Minggu, 15 Oktober 2017

Kalian, Bentuk Terindah dari Baiknya Tuhan Padaku

Orangtua seyogyanya adalah harapan bagi anak :) Di saat anak jatuh; kecewa; gagal; dianggap rendah; dianggap tidak sukses, orangtua lah tangan pertama yang mengulurkan bantuan, hati merekalah yang pertama kali percaya bahwa anaknya mampu menemukan peran terbaiknya.
MasyaAllah :”) itu yang selalu orangtua saya lakukan kepada saya, tidak peduli se-buruk apapun kemampuan saya dibanding teman-teman sebaya, mereka selalu hadir untuk menenangkan; pemompa semangat terhandal ketika saya teramat takut untuk bersaing, ketika saya menggenggam terlalu banyak kekhawatiran, bahkan sampai usia yang terbilang tidak muda lagi ini pun saya masih selalu menelpon ibu ketika tengah malam saya terbangun ketakutan karena mimpi buruk #receh! :”) saya juga tidak pernah masuk ruang ujian apapun kecuali dengan menghentikan sejenak langkah terakhir saya di depan pintu ruangan tersebut untuk mengambil handphone dan texting minta doa ke orangtua saya walaupun sebelumnya saya sudah meminta doa mereka, tapi ya entah kenapa saya merasa tenang aja kalau doa mereka ikut membersamai saya bahkan hingga detik-detik terakhir perjuangan saya.

Saya masih ingat betul, saya dan adik saya begitu mudah meminta izin dari orangtua kami untuk tidak masuk sekolah ketika kami merasa penat belajar dan datang ke sekolah. Penat sekolah saya rasa suatu hal yang wajar bagi setiap anak manusia #pembelaandirinih haha. Bagaimana tidak(?) untuk ukuran anak kampung seperti saya, masuk ke SMP di kota dengan beban pelajaran dan kegiatan dari jam 6 pagi hingga jam 5 sore, berasa nightmare, bersaing dengan anak-anak kota yang mungkin dikasih makannya bergizi-bergizi terus kali yak jadi hasilnya pinter-pinter gitu. Berlanjut ke SMA dan masuk ke kelas yang bahasa pengantarnya menggunakan dwi bahasa yang tiap harinya tas saya tidak pernah tidak diisi dengan buku-buku plus kamus bahasa inggris (ini penting bangett jadi pas baca handbook nggak mudeng, buka kamus. Pas mr/mrs nya ngomong tapi aku masih aja nggak mudeng, buka kamus. Demiii. Hidup gue semenyedihkan itu hiks) yang tebalnya mirip dengan cucian baju selama 2 minggu di kosan kalau ditumpuk (pantas saja saya tidak tinggi hiks. Ini akibat membawa beban berat di tas kali ya. Eh sama ini, bawa beban hidup #lemparsandal). Seperti yang saya bilang, saya bukanlah anak yang shine bright like a diamond. Tapi, orangtua saya yang selalu membesarkan hati saya, bersabar menerima kekurangan saya, mereka yang selalu percaya pada ide-ide gila saya tiap kali orang lain tidak yakin kepada kemampuan saya. Mereka tidak pernah memaksa anak-anaknya untuk belajar keras (itu sebabnya anak-anaknya selalu mudah acc kalau mau bolos sekolah :”) syarat bolosnya cuma satu, jujur. Baik itu jujur ke orangtua ataupun jujur ke pihak sekolah. Jujur ke orangtua adalah kalau kita bolos ya bolos dari rumah, jangan dari rumah keliatan berangkat tapi tidak sampai di sekolah. Jujur ke pihak sekolah, orangtua saya pun tidak membuatkan izin ke sekolah seperti surat sakit atau sebagainya, karena kami memang tidak sakit. Kami kan bolos :”) jadi nggak berhak dapat izin sakit. Kalaupun besok pas masuk sekolah diomelin guru gara-gara bolos, yaudah konsekuensi kami, harus dihadapi. Apa yang kami lakukan selama bolos di rumah? Makan, tidur, nonton tv, main game. Yaaa hal-hal yang awkward gitu lah. Dan orangtua kami menghargai itu, tidak memojokkan kami atas keputusan bolos sekolah yang kami ambil hanya untuk kegiatan nggak penting kami di rumah semacam itu. Tapi saya rasa ini cara mendidik yang ekstrim kkkkk~ jangan diterapkan sebelum mengetahui karakter si anak dengan benar, alih-alih nanti jadi salah asuh), tanpa kami merasa didikte orangtua kami seakan-akan menjelaskan kepada kami untuk apa pentingnya belajar itu. Jadi kami belajar keras karena pemahaman kami sendiri, dan kami tahu untuk apa kami harus belajar, bukan dari paksaan atau tekanan.

Sungguh percayalah :”) Saya ini dibanding temen-temen yang lain seringnya saya ngerasa rendah diri karena sebenernya saya nggak punya kemampuan yang lebih baik dari yang lain, malah terhitung di bawah wakakaka. Cuma, peran orangtua saya yang menjadikan saya merasa “sebego-begonya lu, lu tetep berharga kok buat bapak sama ibu. Segagal-gagalnya lu, lu tetep kok bakal selalu punya tempat buat pulang. Etc.”. Serius deh :”) dari situ saya jadi punya semangat untuk berusaha lebih keras, berusaha lebih tekun lagi, berani malu, nggak terlalu mikirin apa kata orang (dalam kondisi tertentu yak tapi). Jika ada yang tahu, disaat yang lain sudah enak-enakan bisa main-main, saya masih harus belajar berulang-ulang hingga pagi untuk dongkrak nilai. Disaat yang lain skor toeflnya sudah bisa buat lamar beasiswa dan sudah bisa casciscus ngomong sama bikin caption pakai bahasa inggris, saya masih harus les sepulang kerja dan ngadepin handout untuk belajar toefl. Disaat yang lain sudah ikut konferensi kemana-mana, saya masih harus utak-utik di laboratorium. Disaat yang lain sudah bisa tidur nyenyak, saya masih harus begadang buat ngerancang konsep organisasi gara-gara otaknya keseringan mampet hahaha. Da aku mah apa atuh... Cuma serbuk micin yang dihempas manja di khatulistiwa. Allah Maha Baik karena menutupi aib-aib saya, doa orangtua saya begitu manjur sehingga banyak membuka jalan-jalan di hidup saya. Begitulah sodarah sodarah.

Jadi, saya membuktikan bahwa penerimaan orangtua terhadap kondisi anaknya bisa berimbas seluar biasa itu, bisa mengubah si anak. Kemarin saya ikut kajian, ada jama'ah yang nanya “Umik, kan ngurus anak itu capek ya... belum lagi kalau ngeliat anak seusianya udah bisa ini itu dan anak kita belum, rasanya tuh sedihhh banget Umik, ini anak aku kenapa(?). Terus kadang saking capek sama semuanya, kadang jadi keluar omongan kasar atau bentak.” Lalu ustadzahnya jawab “Orangtua kuat akan menghasilkan anak yang kuat. Jangan terburu-buru ingin anak kita sholih atau baik, karena mengajarkan dengan cara menekan bukan pondasi yang kuat untuk anak. Pahamkanlah si anak saat kita hendak mengajarkan sesuatu. Perbanyak doa, peluk mereka, tatap matanya untuk transfer kasih sayang kita ke mereka. Tiap anak punya cara berbeda dan jenjang waktu berbeda untuk mengeluarkan kemampuan terbaiknya. Pahamilah, para orang tua.”

Hmmm... saya jadi ingat biografi seseorang. Thomas kecil dengan sang Ibu, Thomas yang dianggap aneh, hingga tak ada guru yang mau mengajarnya. Ibunyalah yang pertama kali menyambut Thomas ke dalam pelukannya; kepercayaannya; pemberian harapan, membawanya kembali kepada sekolah sang ibu, sekolah di rumah. Jadilah ia.. Seorang Thomas A. Edison. Yang melalui penemuannya, kita sekarang mampu merasakan setiap pendar cahaya :)
Mungkin ya waktu itu orangtua saya juga sedih kok anaknya macem saya begini wakakakak. Tapi, mereka memilih sikap untuk tidak pupus harapan dari setiap ucapan orang yang menurunkan semangat mereka. Mereka menjadikan saya istimewa apa adanya... Melalui pupuk cinta, perhatian, dan pendidikan dari orang-orang yang percaya pada saya.

Jangan lelah untuk belajar, start kita sama kok sebenernya, hanya proses yang akan membuat kita beda ending :”)
continue reading Kalian, Bentuk Terindah dari Baiknya Tuhan Padaku

Kamis, 12 Oktober 2017

Menjaga perasaan orang tua adalah hal utama nan terbaik bagi seorang anak. Sampai-sampai sholat sunah kalah nilai utamanya dibandingkan menaati perintah mereka.
Ketika orang tua melakukan kesalahan pun, kita tetap tidak boleh memarahi, membentak dalam mengingatkan. Diksi yang lembut yang belum pernah terucap bahkan dianjurkan mengalir dari bibir untuk melembutkan hati mereka.
Tidak boleh ada kata ‘nanti’ dalam menaati pinta mereka. :)
continue reading

Selasa, 10 Oktober 2017

Be A Productive

Beberapa waktu lalu teman saya menghubungi saya untuk mencurahkan kugandahan hatinya #girlszamannow. Kegundahan hati mengenai sulitnya menjadi produktif setelah kehidupan pasca kampus. Hmm... sesungguhnya ini pun yang menjadi kegundahan saya setahun yang lalu setelah saya lulus kuliah hehe. Saya jadi menerawang ke belakang.

Menjadi produktif di tengah kehidupan masyarakat tidak semudah dulu saat di kampus. Entah karena alasan pertama, gap umur yang berbeda sehingga menjadikan kita bingung harus ke kelompok yang mana. Ikut remaja masjid sudah nggak remaja lagi, ikut kumpulan arisan ibu-ibu RT eee belum diundang karena dianggap belum saatnya haha. Dilematis sekali ya. Atau alasan kedua, waktu kita yang serasa terhimpit karena ditekan rutinitas bekerja. Berangkat pagi, pulang sore. Beres-beres rumah, eeeh sudah magrib saja, orang-orang sudah pada masuk rumah. Menyapa tetangga pun kadang hanya sekedar saat berpapasan jalan hendak ke kantor. Syukur-syukur kalau weekend ada acara di kompleks, bisa dijadikan kesempatan untuk bersosialisasi dan berkumpul dengan tetangga yang lain. Tapi acara rutin seperti itu jarang ada. Duilehhh pusying, ya. Terus kerjaannya habis dari kantor glepah-glepoh doang di kasur? Bagi orang-orang yang sudah terbiasa bergerak, percayalah, situasi semacam glepah-glepoh di kasur doang itu adalah awkward moment bangetttt. Keadaan akan makin berkali-kali lipat menjadi sulit apabila tempat domisili pasca kampus kita bukanlah di kampung halaman dan bukan pula di kota tempat kampus kita berada. Intinya kita belum pernah mengenal tempat kita sekarang, tidak ada teman zaman sekolah dulu ataupun kerabat. Fix, kering sendirian haha.

Semua butuh proses... begitupun yang terjadi pada saya. Alhamdulillah sekarang saya telah melewati kegundahan tersebut. Sedikit demi sedikit saya mulai memiliki pemahaman baru mengenai produktif itu sendiri. Karena ya sekali lagi... kita harus ingat bahwa cara aktualisasi diri kita saat di kampus, dengan pasca kampus harusnya dibedakan. Definisi produktif saat di kampus, dengan saat pasca kampus pun harus dibedakan. Karena... lahannya sudah beda, status kita sudah beda, apa yang kita hadapi pun berbeda. Maka bertumbuhlah dengan pemahan yang baru dan seharusnya. Kita tidak bisa menuntut semua kondisi sama seperti kita di kampus dulu. Di masyarakat nggak ada yang namanya organisasi buka oprec, beda sama di kampus yang organisasi malah nyari-nyari anggota. Di masyarakat, kita yang menjemput bola untuk bersosialisasi dengan tetangga sekitar, nggak akan ada yang datengin kamu dan bilang "dek kok dipojokan aja.. gih sini ikut gabung ke tengah" ada sih, tapi bakal jarang. Dannn lain-lain. Laluuu gimana ini oh gimana haha.


Masing-masing dari kita berhak memberikan definisi sendiri mengenai produktif itu. 
Namun bagi saya, menjadi produktif adalah hak setiap orang, terlepas apakah ia seorang ibu rumah tangga, pelajar, atau pekerja. Tanpa harus terkekang dengan statusnya. Karena sebenarnya disadari atau tidak, tuntutan untuk menjadi produktif itu sudahlah menjadi fitrah manusia. Se-mager-er apapun kamu, pasti akan ada bosennya juga dan pengen gerak kan?


Maka, di dunia pasca kampus ini, saya jadi nggak muluk-muluk memasang target mengenai produktivitas saya sih. Karena ya itu tadi, kondisi berubah seperti serangan negara api. 
Bagi saya sekarang, tolak ukur sebuah produktivitas diukur dari 3 hal:

1. Sejauh mana setiap waktu yang kita miliki, dapat senantiasa dioptimalkan dalam amal kebaikan. 
Dan kriteria ini memberikan ruang seluas-luasnya bagi setiap manusia, dengan potensi apapun. 😊
Satu hal yang saya yakini, Allah tidak pernah menciptakan kita sebagai manusia biasa-biasa saja, karena kita semua dicipta untuk menjadi khalifah.
Maka tugas seseorang untuk bisa produktif, memerlukan usaha optimal untuk mengenali dirinya sendiri, menemukan tujuan penciptaannya, lalu menemukan peran terbaik yang Allah titipkan pada diri kita.
Ketika kita sudah menemukannya, maka tugas kita selanjutnya adalah "beramal beramal beramal", memanfaatkan setiap waktu untuk senantiasa dalam aktivitas kebaikan. Sekalipun aktivitas itu adalah merapihkan rumah, membaca buku, atau membantu membagikan minum di acara pengajian di masjid dekat rumah, dsb.

2. Kriteria produktif bagi saya, 
Bukan hanya kita melakukan amal kebaikan, tapi ia pun adalah amal yang penuh ikhlas dan taqwa.
Kenapa? Karena kualitas keberkahan suatu amal, akan bergantung pada niat dan proses pelaksanaannya. 
Produktif bermakna berkarya yang menghasilkan manfaat seluas-luasnya. Dan Allah lah yang Maha Menentukan, sejauh mana sebuah amal itu bermanfaat. Yang saya yakini, ketika sebuah amal dilandasi oleh bekal niat yang ikhlas, dan dilaksanakan penuh ketaqwaan, maka keberkahan dari amal tersebut akan melimpah berlipat ganda. Terlepas apapun kegiatannya.
Punten, saya adalah tipikal orang yang meyakini, tidak ada amal baik yang terlalu sepele untuk dilakukan. Jangan pernah meremehkan suatu amal yang menjadikan kita lupa kepada Siapa kita beramal. Boleh jadi, sebuah prestasi yang kita anggap besar, namun kecil nilainya di sisi Allah. Dan boleh jadi, suatu aktivitas yang kita anggap remeh, ternyata Allah limpahkan keberkahan luas di dalamnya.
Sebagai contoh, misalkan kita mendengar tetangga kita jatuh sakit, padahal waktu sempit dan kita mungkin tak mampu memberikan bantuan materiil. Kita memilih untuk sekedar membagi sedikit dari masakan kita untuk makan siangnya, yang di dalamnya terselip doa tulus penuh harap kepada Allah.
Kalaulah Allah berkehendak menurunkan keberkahan, sangat mungkin, dari sepiring makanan tersebut, ia berbuah menjadi rasa akur antar tetangga. Dan itu bermula dari sepiring makanan yang penuh berkah.

3. Kriteria ke-3 bagi saya, kalaulah kita di hadapkan dengan berbagai pilihan kegiatan dan aktivitas. Maka prioritasnya adalah:
- utamakan yang wajib baru yang sunnah
- utamakan yang lebih banyak manfaatnya dan lebih sedikit mudharatnya
Tantangannya, bagaimana kita mengetahui mana yang terbaik? 😊
Di situlah kita harus senantiasa menjadi seorang penuntut ilmu. 
Menjadi seorang insan, apapun status aktivitasnya, menuntut kita untuk senantiasa belajar. 
Minimal, kita harus belajar:
1. Ilmu agama murni: Tauhid, Aqidah, Akhlak, Fiqih, Al-Quran
2. Ilmu tentang kesehatan, nutrisi, dan olahraga.
3. Ilmu lain yang sesuai dengan 'muyul', kecenderungan ketertarikan pada bidang ilmu tertentu yang memang sesuai dengan potensi dan bakat kita.

Seriusss... saya baru beberapa saat ini menyadari bahwa ilmu-ilmu tersebut penting banget. Karena kita hidup di tengah masyarakat yang notabene heterogen dan kadang bikin kita bingung ambil sikap dalam menghadapi sesuatu yang sedang bergulir. Misal kita tidak menyepakati suatu hal karena bertentangan dengan apa yang kita yakini, tapi kalau kita nggak sepakat dengan hal itu maka kita akan terkucilkan dari masyarakat. Eterus eterus eterus gimana dongs haha... itu pentingnya kita harus belajar ilmu-ilmu di atas tersebut (minimal), untuk membentuk prinsip hidup, pada hal-hal mana yang kita harus tegas dan lunak.

Banyak yang harus dipelajari? 😊

Iya. Emang.
Tapi itu semua sangat sedikit jika dibandingkan dengan nilai sebuah pahala, keberkahan. Dan surga dari Allah SWT.

Hidup kita hanya sekali.
Jadikanlah ia bermakna.. dan tiket kita berpulang ke surga.
Tanpa ilmu, bagaimana cara kita meraihnya?


Kadang yaa ada juga yang rasanya jadwalnya begitu padat, kalau dilihat kasat mata tuh udah lah itu itungannya produktif, tapi kenapa merasa waktunya terbuang percuma(?). Mungkin ada yang perlu ditelusuri,
- apakah pekerjaan itu sesuai dengan 'muyul' (bidang minat) kita atau tidak(?)
- apakah dalam pekerjaan tersebut terdapat manfaat atau tidak(?)
-apakah pekerjaan tersebut melibatkan maksiat yang mengurangi atau bahkan menghapus keberkahan atau tidak(?)

Karena,
Seharusnya amal kebaikan yang satu, akan membimbing kepada amal kebaikan lainnya. Seharusnya, setelah beramal shaleh, kita akan merasakan kepuasan syukur lahir dan batin. Allahualam bishawab. Itu cuma berdasarkan perasaan pribadi saya huks.


Sebenernya ya... di tengah masa gundah saya menjalankan peran pasca kampus agar tetap produktif kala itu, saya ngerasa nggak ada lagi yang bisa saya lakukan, kecuali,
Untuk tetap bergerak semampu saya, untuk tetap berdoa sebisa saya.
Dan justru episode terindah, adalah ketika kita menyadari bahwa kita tidak mampu melakukan sesuatu, dan hanya Allah lah yang mampu menyelesaikannya.
Terbukti! Allah kasih saya jalan-jalan kemudahan untuk memanfatkan waktu saya dari hanya sekedar glepah-glepoh di kasur tadi wakakakaka. Percayalah, siapapun yang berjalan, akan menemukan.


Saya masih belajar... Masih jauh dari produktif dan sholihah versi saya. Semoga, kita semua, mampu menjadi luar biasa menurut versi kita. Versi peran terbaik yang Allah titipkan pada kita. Agar kita semua, akan menemukan penghujung kehidupan kita, sebagai sesuatu yang penuh makna.. Husnul khatimah :")
continue reading Be A Productive

Minggu, 01 Oktober 2017

Warisan Kemiskinan

Hari ini teman saya mengunjungi saya. Kami bermaksud untuk menghabiskan waktu bersama. Kami tinggal satu kota sejak satu tahun terakhir, tapi tak pernah bertemu dan mengobrol bersama. Maka hari ini kami berdua meng-azzam-kan diri untuk tidak jadi generasi menwa (MENtal WAcana) hehehe.


Yogyakarta beberapa hari terakhir begitu basah. Mungkin memang sudah saatnya musim hujan(?) setelah saat ini kita tidak bisa mematok bulan hujan seperti pelajaran IPS di SD dulu(?)

Kadang kami ngobrol, tertawa, sepanjang perjalanan itu... hingga handphone teman saya berbunyi. Ternyata ibunya yang menelpon, agaknya mereka sedang membicarakan hal yang serius. Maka sejurus kemudian, saya berkamuflase menjadi tempat tisue di dalam mobil; atau menjadi jok tempat duduk kami(?) Saya mulai mencari kesibukan sendiri. Yap! Menempelkan pipi di kaca jendela mobil yang dingin ditambah tetesan-tetesan air hujan yang menempel di luar jendela membuat perut saya ikut adem *apa hubungannya(?)*


Lalu pipi saya serasa bergetar, tuk tuk tuk... cepat-cepat saya angkat pipi dari kaca mobil. Ternyata ada anak laki-laki usia 8 tahunan yang membawa ukulele sedang mengetuk-ngetuk kaca mobil kami yang tengah menunggu lampu hijau, tepat di pipi saya berada. Dia menganggukkan kepalanya, isyarat meminta izin kepada saya yang memandangnya dari dalam mobil untuk mulai unjuk gigi. Saya tidak begitu mendengar dia menyayi lagu apa, suaranya samar-samar dihajar riuhnya tetesan air hujan. Kasihan sekali, rambutnya -yang kalau saya jadi ibu gurunya pasti akan saya potong sembarangan karena terlihat amat tidak rapi- lepek, kaos tipis yang lengkungan kerahnya melebar hingga hampir setengah dada plus kebesaran itu pun basah kuyup. Secepat kilat saya berhenti melucutinya dengan mata saya, “Zil Zil duit duit buruan duit sini!”, ucap saya kepada teman saya yang masih ditelpon ibunya, sambil saya membuka ziplock tas saya untuk mencari dompet. Saya mulai menurunkan kaca mobil, saya julurkan tangan saya dan anak laki-laki itu menyambut tangan saya sambil tersenyum. Dia sudah memasang kuda-kuda untuk kembali berlari hingga saya teringat bahwa saya punya sesuatu “Kamu mau jajan? Aku punya jajan lhoh.”, “Mau mbak.” jawabnya. Lalu saya buru-buru mengambil bungkusan-bungkusan yang kami beli tadi. Makanan itu bukanlah makanan-makanan sehat untuk si anak lelaki itu huks. Karena makanan-makanan itu adalah makanan termicin yang bisa jadi membuatnya akan semakin terbodohi hidup di dunia yang fana ini. Tapi kami hanya memiliki itu untuk kami bagi. “Akeh banget mbak. Makasih mbak” lalu dia berlalu setelah saya memberikan senyum terakhir padanya.


Mata saya mengikutinya hingga punggungnya tak tampak lagi karena tertutup kendaraan-kendaraan yang lain. Saya... emmm selalu merasakan perasaan yang sama tiap kali melihat anak-anak atau orang sangat tua yang terlampau tua(?) berada di jalanan. Semacam ada es batu yang ditempelkan di jantung hati saya dan membuat saya merasakan agak sedikit perih, panas saking dinginnya, geli *asudahlah saya tidak pernah baik dalam hal mendeskripsikan perasaan*


Saya mulai menghadapkan badan saya kembali ke depan, menghembuskan nafas yang berisik, menyandarkan kepala ke tempatnya yang terlalu ke belakang –saya rasa-. “Lo ngajarin orang jadi males Mon” teman saya mulai mengeluarkan suara, sesaat setelah ia mengakhiri obrolannya dengan sang ibu lewat telpon. “Kok lo ngomongnya gitu sih Zil. Lo nggak tau Zil... nggak semua orang jadi miskin gara-gara mereka males.” jawab saya.


Sadar nggak sih, banyak dari kita yang cara berpikirnya selalu menghubung-hubungkan miskin sama malas. “Kamu tuh belajar yang rajin!!! Biar nanti hidupnya enak. Kalau males-malesan nanti kamu jadi orang miskin!” hayolooo siapa yang zaman kecilnya sering dapet ocehan itu saat males belajarrr? Wakakaka.


Saya berteman dan mulai mengenal begitu banyak orang heterogen dari berbagai lapisan masyarakat selama 24 tahun hidup yang sudah saya jalani. Mengenal banyak orang menjadikan saya memperoleh pemahaman baru bahwa kemiskinan bukanlah melulu soal malas. Sebaliknya, ada kesempatan dan takdir yang berperan pula membawa mereka ke kondisi kemiskinan. Berteman dengan anak penjual rokok digerobak kecil, penjual bumbu dapur di emperan pasar (bukan punya kios ya, tapi yang ngemper doang gitu), ataupun anak seorang tukang cuci (single parent) membuat mata saya terbuka terhadap kemiskinan itu sendiri.


Saya masih ingat betul kala itu, ibu dari teman saya memarahi teman saya habis-habisan karena menghilangkan uang 500 rupiah, saat itu saya memandang ibunya terlalu lebay. Namun, ternyata dia mengatakan 500 rupiah adalah 1/10 total pendapatan keluarga mereka dalam sehari. Saya jadi bisa membayangkan betapa berharganya uang 500 rupiah tersebut bagi mereka pada saat itu.


Hal itu membuat saya tersadar betapa dekatnya saya dengan kemiskinan, saya beruntung dan bersyukur karena memiliki orang tua yang tahu pentingnya pendidikan dan membiarkan saya fokus belajar tanpa saya harus perlu pedulikan biayanya. Tentu saja, ini semua juga tidak terlepas dari izin Allah SWT membiarkan saya memiliki takdir strata sosial yang ini. Meskipun begitu, saya tetap mencoba menjejakkan kaki tetap ke bumi untuk melihat realita kemiskinan dari kacamata mereka.


Oleh sebab itu, saya suka rada sedih saat dengan entengnya ada yang berkomentar kalau kemiskinan itu akibat dari mereka yang malas belajar atau berusaha. Come on, lo kayaknya pikniknya kejauhan dehhh.


Semakin jauh saya melangkah, saya mulai berteman dengan orang kaya, yang kalau ingin menenangkan diri tinggal bilang "pengen bla bla bla" maka tiba-tiba di IG mereka betebaran foto-foto di Maldives. Dari pergaulan itu saya semakin menyadari kesenjangan itu nyata adanya. Saya pernah ketemu anak orang kaya yang emang dari orok emang udah kaya. Dari kecil udah di-les-in bahasa inggris, lahir di luar negeri dan keluar negeri bukanlah hal yang ‘wah’ buat dia, jadi ya bahasa inggris buat dia kayak ngomong di pasar aja. Dapat buku ini itu tinggal nunjuk tanpa mikir harganya berapa. Kalau pas lagi jalan sama dia tiba-tiba semua orang bakal baik sama lo ckckckck sumvahhh fanaaa fana emang ye dunia. Circle pergaulannya nggak jauh-jauh dari anak pejabat; konglomerat. Habis lulus, langsung dapet kerjaan enak tanpa perlu nunggu macem kita-kita ini. Sampai sekarangpun dia tetaplah kaya (ya eyalah). Terus? Dia ini apakah jadi sukses seperti sekarang karena kerja keras tanpa mengenal lelah sampai kayang koprol? Ha?


Beda cerita, ada anak yang dari SD SMP pinternya banget. Bapaknya pedagang asongan. Si anak ini tiap sekolah bawa gorengan yang dia ambil dari tetangganya untuk dititipkan di kantin sekolah, pendapatan yang 100 rupiah pergorengan dia kumpulkan untuk biaya sekolah dan jajannya. Tapi sayangnya dia tidak bisa melanjutkan sampai SMA karena dia harus menggantikan bapaknya yang sakit untuk berdagang asongan. Terus, apakah dia tidak bisa menggapai cita-citanya dan gagal melanjutkan sekolahnya gara-gara dia adalah pemalas dan seorang yang bodoh? Ha?


Ini cuma contoh kasus, banyak juga saya menemui orang yang miskin dan akhirnya sukses atau meraih pendidikan tinggi. Yang saya ingin bilang adalah, ada baiknya kita mulai merenungkan kembali bagaimana nasib kita ‘yang lebih baik’ dapat mencapai titik sekarang ini. Meng-oversimplify bahwa kemiskinan adalah resiko dari kebodohan dan kemalasan adalah contoh tidak open-minded nya kita melihat realita yang ada. Butuh kerja yang ekstra bagi orang miskin (dibandingkan yang tidak miskin) untuk mendapatkan akses informasi atau ilmu yang dapat menunjang karir kesuksesannya atau pendidikannya. Yassalam... boro-boro mikirin begitu ya, kebanyakan mereka tidak punya waktu untuk belajar karena mengisi perut adalah prioritas utama.


Jadi, tidak jarang mereka (orang miskin) lebih keras bekerja dibandingkan kita ini (kelas menengah). Mereka terpaksa melakukan itu karena kemiskinan yang diwariskan kepadanya, dan akhirnya hal itu yang terus memaksa mereka menjadi miskin. 


Seorang kakak pernah bilang bahwa, kemiskinan tidak bisa diselesaikan oleh satu ilmu terapan saja, butuh komprehensif konsep, ide dan aksi nyata. Tentu saja itu tidak mudah, tidak semudah mulut saya yang nggak tau diri dan banyak omong ini, tapi semoga jadi reminder. Kalau takdir Allah begitu baik untuk kita dipercaya sebagai orang kaya yang mampu memberikan fasilitas pendidikan terbaik ke anak-anak nanti, kita tetap jadi orang yang tidak banyak tingkah mengolok-olok kemiskinan yang telah menjadi warisan. Atau minimal, kita mampu mengingatkan sesama kelas menengah, untuk tidak menyalahkan si miskin karena kemalasannya.
continue reading Warisan Kemiskinan

Selasa, 26 September 2017

TEMAN HALAL

Assalamu’alaikum


Menurut kamu, apa sih halal itu?

Halal adalah yang tadinya “gaboleh” jadi “iya gapapa”, yang tadinya “jangan deket-deket” jadi “sini jangan jauh-jauh” #jawabanterHALAL *lempar sandal*. Atau #jawabanterJOMBS bahwa halal adalah suatu kata yang sering diimpikan oleh seorang single *guling-guling di pasir*. Atau ini nih #jawabanterBAROKAH bahwa halal adalah salah satu misi untuk mencapai visi hidup: masuk surga tanpa ‘mampir’ ke neraka.



Saya pernah mengikuti Kuliah Halal Class gitu di suatu kampus negeri di Jogja... disitu juga ada expo makanan-makanan halalnya. Sebenarnya bahasan makanan halal itu (sepengetahuan saya) sudah booming sejak beberapa tahun yang lalu sih, karena mulai banyaknya kampus yang membuka prodi mengenai Teknologi Pangan atau yang berbau-bau pangan gitu lah ya pokoknya, dan ini berbanding lurus dengan masalah pembahasan mengenai halal. Pertamakali saya lihat event Halal Food Fair itu yang mengadakan salah satu kampus negeri di Kota Malang. Alhamdulillah nya, tahun ini kampus yang ada di Jogja juga punya acara setipe. Yeeayyyyy!!!! Saya rasa acara-acara macam gini tuh good event bangetttt. Walaupun udah booming seperti yang saya bilang tadi, tapi masih agak jarang ada event besar bertema kehalalan. Betapa beruntungnya saya pas nemu event ini dekat tempat domisili.



Keluar dari kelas tersebut, jadi muncul petak-petak berpikir di benak saya dan penuh tanda tanya untuk diri saya sendiri. Pertanyaan-pertanyaan itu bukan lagi terfokus pada makanan yang selama ini saya makan saja, tapi jadi melebar kemana-mana misalnya “apa yang selama ini gue ucapin, halal nggak ya?”, “uang gue, halal nggak ya?”, “ehhh gaji gue dikasih lewat bank konvensional, halal nggak ya?” dan seterusnya.


Terus saya mulai rajin untuk menggali ilmu ke majelis-majelis ilmu; baca buku; dsb mengenai halal ini, akhirnya saya punya jawaban versi agak benernya (karena mau seberusaha apapun, saya ini belum juga bener-bener huks), bahwa halal adalah gaya hidup untuk menginginkan perubahan menjadi lebih baik. Bukan hanya tentang perasaan, tapi tentang apa yang kita lakukan, perkataan yang kita ucapkan, makanan yang kita makan hingga uang yang kita dapatkan.



Dalam suatu kajian saya mendapatkan suatu kenyataan yang headshoot banget haha. Jadi disitu ustadnya bertanya pada audiens “Anda sudah merasa yakin bahwa dengan intensitas kerja Anda yang segitu; tingkat keseriusan kerja Anda yang segitu; kapasitas kemampuan Anda yang segitu untuk perusahaan Anda, Anda layak mendapatkan sejumlah gaji yang Anda terima saat ini? Anda pikir disisi mana keberkahan gaji Anda jika Anda mendapatkannya dengan kualitas yang tidak sebanding dengan apa yang perusahaan dan Anda akad-kan(?)!”

Seketika seperti ada petir yang menyambar kepala saya, sejurus kemudian hati saya pun langsung berucap “matikkkk gueee... gue di kantor sering yutupan di jam kerja padahal nggak ada hubungannya sama kerjaan. Gue juga ngerjain kerjaan sambil haha hihi kurang serius. Belum lagi gue sering ngomel kalau ditambah-tambahin kerjaan terus. Matiikkk matiikkk.” Begitulah kurang lebih yang hati saya ucapkan. Hiks. Sedihhhh nggak sihhhh...



Jadi begitulah...

Sesampainya saya di depan cermin, saya ngomong, “Kapan halalnya?” *ini bukan lagi nanyain Abang yang belum halalin adek ya #pingsandadakan*

Mungkin 96++% generasi millenial sekarang menjawab pertanyaan tersebut dalam frame “Aku dan Kamu sama dengan Kita” *emang udah kadung jadi anak baper sih ya, susah*, walau mungkin ada juga yang jawab “Alhamdulillah aku udah halal, karena insyaAllah makanan yang aku makan, halal”. Plisss laahhh yaaa *ngomong sambil kayang*, halal nggak melulu soal aku dan kamu yang lagi otw, tapi tentang apa yang kita lakukan; perkataan yang kita ucapkan; makanan yang kita makan; hingga uang yang kita dapatkan. Sudah HALAL kah kita????



Maka sejak saat itu pun saya berusaha untuk berjalan ke Gaya Hidup Halal (walaupun saya sadar hingga titik saat ini masih tidak welldone). Sejak beberapa bulan terakhir, setelah gajian, di hari yang sama saya langsung menarik seluruh uang saya yang ada di bank supaya tidak saya nikmati bunga bank nya. Saya pun sedang mempelajari mengenai pengajuan ‘tidak terima bunga’ pada rekening saya karena Alhamdulillah bank yang dijadikan transaksi oleh perusahaan saya (yang itu artinya menjadi bank rekening tempat saya bernaung dalam pengiriman gaji) memiliki fasilitas penghentian bunga bank untuk para nasabahnya. Saya juga sebisa mungkin memperbaiki pola kerja saya yang walaupun itu tidak lah mudah hehe. Saya pun mulai memperhatikan betul-betul mengenai makanan. Dulu saya asal no pork ya udah gasss aja makan, padahal harusnya kita tau bahwa beware food itu bukan terkait no pork aja, tapi ada banyak banget salah satunya khamr/baking powder (ini biasa ditemukan di kue-kue pastry. Tuh kan.. padahal kue mah keliatannya halal ya.. kue gitu loh haramnya darimana(?), eh tapi ternyata kita pun harus waspada sama bahan-bahan yang dipakai dalam pembuatan kue tersebut). Belum lagi mengenai nasi goreng, ada beberapa nasi goreng yang pernah didapati menggunakan angciu, ini sejenis bahan yang emang bikin masakan jadi endeus sih. Ya Allah emang yang gitu-gitu kenapa selalu enak yaaa *tepok pipi*. Angciu ini sari tapai yang difermentasi dan mengandung alkohol gitu. Padahal ya apa salahnya dengan nasi goreng yaa... eh tapi lagi-lagi, kita harus tau apa yang digunakan dalam setiap makanan yang kita makan. Kadang teman saya sampai terheran-heran kalau pas kami makan bareng dan saya merasa ada yang mengganjal di hati saya dan nanya-nanya tentang resep masakan ke penjualnya. Nanyanya jangan frontal, ya hehe biar tidak menyakiti hati yang bersangkutan, buatlah penjualnya nggak sadar kalau sebenarnya kita sedang ‘sidak’ #jengjengjenggg. Lalu mengenai fashion, seperti sepatu kulit; sandal kulit kita sudah tahukah kita terbuat dari kulit apa(?) Saya mendengar dari teman saya yang studi di negara berbasis Islam, untuk merk-merk tertentu dipampang bahan pembuatan fashionnya. Alhamdulillah, seperti ini akan lebih membantu kita ya.



Gaya hidup halal ini maksudnya kita mencoba menerapkan halal sebagai bagian dari kehidupan, memberikan dampak besar dalam hidup, KEBERKAHAN.

Sudah kah merasakan keberkahan dalam hidup?

Sudah sejauh mana hidup yang kita jalani bernilai berkah?

Banyak dari kita yang sebenarnya sangat berkecukupan. Tapi merasa serba kekurangan. Uang yang dibelanjakan makanan dan makanan yang kita makan, selanjutnya akan menjadi daging yang melekat pada tubuh kita. Makanan halal sekalipun, jika cara mendapatkannya tidak halal, maka fix haram. Huks.

Terus kalau haram emang kenapa? 40 hari doa kita dicancel, ditolak, pintu langit seketika tertutup untuk doa-doa kita. Jadi, jangan salahkan kalau hidup kita seringkali terasa sulit, ujian selalu menghampiri, masalah datang bertubi-tubi, cobaan silih berganti, padahal udah doa, padahal udah minta tolong sama Allah. Let’s check together!!! Jangan-jangan keberkahanNya telah Ia cabut... karena tidak halal. Ternyata, sekali lagi, halal itu nggak melulu soal aku dan kamu yang lagi otw, tapi tentang apa yang kita lakukan, perkataan yang kita ucapkan, makanan yang kita makan sampai uang yang kita dapatkan. Sudah halal kah kita?

Semoga kita menjadi pribadi yang semakin baik tiap harinya, semoga Allah memberkahi hidup kita dan mempermudah jalan kita untuk makin dekat denganNya, ya. Aamiin...



Wassalamu’alaikum.... 







continue reading TEMAN HALAL

Senin, 25 September 2017

Ayam Goyenggg

“Kak, terima kasih banget yaa, Kak!” kata si anak pertama.


“Mbak, matur nuwun sanget nggih, enak!” si anak kedua menyahut.


Aku tersenyum. “Enak ya, Dek? Makannya harus habis ya, jangan disisain nanti mubadzir.”


“Mbak, ayamnya aku makan terakhir aja buat gong ya. Makan nasi pakai saos aja dah enak.” anak yang sedari tadi diam kini angkat bicara.


Aku menarik sedikit senyumku. “Loh, memangnya jarang, Dek, makan ayam? Biasanya makan apa kalau di sini?”

“Jarang banget, Mbak. Ben minggu tok. Sepisan,” jawab si anak berbaju oranye.


“Nggo bayem, tempe, tahu, sambel, Mbak,” kali ini anak paling tambun angkat pendapat.


***


Seminggu sekali. Atau bahkan sebulan sekali. Beberapa justru hanya makan ayam goreng jika ada perayaan besar, seperti Lebaran atau peringatan 17 Agustus saja. Sebegitu istimewanya ayam goreng bagi anak-anak di Gunung Kidul ini.

Sedangkan kita, bisakah kita menghitung berapa kali seminggu kita makan ayam? Pernahkah bosan sampai ingin cari menu selain ayam? Maka, sudahkah kita bersyukur atas potongan ayam goreng yang kita makan hari ini? Selamat merenungkan sepotong ayam goreng! :)

continue reading Ayam Goyenggg

Senin, 18 September 2017

Rest


Saat aku lelah menulis dan membaca
Diatas buku-buku kuletakkan kepala
Dan saat pipiku meyentuh sampulnya
Hatiku tersengat
Kewajibanku masih berjebah, 
Bagaimana mungkin aku bisa beristirahat?
Jadi ayoooo... makan *lhoh!*

Karena istirahat yang sebenarnya hanyalah di surga.
continue reading Rest

statistics

Bukan pakar, mari sama-sama belajar. Pun bukan ahli, mari saling berbagi | Melangit dan Membumi

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact