Selasa, 15 September 2020

Hujan dan Petrichor

Di tempatku hari ini tidak hujan. Bagaimana di tempatmu? Kulihat dari beberapa unggahan teman, di kota mereka sudah hujan.


Apa yang kau rindukan dari hujan? Ah! sejuknya ya?! Sama! Aku juga 😁


Tapi, yang lebih ku rindukan dari hujan adalah, aku bisa berdiam di rumah. Tidak perlu keluar dan bertemu orang karena alasan basah. Aku bisa leluasa berbaring di kasurku dan menghadap tembok sambil mengobrol dengan diriku sendiri. Sesekali aku hirup nafas dalam-dalam, merasakan petrichor menembus rumahku dan sampai di hidungku.


Orang bilang aku ekstrovert. Oh ya? Yang kutahu, semua orang suka berbicara menurut apa yang mereka lihat, ya... orang memang bisa melihat halaman rumah kita dan membicarakannya, tapi yang tahu isi dalam rumah kita kan kita sendiri. Mereka tak tahu, kecuali kita mengizinkan mereka untuk masuk. Jadi, tak masalah mereka mau berkata apa. Yang tahu, ya aku sendiri...

dan orang-orang yang ku izinkan masuk ke dalam menengok isi rumahku.

continue reading Hujan dan Petrichor

Selasa, 01 September 2020

Agenda

Untuk seseorang yang nanti kulihat kali pertama saat membuka mata. 
Seseorang yang setiap hari akan mendengarkan suara berisikku. 
Seseorang yang tahan dengan omelan karena aku tak suka melihat handuk diletakkan sembarangan — berantakan.

Aku selalu suka menuliskan ini dan cerita kita nanti.

Aku menyukai pagi hari, menyiapkan sarapan sambil bertanya, "Kamu mau dibikinin apa? Nasi goreng atau roti saja?"

Saat malam, aku akan membantumu menyiapkan baju mana yang akan kamu pakai untuk kerja keesokan harinya.

Dan ini, aku selalu suka saat akhir pekan tiba.
Kita di rumah saja, ya. Menonton televisi. Ah! atau  keluar juga boleh, kita ke toko buku membeli tambahan buku untuk mengisi rak-rak buku kita.

Bagaimana kalau kita membuat pisang goreng? Aku akan menggorengnya dan kamu yang membuat adonannya.

Sebelum hari semakin siang, kita akan membersihkan tempat tinggal kita berdua. Kita berbagi tugas, kamu mencabut rumput liar di luar dan membersihkan halaman, sementara aku membersihkan bagian dalamnya.

Lalu apalagi? Oh iya!

Bukankah sudah waktunya mencuci motor yang kamu pakai sehari-hari? Sini, aku temani.

Aku senang menemanimu sambil mendengarkan kamu bercerita ada busi, aki dan oli yang harus diganti bulan ini.
Aku yang tak tahu apa-apa hanya bisa tertawa sambil berkata, "Ya diganti saja."

Mungkin kita akan berbeda pendapat sesekali. Kamu begitu keras kepala, agaknya aku yang memang harus banyak mengalah, tapi tak apa. Karena tak ada kehidupan yang sempurna.

Jika aku terlalu sering marah, tegurlah dengan kasih dan ramah.
Aku akan berubah menjadi lebih baik lagi. Sini, kait kelingking. Aku janji.

Satu sama lain kita akan belajar saling memantaskan diri.

Sebab aku ingin menjadi rumah, tempatmu mengarahkan tujuan.
Aku ingin menjadi rumah tempatmu kembali pulang, bukan sekadar tempat singgah saat kamu merasa lelah.

Aku ingin menjadi rumah yang bahagia, sebab di sanalah kita dan kisah-kisah indah lainnya.




-2018-

continue reading Agenda

Minggu, 09 Agustus 2020

Bu...

Tidak peduli seberapa banyak angka yang tersemat di umur anak perempuanmu ini, baginya tempat ternyaman yang dimiliki manusia adalah di dekapanmu Bu.


Tidak peduli seberapa banyak orang yang ia temui, baginya tempat bercerita yang paling memahami dirinya adalah engkau, Bu.


Ia, akan selalu menjadi anak perempuan yang sama Bu. Dulu, sekarang dan nanti. Anak perempuan yang jikalau ditanya "Apa cita-citamu?" jawabannya selalu konsisten, "Membahagiakan Ibu".


Bu... jangan menangis, ya. Ada Allah, dan ada aku anak perempuanmu.


Bu, sehat-sehat selalu ya Bu. Tunggu aku mewujudkan cita-citaku.

continue reading

Minggu, 31 Mei 2020

Insomnia

Aku sayangggg banget lah sama orangtuaku. Apalagi setelah aku punya anak, makin nambah berkali-kali lipat sayangku ke mereka. Bukan. Bukan karena tahu beratnya jadi orangtua ngurusin anaknya, tapi karena tahu gimana sayang orangtua ke anaknya. Jadi sebagai anak, aku makin sayang ke orangtuaku. Kamu bingung sama kalimatku ya? Aku dak bingung kok #lhah.

Mulai SMA, aku jarang bareng sama orangtua. Apalagi pas mulai merantau dari kuliah, kerja, ikut suami internship; aku nggak hidup sama orangtuaku.


Dulu, waktu suamiku datang ke rumah. Beliau minta ke orangtuaku untuk mengajakku hidup di kampungnya yang jauh di Lombok Timur sana. Orangtuaku waktu itu maju mundur memberi keputusan. Ehhh tapi yang datang ke orangtuaku mau ngajak aku hidup jauh semua wkwkwkw. Cedih lah orangtuaku dak punya pilihan yang paling asique. Akhirnya setelah melalui doa dan diskusi dengan Allah, pilihan jatuh ke suamiku ini.


Aku dulu dak mikir. Aku ralat. Aku anaknya telat mikir. Dulu aku santai marantai macem di pantai dapat suami orang mana aja. Dak mikir suami malahan 😧 jadi pas dikawinin iya iya aja. Padahal orangtuaku yang tadinya maju mundur itu karena udah mikir bahwa disisa hidup anak perempuannya akan sangat jauh fisik dari mereka untuk selamanya, dak kayak merantau sekolah yang ada angan lulus dan bisa tinggal di rumah bersama mereka, kuatkah hati mereka(?) Kira-kira begitu kalau dibahasakan dengan bahasaku.


Sekarang alhamdulillah aku dikasih kesempatan tinggal sama orangtuaku karena suami dapat kerja di kota kelahiranku. Bahagiaaaaa banget rasanya. Aku yang ekstrovert dan tenaganya recharge kalau lihat dan kumpul sama orang jadi dak masalah ditinggal suami kerja siang malam karena ada bapak dan ummi yang selalu nemani dan kelakuannya bikin aku ketawa. Aku baru mengenal orangtuaku setelah 1 tahun hidup seatap dengan mereka. Dulu, aku hidup sama mereka saat aku masih 'kecil', aku dak terlalu bisa 'mengenal' mereka, setelah itu aku merantau hampir 9 tahun. 


Aku dan suamiku akan tetap tinggal di Lombok. Tapi entah kapan tergantung cerita hidup membawa. Tiap ingat itu, aku pengen nangis bayangin orangtuaku sendirian di masa tuanya, betapa sepimya tanpa anak cucu. Tapi tiap lihat suamiku, aku juga sedih karena dia juga seorang anak yang jauh dari ibunya. Pasti rindu sekali. Khawatir setiap waktu pada ibunya yang tinggal sendiri disana.


Bisa dak ya kita semua tinggal bersama(?)
Aku, suamiku, anak-anakku, orangtuaku, mertuaku...
Dak usah jauh-jauhan lah kita
continue reading Insomnia

Minggu, 06 Oktober 2019

Anak Pertama Ayah dan Ibu

Kakak, anak pertama ayah dan ibu... Apa kabar, Nak?
Sudah hampir satu tahun kakak kembali pada Allah ya, Nak. Walau tahun berganti tahun, perasaan ibu akan tetap sama. Merindukan kakak. Tapi alhamdulillah, Sayang, berkat karunia Allah berkat kekuatan dari Allah, saat ini ibu mengambil cara lain untuk merindui kakak dibanding setahun yang lalu. Walau sekarang pun ibu masih tetap menangis setiap kali mengingat kakak, tak apa ya Sayang :")


Hari ini ibu mendengar ada ibu lain yang kehilangan dua anaknya sekaligus. Sedih betul ibu mendengarnya. Dia pasti merasakan perasaan-perasaan yang sama seperti yang ibu rasakan dulu saat kehilangan Kakak. Sedih, hancur-sehancur-sehancurnya. Bukan, Sayang, bukan mulasnya perut ibu, bukan juga hancur sakit fisik ibu, tapi hati ibu Nak yang hancur. Ibu kira dulu, sesaat setelah ibu menikah dengan ayah, saat ibu setiap bulannya mengetes kehamilan dengan harapan yang penuh namun hasilnya negatif, adalah hal yang paling menghancurkan hati ibu di dunia ini. Tapi ternyata ibu salah, Nak. Yang ibu rasakan setahun lalu, kehilangan anak jauh lebih menghancurkan hati ketimbang belum dikaruniai anak, Sayang.


Maafkan ayah dan ibu, Sayang. Karena dulu kami belum menjadi orangtua yang baik untuk kakak, karena dulu banyak kesalahan yang kami lakukan, karena dulu banyak ketakutan yang kami khawatirkan.


Terimakasih, Kakak. Terimakasih sudah berkenan menjadi anak pertama ayah dan ibu. Terimakasih sudah mengajari ayah dan ibu untuk selalu belajar guna terus memperbaiki diri kami. Terimakasih sudah membuat kami meringkuk di depan Allah, bertaubat, dan bermuhasabah atas segala kesalahan kami.


Kelak, berapapun jumlah anak ayah dan ibu kelak, adik-adiknya kakak, kakak akan tetap menjadi anak pertama kami ☺. Semoga Allah jumpakan kita semua di surga nanti ya, Sayang. Allah, mohon sabarkan kami sampai saat itu tiba.... Aamiin


Ibumu -yang baru berani membuka cerita tentang dirimu setelah satu tahun-
continue reading Anak Pertama Ayah dan Ibu

Minggu, 22 September 2019

Mom Shaming

Dulu, saya tidak memahami mengapa banyak ibu yang sakit hati saat anaknya dikomentari orang lain misalnya karena kekurusannya... Saya juga sering dikatakan kurus oleh orang lain, tapi saya biasa saja tuh, memangnya kenapa jika dikatakan seperti itu? Kenyataannya memang saya kurus, yha tho?.

Sampai akhirnya kini saya tersadar terantuk kejedot pintu, saya minta ampun atas nyinyirnya saya zaman muda dulu terhadap ibu sensitif. Menjelang menjadi ibu, sense of belong saya rasanya memuncak tajam terhadap ibu-ibu lain yang senasib sepenanggungan.

Tidak ada ibu yang tidak pernah berbuat yang terbaik yang ia mampu untuk buah hatinya. Semuanya pasti sekuat tenaga berdarah-darah memberikan yang terbaik untuk anaknya, rasanya bingung setengah mati jika terjadi sesuatu pada anaknya, lalu apa yang dikatakan mulut jahat kita-kita ini yang suka komentarin? oh no. Tahu rasanya sudah berusaha sekuat tenaga (terlebih ini untuk buah hatimu, setengah nyawamu yang dari dia belum ada kau sudah menyayanginya) tapi tak kunjung ada perbaikan padanya, sudah sedih bertubi ehhh masih ada orang yang mengomentari? Itu akan membuat seorang ibu makin merasa tak berguna bagi anaknya, merasa rendah diri, merasa bukan menjadi ibu yang baik, merasa menjadi ibu yang tak pintar. Lelah fisik dan hati ya pastinya.

Jangan karena belum menjadi ibu lalu bisa seenaknya mengomentari seorang ibu, belum aja ngerasain kan.  Jangan juga karena anakmu baik-baik saja lalu memojokkan anak ibu lain yang tak sebaik anakmu (dalam pandanganmu sendiri).

Maka dari itu saya rasa support group itu penting lhoo buat emak-emak. Karena ya berat juga jika menghadapi semua sendirian 😊

Be wise bukkk ya 😊
Ini nasehat untuk diri saya sendiri sebelum masuk di dunia peribukan. Untuk hati-hati pada mulut dan hati saya sendiri.
continue reading Mom Shaming

statistics

Bukan pakar, mari sama-sama belajar. Pun bukan ahli, mari saling berbagi | Melangit dan Membumi

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact