pernah sendiri.
bukankah Tuhan begitu dekat dan selalu ada?
Jadi bertahanlah Monaaaaaa (ceritanya semangatin diri sendiri).
Percayalah bahwa beban yang kini tengah kita tanggung ada dan hanya akan ada atas izin-Nya. Percayalah bahwa bekas-bekas luka yang
pernah tercipta akan membuat kita selalu sadar bahwa kita memang
manusia biasa, sekaligus menjadi pengingat dan pelecut semangat kita
bahwa perjuangan—apapun bentuk dan tujuannya—selalu membutuhkan
pengorbanan. Yakinlah bahwa segala bentuk ketertekanan yang kini tengah
mendera, adalah cara Tuhan untuk membuatmu lebih kuat—memaksa
meangoptimalkan semua potensi yang ada karena tiap kita punya benih
untuk menjadi hebat. Tiap kita punya kesempatan untuk menjadi juara. Seminimal-minimalnya untuk diri kita sendiri, termasuk menjadi juara atas rasa takut yang tak jarang dibuat oleh pikiran kita sendiri :p hehe
Terima kasih Allah :')
Terima kasih Allah :')
Sabtu, 15 Maret 2014
SURAT CINTA UNTUK DIRIKU SENDIRI
Sore tadi, seorang adik dalam proses belajarnya bertanya pada saya, "Mbak, gimana bisa ga 'ngelirik' mereka yang ramai mengusik? Gimana bisa 'menunduk' saat pujian-pujian untuk Mbak memberondong dari banyak mulut? Apa Mbak itu ga pernah galau? Tidak pernah merasa setan dengan lembut menyusup ke hati Mbak? Mbak, urusan hati ituuuu.... ah".
Wogh...Hahaha.. kereta apa nanya tuh -___- panjang bener. Tapi toh akhirnya kereta pertanyaan itu yang jadi motivasi saya untuk nge-blog malam ini... :D Sungguh, saya juga seorang pembelajar yang masih sangat gersang. Masih butuh banyak disiram :)
ALLAH, terima kasih... Engkau menjaga hatiku, hatiku yang bebas. Terbebas dari perasaan benci, dan memberi kesempatan kepadaku untuk mencoba belajar mengikhlaskan kesalahan orang lain. Pun, terima kasih pula Engkau membuat mereka telah begitu baik, sangat mudah memaafkan kesalahanku yang tak terhitung jumlahnya ini. Aku juga ingin berterima kasih kepadaMU, Engkau bebaskan hatiku dari rasa kagum, menyimpan simpati dalam diam dsb. Kenapa? Hal ini sangat menyiksa. Teman-temanku sering bercerita, katanya rasa seperti itu terkadang membuat tak bisa menjadi diri sendiri, dan ini di luar kendali. Misal, wajah yang tetiba merah, lisan yang kaku, atau diri yang menjadi kikuk. Duh, aku benar-benar tidak menyukai situasi itu. Jadi terimakasih karna Engkau telah bebaskan hatiku dari perasaan itu. Bismillah, mulai saat ini kita coba mulai untuk bersihkan hati, dari hal yang buruk maupun dari hal (yang seolah terlihat) baik :)
ALLAH, terima kasih... Engkau menjaga hatiku, hatiku yang bebas. Terbebas dari perasaan benci, dan memberi kesempatan kepadaku untuk mencoba belajar mengikhlaskan kesalahan orang lain. Pun, terima kasih pula Engkau membuat mereka telah begitu baik, sangat mudah memaafkan kesalahanku yang tak terhitung jumlahnya ini. Aku juga ingin berterima kasih kepadaMU, Engkau bebaskan hatiku dari rasa kagum, menyimpan simpati dalam diam dsb. Kenapa? Hal ini sangat menyiksa. Teman-temanku sering bercerita, katanya rasa seperti itu terkadang membuat tak bisa menjadi diri sendiri, dan ini di luar kendali. Misal, wajah yang tetiba merah, lisan yang kaku, atau diri yang menjadi kikuk. Duh, aku benar-benar tidak menyukai situasi itu. Jadi terimakasih karna Engkau telah bebaskan hatiku dari perasaan itu. Bismillah, mulai saat ini kita coba mulai untuk bersihkan hati, dari hal yang buruk maupun dari hal (yang seolah terlihat) baik :)
Hati itu
nampaknya terlalu dalam untuk diselami. Sepertinya segala daya dan upaya yang
telah dipersiapkan untuk misi membongkar misteri keluguan itu harus dihentikan
di sini. Terlalu ambisius mempertahankan cinta jiwa yang tak jelas muaranya.
Yang ada sekarang hanya rasa ingin tahu yang harus dikubur oleh realitas
ketidakpastian. Semua tiba-tiba sirna, atau kalaupun masih ada, anggap saja itu
sudah sirna. Itu resiko, resiko cinta jiwa. Karena jiwa tak selalu bertemu
dengan jiwa. Kadang ia harus berbenturan dengan kenyataan hidup yang dalam
subjektivitas pecinta itu begitu tidak adil dan menyakitkan. Kadang dia juga
sengaja dipertemukan dengan bentuk lain, akhirnya cinta tidak dapat menyatu.
Cinta sudah
membara, obsesi sudah menggelora, tapi takdir tidak mampir di sini. Ia terlalu
sombong. Realitas ini begitu sadis, bahkan gairah kehidupan seperti dikungkung
oleh kekejaman takdir. Tidak ada lagi senyum terlempar, kini diri ini seperti
perahu tanpa layar. Termangu di tengah laut lepas. Tidak tahu arah, kalaupun
tahu, tidak tahu bagaimana mengikuti arah itu. Serat-serat jiwa kembali
mengerut, seluruh katup-katup hati tertutup. Cinta selalu berakhir dengan
derita, kata Jenderal Tien Feng.
Itulah yang
dirasa, kalau kita terlalu serius memaknai cinta jiwa. Karena cinta jiwa
terlalu instan, tidak dibangun dengan fondasi yang kokoh. Karena kadang cinta
jiwa hanya dibangun di atas obsesi kebanggaan, atau mungkin penetrasi
kegelisahan. Sebab itu Anis Matta mengajak kita melupakan cinta jiwa yang tidak
berujung di perjanjian sakral. Itu terlalu menyakitkan. Karena hanya di
perjanjian sakral lah, cinta jiwa dan realitas kehidupan dengan mesra
diparadekan.
Kita harus
jujur menilai keadaan. Cinta memang terlalu sulit didefinisikan, oleh karena
itu ia kadang hanya berujung pada gerak bibir “aku mencintaimu”. Tapi cinta
bukan soal kata, ini lebih kepada sebuah gelora. Cinta seharusnya bisa
mengantarkan kita pada produktifitas, karena itu, kalau cinta justru membuat
kita menjadi tidak produktif, lupakanlah. Cinta selayaknya mendekatkan kita
dengan Sang Pencipta, karena itu, kalau cinta justru membuat kita lupa,
lupakanlah. Dan cinta seharusnya berakhir pada eksekusi memberi, memberi apapun
demi menjaga kesinambungan cinta. Karena cinta jiwa yang sesungguhnya harus
terus kita jaga.
Cinta memang
seharusnya konstruktif dan sederhana. Ia tidak butuh sentuhan majas hiperbola,
apalagi personifikasi, seolah cinta begitu menghanyutkan. “Kalau jatuh cinta
itu buta, berdua kita akan tersesat,” kata Efek Rumah Kaca dalam salah satu
lirik lagunya.
Masa muda, masa penuh dengan gejolak produktivitas. Tapi cinta kadang membuat kita fokus pada syair-syair, pujian-pujian, gombalan-gombalan, yang membuat kita lupa bahwa kita punya tugas sejarah dan punya beban masa depan. Masa muda, masa pelejitan potensi. Tapi cinta kadang membuat kita terkungkung dalam dunia merah muda yang begitu kelam yang membuat potensi kejayaan makin terpendam.
Masa muda, masa penuh dengan gejolak produktivitas. Tapi cinta kadang membuat kita fokus pada syair-syair, pujian-pujian, gombalan-gombalan, yang membuat kita lupa bahwa kita punya tugas sejarah dan punya beban masa depan. Masa muda, masa pelejitan potensi. Tapi cinta kadang membuat kita terkungkung dalam dunia merah muda yang begitu kelam yang membuat potensi kejayaan makin terpendam.
Cinta Jiwa yang tidak
konstruktif, musnahkanlah.
Cinta Jiwa yang tidak berujung
di perjanjian sakral, lupakanlah
Saya sedang
dalam proses, bukan proses legal yang sedari tadi saya bicarakan, tapi justru
dalam proses melupakan hal-hal semu seperti itu untuk saat yang hingga belum ditentukan, ya sampai Dia mengirim yang sudah tertulis di takdir. Ketika saya mulai merasa setan sayup-sayup menyusup lembut ke hati, bisa jadi salah satu usahanya adalah berusaha cuek saat
bertemu. Pura-pura tidak lihat kalau berpapasan. Tidak banyak berinteraksi,
karena itu mengganggu “proses melupakan” yang sedang dijalani. Itu sulit | Ya memang.. siapa bilang gampang. Tapi percayalah, itu tidak sesulit yang kita bayangkan. Hidup, mati, jodoh..sudah ada yang mengatur, bukan? Lalu untuk apa menggalaukan hal yang sudah pasti... :)
Yah, mungkin jadi
suka diam. Suka kesendirian. Berlayar dari cerita satu ke cerita berikutnya.
Menjadi tokoh yang satu lalu berganti lagi jadi tokoh yang lainnya. Berkenalan
dengan Dee, Andrea Hirata, Donny Dirgantoro, dan penulis-penulis lainnya. Saya sih
lebih memilih menjadi kutu buku dari pada kutu cinta hahaha. Dan lebih suka
diam dari pada mencintai tanpa arah pasti. Lebih suka membunuh waktu dengan kawan-kawan sejawat untuk merawat amanah kami.. Lebih banyak melakukan aktifitas untuk mendulang prestasi. Yayaya semacam itu. Banyak cara, sungguh :)
Sekian...
Semoga segala yang jatuh, bisa segera berlabuh :)
Kamis, 27 Februari 2014
MENAGIH JANJI INDAH MASA DEPAN, MENEMBUS BATAS
Oleh: Monaliza Sekar
Rini
(dibuat untuk memenuhi permintaan Majalah Niche untuk dimuat di rubrik Cerpen)
“Hargai
orang-orang yang memperjuangkan mimpi mereka, terlebih jika kau terlalu lemah
dan takut untuk memperjuangkan mimpimu sendiri.”
Subuh ini aku
terbangun, tepat saat aku mengerjapkan mata, langsung disuguhkan berbagai
tempelan-tempelan kertas yang berbaris rapi menutup hampir sebagian tembok
putih kamar kostku. Jangan kira ini pemandangan baru, karna memang tempelan
kertas-kertas itu sudah bertengger di tempat yang sama hampir dua tahun ini,
tak jarang malah makin bertambah jumlah tempelannya. Sambil terduduk lunglai di
kasur yang tak terlalu tebal ini, aku regangkan persendianku. Ada kurang lebih
sekitar tiga ratus enam puluh sendi menopang tubuh kita. Pegal, tentu saja.
Setiap harinya tubuhku ini digunakan beraktivitas kurang lebih 20 jam. Karna
kupikir, sebagaimana harta yang perlu ada sedekahnya, maka kita pun perlu
bersedekah untuk sendi-sendi itu, dengan berkarya, beramal. Begitulah, ada
nafas nyawa setiap hari. Datang memastikan hidup setiap kali kita bangun pagi.
Kita harus berbuat, beramal, bersedekah, demi nyawa itu.
Memoriku mulai melayang
ke masa dua tahun silam. Aku masih ingat betul, dulu untuk berada di jalan ini,
setidaknya aku harus menyisihkan ratusan orang lebih, bahkan diantaranya adalah
teman dekatku sendiri, rekan seperjuangan. Pasalnya hanya sekitar 100 kursi
yang tersedia dari ribuan orang lebih yang mendaftar di fakultas yang sekarang
menjadi tempatku mengeyam ilmu, salah satu fakultas eksakta universitas negeri
di kota Semarang. Dengan otak dan kemampuan ekonomi yang pas-pasan, berjibaku
di pertarungan ujian ini bagiku sangat melelahkan. Palpitasi, keringat dingin,
khawatir berlebih terkadang membersamai moment-moment pra maupun pasca ujian
saringan masuk perguruan tinggi ini. Satu awalan sulit, yang akhirnya telah
kulewati. Euphoria akhirnya sempat kurasakan tatkala perjuangan ini membuahkan
hasil. 24020333 muncul dilayar monitor komputer tanda kelulusan ku di ujian saringan
masuk jurusan yang aku pilih. Aihh, mulai kutepuk-tepuk pipiku, lama sudah aku
termenung di atas kasur. Bergegas aku mulai bersiap untuk pergi ke kampus.
“Upss, aku lupa. Bahkan
aku belum memperkenalkan namaku, cukup panggil aku Riefa.” aku mulai
menyipitkan mataku tajam, mengolah suaraku bak gemuruh suara pendongeng handal.
“Aku akan memberitahu kalian sebuah cerita, sebuah cerita yang hidup di dalam
mimpi manusia. Sebuah cerita yang berasal dari rumah petak kusam di ujung desa,
dengan semangat menggelora dan dihiasi
dinginnya malam untuk menagih janji-janji indah masa depan. Di rumah itu
tinggal gadis sulung dari lima bersaudara bersama kedua orangtuanya. Sejak kios
ayahnya di pasar ludes karna kebakaran pasar lima tahun lalu, demi menyambung hidup keluarganya, sang
ibu rela menjual barang-barang yang ada di rumah mereka pada tetangga sekitar.
Ibunya sudah kehabisan cara untuk mendapatkan uang guna membeli beras.
Dijuallah satu persatu barang-barang, setiap kali adik-adik si sulung menangis
karena kelaparan. Mulai dari beberapa pakaian, alat-alat dapur seperti gelas,
piring, panci, bahkan di dapur mereka sekarang sendok dan garpu pun ikut habis
terjual. Upah ayahnya yang kini menjadi kuli
serabutan di pasar tidak cukup untuk menopang biaya keluarganya. Tak jarang
uang hasil sang ibu menjual barang-barang itu dibelikan setengah liter beras
untuk dimasak menjadi bubur agar cukup dimakan mereka berlima. Jauh di dalam
hati sang gadis, tersimpan mimpi sederhana, membahagiakan orangtuanya,
mengangkat derajat keluarganya, membuat adik-adiknya setidaknya makan rutin
tiga kali sehari. Sesederhana itu? Tentu saja tidak, caranya… nah dia mulai
memikirkan caranya.” aku mulai mengambil jeda nafas. Belum juga aku
menyelesaikan nafasku, bu Lina, pengurus panti asuhan, sudah berdiri di depan
pintu “Ayo semuanya, sudah waktunya kalian membersihkan tempat ini. Lalu bersiap
ke madrasah.”. Kharira, kawanku yang sedari tadi khidmat mendengarkan ceritaku
kepada anak-anak panti ini mengulum senyum. Cepat-cepat dia mengambil
ancang-ancang supaya anak-anak ini tidak merajuk akibat cerita yang mendadak
harus to be continued. “Oke, kita bisa melanjutkan cerita ini besok bersama kak
Riefa kan?,”ucapnya. Cukup dengan kerlingan mata dan senyumanku, mereka
langsung riang dan berhamburan memeluk kami. Jangan meragukan mereka kalau
masalah membaca bahasa ‘kode’.
“Setelah ini mau kemana lagi kakak pendongeng?,” tanya
Kharira saat kami hendak mengayuh sepeda meninggalkan panti asuhan itu. “Sudah
cukup, hari ini tidak kemana-mana lagi. Kita pulang ke kostku saja, masih ada
berkas-berkas sponsorship yang harus
aku siapkan,” jawabku sambil mengayuh sepeda.
Aku
pendongeng? Tentu saja bukan. Aku hanya seseorang yang ingin menyebarkan
semangat perjuangan atas janji-janji indah masa depan. Hingga saat ini, itulah
yang baru mampu kuberikan kepada sesamaku, anak-anak itu, yang tanpa mereka
sadari bisa saja mimpi-mimpi mereka menembus batas keadaan yang ada.
Kharira langsung membuka jendela
kamar kostku, sementara aku langsung sibuk krasak-krusuk mencari
dokumen-dokumen yang aku butuhkan di rak buku kecil dalam kamarku. “Uhhh panas
sekali disini. Perasaan di Jogja mau musim kemarau seperti apa juga tidak
begini amat panasnya,” Kharira mengibas-ngibaskan tangan di depan wajahnya.
“Jangan latah keadaan begitu, namanya juga Semarang beda dengan di Jogja,
apalagi kamarku ini sempit, ya jelas saja panasnya minta ampun. Kalau tidak
tahan, ya pulang saja sana ke Jogja,” aku menyeringai menatapnya. “Sejak kapan
kamu jadi sesensitif kulit bayi begitu hah? Aku kan hanya mencoba memberi
informasi saja,” Kharira gusar mendengar jawabanku. Kharira itu mahasiswi salah
satu universitas negeri unggulan di Jogja, jurusan hubungan internasional. Perkenalan
kami sungguh tak terduga, siapa yang menyangka dua gadis dan berkenalan di bis
antar kota sekarang menjadi kawan karib seperti kami ini. Kharira kawan yang
pas untuk diajak berdiskusi mengenai banyak hal, mungkin jika kalian bertemu
langsung dengannya akan menganggap gadis yang ramah ini biasa-biasa saja. Tapi
setelah kalian berbicara dengannya, jaga saja mulut kalian agar tidak menganga
terlalu lama karna terbius kecerdasan yang dibalut dengan public speaking yang hebat darinya, bidang sosial; politik; humanity; lingkungan; pendidikan;
internasional bahkan agama pun seperti dia tahu segalanya, berdiskusi dengan
Kharira menjadi pencerdasan tersendiri bagiku. Yaa.. malam ini aku harus
berbagi kasur ukuran seorang ini dengan Kharira, dia ada workshop di Semarang.
Bukan Kharira namanya kalau tidak
bisa menghidupkan suasana kembali, “Baik, lupakan masalah panas, Semarang, dan
Jogja. Bagaimana dengan perkembangan permohonan sponsormu untuk ke Praha?,” kali
ini dia bertanya dengan nada hati-hati. “Entahlah. Ini sudah H-4 dari batas
verifikasi kongres pemuda internasional di Praha itu, tapi sampai hari ini
tidak ada satu maskapai pun yang berhasil aku minta untuk menjadi sponsorku ke
Praha. Ra, berapa kali lagi aku harus menyimpan mimpi-mimpiku kembali?,”
rasanya tak kuasa lagi aku membendung buliran air mata yang kini serasa
berjubal untuk berhamburan ke pipi. Tidak tidak tidak!!! Masih ada empat hari
lagi bukan? Ya, siapa yang tahu rencana Tuhan empat hari ke depan, mungkin
besok, atau besoknya lagi, atau besoknya lagi jalan terang itu akan ada. Air
mata ini, bukan sekarang saatnya berhamburan ke pipi.
“Orangtuamu? Apa mereka tahu tentang
hal ini?,” Kharira menghampiriku. “Tidak, aku tidak memberitahu mereka sebelum
semuanya tampak nyata. Aku merantau ke Semarang untuk kuliah bermodal tekad,
untungnya disini aku masih bisa bertahan hidup dari beasiswa-beasiswa itu.
Memikirkan makan keempat adikku di rumah saja orangtuaku sudah susah, mana tega
aku mengatakan hal ini ke orangtuaku. Bahkan untuk sekedar memberi kabar
tentang hal ini saja, bukan meminta bantuan, aku tidak sanggup. Akan menambah
beban pikiran mereka, kalau kalau membuat mereka merasa menyesal karna tidak
bisa berbuat sesuatu untukku.” mataku menerawang jauh. Obrolanku dengan Kharira
senja ini, serasa mengumpulkan kembali remah-remah semangatku yang sempat
berhamburan beberapa saat lalu. Aku ingat janjiku pada diriku sendiri, “membahagiakan orangtuaku, mengangkat derajat
keluargaku, membuat adik-adikku setidaknya makan rutin tiga kali sehari”. Aku
mendapatkan caranya kala itu, dengan sadar akan pentingnya pendidikan, semoga
Tuhan membersamai di setiap langkahku.
Aku mulai mengayuh kencang sepedaku,
sesekali kusapu peluh yang ada di wajahku dengan punggung tangan, menembus
kabut yang turun, menyesap aroma tanah bekas guyuran hujan semalam. Jalanan
utama di Semarang masih lengang pagi ini, maklum ini baru pukul 05.15 WIB.
Semalam aku sudah membuat list
sponsor yang harus aku datangi hari ini, berhubung hari ini tidak ada ongkos
untukku naik angkutan umum, jadi aku berangkat ke tempat tujuanku dengan
sepeda, pagi-pagi, supaya aku bisa lebih awal sampai disana, karna siangnya
harus kembali ke kampus, ada jadwal kuliah.
H-3, H-2, kucoret sembarangan dua
angka yang ada di kalender bulan ini. Besok, waktuku tersisa besok sebelum deadline itu datang. Dan benar, hingga
detik-detik terakhir penutupan verifikasi itu aku hanya bisa menggigit bibir.
Ngilu rasanya. Tulang-belulangku juga entah kenapa mendadak lunglai rasanya. Hatiku
koyak, mulai mempertanyakan janji-janji indah masa depan yang diperuntukan bagi
mereka yang berjuang. Aku? Kurang berjuang kah aku?... ohh sungguh aku tidak
sanggup lagi mengungkapkannya, pertanyaan-pertanyaan yang melayang di benakku
saat ini sungguhlah buruk, mempertanyakan kekuasaan, mempertanyakan mimpiku
sendiri, bahkan aku mulai merasa diriku diperbudak oleh mimpi-mimpiku itu. Yaa
benar, selain pendidikan, setidaknya aku ingin menginjakkan kaki di belahan
dunia sebelah sana, belajar dengan cara berbeda, belajar dari bangsa yang
berbeda, belajar di tempat berbeda. Belajar, belajar, belajar…untuk selanjutnya
memberi, memberi pada orangtuaku, adik-adikku, lingkunganku, sesamaku…
Jangan kira ini seperti cerita novel
dan sejenisnya diluaran sana yang tokoh utamanya sekuat baja, setegar karang. Kalian
salah kalau mengira begitu, ini ceritaku, Riefa. Aku jatuh, menangis
sejadi-jadinya di dalam kamarku, baru kali ini aku merasakan benar-benar berada
di titik terbawah, aku serasa orang paling miskin disini. Bukan hanya miskin
harta, tapi juga serasa miskin daya juang. Punya apalah aku sekarang,
orang-orang seperti aku ini satu-satunya harta terbesar adalah daya juang, tapi
mendadak sekarang daya juangku itu leleh bak bongkahan gunung es di puncak Jaya
Wijaya yang dipindahkan dadakan ke Semarang yang suhunya panas minta ampun. Mungkin
aku tidak akan serapuh ini jika ini kegagalan pertamaku, sayangnya ini kesekian
kali kegagalanku dengan masalah yang sama. Biaya. Manusia mana yang tidak
mempertanyakan tentang keadilan kalau sudah begini.
Kupandangi lekat-lekat tempelan kertas-kertas yang ada di
tembok kamar kostku. Sampailah mataku pada satu kertas bertuliskan, “Ya Tuhan, ini mimpi hamba tiap tahunnya.
Pergi ke belahan dunia bagian lain untuk belajar tentang segala pelajaran yang
bisa hamba dapatkan tanpa biaya sepeser pun dari kantong hamba. Tuhan, di
kawasan Asia dulu tidak masalah. Seperti China, Thailand, Malaysia… untuk selanjutnya ke negara asal pohon mapple,
KANADA”. Lalu tempelan kertas di sebelahnya, “Tuhan, permudah jalan hamba untuk dapat melihat pohon mapple di negara
asalnya. KANADA”. Lucu bukan? Tentu saja kalian menganggap itu lucu, tapi
aku terkagum-kagum dengan mapple. Daun yang menjadi lambang di bendera sebuah
negara itu, ohhh sungguh, seharusnya aku tidak perlu membaca novel non fiksi
itu yang membuatku tergila-gila dengan belahan dunia dibagian sana hingga
seperti ini, pikirku. Makin kubaca tempelan-tempelan itu, makin serasa memuncak
rasa sedih, kesal, marah, dan semua rasa-rasa yang membuatku bingung ini.
Aku butuh waktu, untuk menyembuhkan ‘lukaku’ ini. Sebulan, dua bulan, yaa saat ini aku sudah
melanjutkan aktivitasku seperti semula. Menjadi aktivis kampus, kuliah,
pendongeng di panti-panti, kerja part
time, dan tentu saja masih mengoyak kesempatan-kesempatan ke luar negeri
yang ditawarkan. Jika kalian berpikir, ‘anak
ini ga ada kapoknya’, aku pun berpikiran yang sama pada diriku sendiri.
Saat aku terpuruk beberapa bulan lalu, sahabat karibku Kharira datang dari
Jogja. Jauh-jauh dari Jogja, saat melihat keadaanku yang tidak bisa
didefinisikan dengan kata ‘layak’, dia hanya berkata “Riefa, sahabatku, pejuang
yang selalu memperjuangkan janji-janji indah masa depan. Ketahuilah, Tuhan
tahu, tapi menunggu,” ujarnya sambil memelukku. Sekarang, setelah kondisi
mentalku kembali seperti semula, aku bisa tertawa sendiri mengingat hal itu.
Lucu. Entah dimana sisi lucunya, aku malu, malu pada diriku sendiri yang sempat
menghujat mimpi-mimpi itu. Karna benar kata Kharira, ‘Tuhan tahu, tapi
menunggu’. Aku memang tidak jadi pergi ke Praha, tapi beberapa hari lalu, masuk
ke emailku pengumuman bahwa aku lolos menjadi mahasiswi exchange ke Korea. Akomodasinya? Tentu saja tidak perlu
kukhawatirkan kali ini, karena semua biaya ditanggung oleh pihak penyelenggara.
“Kalian mau mendengar cerita selanjutnya dari sang gadis?,”
aku bertanya, menggoda mereka. “Tentu saja, tentu saja,” suara teriakan mereka
serentak memekakkan telingaku. “Gadis itu berhasil menagih janji-janji indah
masa depan bagi mereka yang selalu berjuang di garda depan, seperti yang selalu
ibunya katakan. Setelah mengalami semua itu, sang gadis menyadari, bahwa bukan
melulu harta yang bisa menagih janji indah masa depan, tapi keyakinan dan mimpi
yang diperjuangkan. Selesai.” aku tersenyum dan mengusap rambut mereka satu
persatu. “Terima kasih kak Riefa… besok kita bertemu disini lagi ya. Ceritakan
lagi kepada kami tentang kisah-kisah yang lain. Sepakat?,” ujar salah seorang
anak. “Wohh tentu saja sepakat.” kami saling menautkan jari kelingking. Tak
lama kemudian punggung-punggung mereka semakin lamat-lamat menjauh dan hilang
dari pandanganku.
Aku mendongak ke atas, kulihat ranting-ranting pohon mapple
yang meranggas berada di atasku. Kulihat pula ke arah sepatuku, aku tersenyum,
terdapat jejak bekas sepatuku di lapisan salju bawah kursi taman yang kududuki
saat ini. Yaa.. saat ini aku berada di Kanada, melanjutkan beasiswa S2 ku
disini. Ini merupakan negara keempat yang kukunjungi sejak exchange di Korea dulu itu. Sungguh, Tuhan menjawab doa hambanya
dengan cara yang luar biasa. Anak-anak yang baru saja selesai kudongengi,
adalah anak-anak berdarah Indonesia yang orangtuanya bekerja di Kanada. Jadi
rindu dengan anak-anak panti di sekitaran kampusku, apa kabar ya mereka?
Oh iya, tentang Kharira…kalian ingin tahu sekarang bagaimana
keadaannya? Semalam dia mengirim email padaku, dia dinobatkan menjadi salah
satu penerima penghargaan bergengsi ASHOKA Young Change Maker tahun ini atas
kepeduliannya terhadap lingkungan di Jawa terutama mengenai sampah katanya,
hebatnya kawanku itu.
Bagaimana? Luar biasa bukan kekuatan mimpi,
tentu saja mimpi yang diperjuangkan. Jangan pernah berhenti untuk bermimpi,
karena impianlah yang bisa mengetuk pintu hati kita untuk selalu berusaha
mencapainya.
Langganan:
Postingan (Atom)
statistics
Share this Post
Bukan pakar, mari sama-sama belajar. Pun bukan ahli, mari saling berbagi | Melangit dan Membumi
Diberdayakan oleh Blogger.

