Senin, 08 Mei 2017

Janji pada Diri Sendiri

Mari buat perjanjian pada diri sendiri, isi janjinya:
"bagaimananpun di dalam sedang badai, di luar harus tetap tampak damai. Supaya orang lain ikut merasa damai. Daann janji, seberapapun di luar sedang badai –yang biasanya juga membuat di dalam badai-, di dalam harus selalu damai. Damai, damai, damai. Berdamai dengan diri sendiri supaya bahagia, kemudian membahagiakan."
continue reading Janji pada Diri Sendiri

Sabtu, 06 Mei 2017

Memetik Hikmah

Dalam salah satu teori kecerdasan yang dikemukakan oleh Gardner, dikenal kecerdasan intrapersonal. Yakni kemampuan memahami diri sendiri, menghargai, memahami perasaan, keterbatasan, kekuatan, dan motivasi diri sendiri. Dalam pengamatan saya, biasanya orang-orang yang memiliki kecerdasan seperti ini adalah orang-orang yang pandai mengambil hikmah dalam kehidupannya. Mereka yang selalu tahu menyembuhkan dirinya sendiri. Mungkin mereka bisa cepat berdamai dengan konflik batinnya. 


Ada sebuah kata bijak Arab yang menyebutkan, barang siapa yang mengenal dirinya, maka dia akan mengenal Tuhannya. Meskipun saya kurang begitu paham apa maksud kalimat ini, tetapi saya secara pribadi mengaitkannya dengan kemampuan kita untuk berkomunikasi dengan diri sendiri agar mengikuti suara-suara kebenaran dari dalam diri. 


Katanya, naluri itu tidak pernah bohong. Bahkan seorang pencuri pun tahu kalau ia salah. Seorang pemabuk pun tahu kalau kelakukannya tidak benar. Tetapi, mereka mengabaikan naluri-naluri yang ditiupkan Tuhan dari dalam diri mereka. Orang-orang yang tidak mengenal dirinya yang terdalam mungkin lebih mengikuti hawa nafsunya. Disadari atau tidak, Tuhan telah memasang alarm dalam tubuh kita, yang akan berbunyi ketika kita melakukan kesalahan. Kalau masih tersentuh oleh kesalahan itu, mungkin saja itu rahmat Tuhan yang membuka jalan agar kita mengubah jalan pikiran kita.


Dalam hidup ini, di setiap interaksi sosial kita dengan sesama manusia atau alam, selalu ada kesempatan untuk mengambil pelajaran untuk peningkatan kualitas diri sendiri ke depannya. Inilah sekolah kehidupan yang tidak mungkin didapatkan dalam ruang-ruang kelas. Tetapi, dalam kehidupan sosial yang kita hadapi. Masalah dan pengalaman hidup akan menuntun kita untuk belajar. Menelaahnya ke dalam diri sendiri dan mengambil pelajaran di dalamnya adalah hikmah. Karena selalu ada hikmah di setiap kejadian. Dan kita akan terus belajar dalam kehidupan ini. 

Saya selalu senang dan merasa beruntung tiap kali ada orang yang mempercayai telinga saya untuk mendengar cerita atau mengadu apapun kepada (walaupum banyaknya saya cuma angguk-angguk doang sih. Hmmm). Karena tidak selamanya pelajaran hidup itu harus kita sendiri yang menjalani kan? Bisa jadi lewat kejadian-kejadian yang dialami oleh orang-orang disekeliling kita.

Terlebih lagi, saya bahagia jika bisa setidaknya 'menemani' orang-orang dalam masa-masa sulitnya. Walaupun hanya dengan kalimat receh saya yang terdengar klise seperti "Semangattttt", "Yang sabar", dll. Saya hanya ingin hidup saya bermanfaat dan bisa menolong orang (walaupun banyaknya sih ngrecokin hidup orang lain saya ini) hahaha.
Satu hal, karena saya sadar bahwa support system adalah elemen yang penting ketika saya down (ini saya pribadi, mungkin yang lain juga butuh treatment yang sama dengan saya), saya dengan tangan terbuka akan mendengarkan cerita teman-teman dan membantu sebisanya. Karena kadang, melihat masih ada orang disamping kita saat kita berada dalam situasi sulit, sudah bisa meredakan 20% kekhawatiran kita (masa? Riset darimana? Ehe!). Semangat semuanya! 

Katakanlah (wahai Muhammad) apakah sama orang-orang yang mengetahui dan orang-orang yang tidak mengetahui. Sesungguhnya orang berakallah yang dapat menerima pelajaran. (Az Zumar: 9)
continue reading Memetik Hikmah

Merantau

Di sini dan nun jauh di sana banyak orang yang sedang mengukir kisahnya masing-masing. Untuk menjadi lebih berarti.


Seringkali kita bahagia ketika berhasil mewujudkan satu persatu mimpi kita. Kita datang dari sebuah desa atau kota yang kecil. Berjuang dengan cara masing-masing hingga berhasil menghirup udara di sebuah kota besar di lain pulau, atau kota bermusim lebih yang dulunya hanya kita pandangi dalam acara televisi. Tak jarang pula kita memperbincangkan nama negara dan kota-kota itu dalam obrolan ringan bersama teman saat kelas kosong. Kau menceritakan kota yang sangat ingin kau kunjungi. Terinspirasi dari buku dan film favoritmu. Atau karena klub bola favoritmu berada di negara itu. Ada banyak alasan lain bagaimana keinginan menggapai mimpi muncul dalam hatimu.


Katanya, seseorang yang bepergian, mengunjungi beberapa tempat di luar tanah kelahirannya ini dan seseorang yang tengah mengabdikan dirinya dalam pencarian ilmu di sebuah tempat yang asing akan menjadi lebih bijak dari manusia lain pada umumnya. Tempat-tempat yang tak biasa akan mengajarkan seseorang menjadi lebih berani dan tangguh. Katanya, mereka yang menuntut ilmu di kota besar atau di luar negeri selalu dipandang lebih tinggi daripada mereka yang di kota kecil atau dalam negeri. Padahal mungkin saja banyak orang yang hanya bepergian tetapi tidak menjadi lebih berarti. Mereka hanya datang, memotret tempat-tempat indah, memuaskan hatinya dan menikmati keadaan yang tak abadi itu. Lalu mereka pulang dengan kehampaan dalam hati. Semua cerita hanya terangkai di mulut, tetapi tidak menajamkan akal dan mengembangkan jiwa. 


Di sebuah desa atau kota kecil ada seseorang yang mungkin belum pernah ke luar negeri atau bahkan tidak mengenyam pendidikan tinggi, tetapi perubahan yang mereka ciptakan telah melangkah jauh dan melangit. Mencapai harapan-harapan tinggi orang-orang di sekitarnya. Mereka mungkin adalah orang-orang yang dengan kesederhanaannya telah menggugah banyak jiwa. Menjadikan jiwa-jiwa itu lebih mulia di mata Tuhan. Mereka lebih bersyukur dan bahagia. Mereka lebih paham akan makna kehidupan. Mereka yang selalu bisa menciptakan pelangi, meskipun hujan belum berhenti. 


Mereka lebih pandai menjaga harapan. Bahwa keindahan hidup bukan hanya tentang seberapa jauh langkah kakimu melintasi dunia. Tetapi, sedalam apa tujuan hidup bisa kau pahami. Mereka yang selalu paham bahwa membumikan kebaikan jauh lebih berarti. Semestinya kita yang telah jauh melangkah, lebih memaknai kebijaksanaan hidup. Semakin kaki melangkah jauh, semakin dalam pula hati tertunduk. Adakah kau melihat pelangi hari ini?


Semoga, berjaraknya kita dari rumah, tidak akan pernah sia-sia.

continue reading Merantau

Kamis, 04 Mei 2017

Koran

Tentu saja saya tersulut. Sebagai satu-satunya orang yang percaya hingga ke ubun-ubun bahwa saya keren, pastilah saya ingin membuktikan bahwa kepercayaan saya benar. Lebih kurang begini kata murabbi saya waktu itu (semoga Allah merahmatinya), “muslimah itu harus gaul,, jangan ngaku keren kalau ngga up to date sama berita-berita terkini, blablabla, harus sering baca koran, blablabla”.

Terus terang, saya ini jarang bersinggungan dengan koran, kecuali saat makan di warteg dan itu bungkus luarnya adalah koran. Tapi saya masih percaya ini bukan keinginan saya. Ini sindrom yang tak bisa saya kendalikan *alesan*. Jika anda melihat saya sedang membaca koran pada pukul 10.00. Maka, pada pukul 10.10 anda akan melihat saya tertidur pulas tanpa dosa. Dan entah kenapa, saya sepertinya akan merasa sangat bersalah jika membaca koran. Karena saya memegang prinsip: jika keinginan membaca itu datang, yang mana itu sangat langka, saya harus memanfaatkannya untuk membaca buku-buku yang menarik saja.

Jadi pada akhirnya, pada suatu Jum’at yang damai, saya mengambil keputusan yang sulit: Ya! saya akan membeli koran (dan membacanya). Waktu itu hari jum'at libur karena tanggal merah, dan saya ingin sholat di suatu masjid tertentu untuk mencari ketenangan batin, akhirnya kira-kira jam 11-an saya sampai di masjid tersebut. Karena masih jam 11an, akhirnya saya makan di sekitaran masjid itu sekaligus merealisasikan niat mulia membeli koran.

Pucuk dicinta ulam pun tiba. Jujur saja, saya tidak tau “ulam” itu apa dan apa relasinya dengan pucuk dicinta. Tapi saya yakin sedang memakai peribahasa yang tepat. Ketika sedang makan, ada bapak-bapak penjaja koran yang mampir di food court tempat saya sedang makan. Tanpa berpikir panjang, saya panggil si bapak-bapak sambil tidak lupa menjentikkan jari seperti menyetop angkot. Saya harus memanggilnya dua kali, karena si bapak tampak ragu apakah benar ia yang saya panggil. Bapak itu kemudian mendatangi saya dengan wajah masih bingung yang membuat saya juga bingung dan sedikit berbesar kepala, saya merasa seakan-akan si Bapak itu tidak membayangkan dalam mimpi sekalipun seorang wanita anggun seperti saya akan membeli korannya. Ah. saya jadi malu.

Saya pun memulai transaksi.

“berapaan pak korannya?”

“seribu neng”, jawab si Bapak

“oh, seribu??” kata saya dengan nada seolah-olah akan memborong semua koran. Pongah sekali. Tapi bukan apa-apa, saya agak terkejut. Waktu itu saya menaksir koran berada di kisaran harga lima sampai sepuluh ribu. huks. Saya pikir koran harga seribu itu cuma yang di bis bis antar kota saja.

Akhirnya transaksi jual beli terjadi. Seketika kepercayaan diri saya meningkat beberapa derajat. Bagaimana tidak, di genggaman saya sudah ada koran. Ya. Koran. Sakti sekali, dia akan memberi tahu saya kabar-kabar paling anyar di kehidupan ini.

Tanpa berbasa basi, dengan gaya-pada-umumnya orang membaca koran yang sering saya lihat di televisi, saya kibaskan, buka lebar, dan guncang-guncang pelan agar rapi (?) koran itu dengan style paling elegan yang bisa saya lakukan. Gagah sekali. Jujur saja, membaca koran di depan umum cukup membuat saya deg-degan.

Dan, taraaa!!! Hanya selang beberapa detik setelah adegan andalan saya (kibas, buka lebar, dan guncang-guncang), saya langsung kebingungan, dan mendumel bodoh dalam hati sambil membalik-balik halaman koran “loh? ini gimana cara bacanya? halaman depannya mana ya? ini koran judulnya apa sih? kok tipis banget ya?”. Saya ulang membolak balik halaman koran dengan hiperbolik, seperti pengangguran yang bernafsu mencari lowongan kerja. Saya benar-benar kebingungan. Untuk memudahkan pemula, harusnya koran tidak dicetak semisterius ini. Saya tidak sadar kalau saya sudah terlalu lebay, mengakibatkan orang-orang di sekeliling yang terusik sudah melirik-lirik ke arah saya.

Seperti di sambar gledek di siang bolong melompong, saya menyadari sesuatu. Rasanya waktu berhenti sepersekian detik. Hening. Dan kemudian sebuah suara bergema dalam otak saya “HELLOO?! Sekarang hari jumat, sist!!! J-U-M-‘-A-T!!! orang-orang bentar lagi SHOLAT JUM’AT! Dan koran itu, iya. Koran itu, oh please, itu buat ALAS SHOLAT JUM’AT!!! Ya tentu aja halamannya ngaco” Saya hancur berkeping-keping. Merasa dipecundangi oleh si Bapak-bapak penjual koran yang tadi berwajah kebingungan. Kepercayaan diri saya yang tadi sudah meningkat beberapa derajat kini jatuh terjerembab dengan dramatis.

Lalu saya lipat koran itu dalam gerakan slow motion sambil melirik ke kiri dan ke kanan seperti akan mencuri sandal. Saat itu, saya malu sekali, saya benar-benar berharap tidak menjumpai orang yang saya kenal. Maklum, image saya masih suci putih bersih seperti bayi yang baru lahir. Saya masih tidak rela dipergoki dalam kejadian-kejadian memalukan. Saya beringsut keluar dari food court dengan langkah kaku, pelan-pelan takut limbung, diiringi musik latar pengantar pengantin menuju altar: Here’s come the Bride. Dengan suara violin tercekik. Saya merasa mata-mata yang tadi melirik ke arah saya masih mengikuti gerakan-gerakan aneh yang spontan saya lakukan.

Saya mempercepat langkah. Meninggalkan si koran nista di bangku-bangku depan food court. Berjalan menjauh sambil mengguncang-guncang kepala seakan-akan memori tertentu (yang memalukan) bisa hilang begitu saja dengan mengguncang-guncang kepala. Jelas sia-sia. Tapi tetap saja selalu saya lakukan.

Baiklah.

Hikmah yang saya petik adalah pertama: sering kali kecenderungan terjadinya hal-hal konyol alamiah yang memalukan berbanding lurus dengan keinginan membuktikan kekerenan. Kedua: kesotoyan kadang memilukan. Hidup ada kalanya pahit, jenderal!

Beberapa saat berlalu, saat saya sudah hampir menerima kenyataan pahit ini, pikiran saya seolah ingin menenangkan saya dengan berkata "Hal-hal seperti itu lazim terjadi di zaman sekarang(?), saya tidak perlu lebay menanggapinya." Hoho. Saya sangat dewasa. Selesai.

continue reading Koran

Perempuan (lagi)

Suatu saat, dia bertanya pada saya: "Bagaimana caranya menjadi perempuan? Aku ingin jadi perempuan"



Yassalam... mungkin dia perutnya sedang kembung karena kebanyakan minum air putih anget engga pakai es. Makanya kepalanya mungkin ikutan kembung, jadi kehilangan setengah kesadarannya.

Pada saat itu, saya membaca pesannya dengan mata kriyep-kriyep. Ini indikasi bahwa saya merasa tertohok. Bagaimana tidak? dia bertanya tentang ke-perempuan-an pada saya yang sebenarnya saya ini adalah jelmaan dari pria *lhoh!!!!* *Tidakkkkkk* *mengais-ngais tanah*


Saya jawab, "Emm"...

Seratus abad kemudian, masih tidak ada respon darinya.... Waduh, saya mulai khawatir... sepertinya dia serius. Serius pingsan. Saya takut karena saya tidak menjawab, dia akan frustasi, dan overdosis kebanyakan makan kue cubit. Ini sangat memilukan.

Saya mengalah dan akhirnya menjawab, "Sesungguhnya, akupun masih belajar, mari kita belajar sama-sama!!! Yayyyy"

Masih tidak ada tanggapan...

Hufttt.. baiklah. Saya mengalah lagi... kali ini saya tidak akan bermain api atau akan mendapati satu nyawa menjadi korban kue cubit.
"Bahwa kita (perempuan) alangkah baiknya mempelajari kisah dari empat wanita yang djamin dengan surga. Ialah Maryam binti Imran, Khadijah binti Khawailid, Fatimah Az Zahra binti Rasulullah, dan Asiyah istri Fir'aun. Bahwa sebenarnya kita (perempuan) sudah diberikan kisah dari empat sosok ini untuk dijadikan pelajaran. Khususnya point tentang mengapa mereka bisa dijamin surga oleh Allah, kemudian kita bisa memilih mau 'menjadi' siapa untuk diterapkan di zaman modern ini. (daaannnn seterusnya. Cukup sampai ini saja yang di post disini, karena yang seterusnya itu adalah buah pemikiran saya yang sotoy dan banyak mudharatnya. Jadi, mari belajar jadi perempuan dari mereka.)"



Semalam, listrik di tempat si dia yang saya ceritakan sedari tadi sedang mati, agaknya dia butuh menggerakkan tangannya. Lalu dia melakukan game "you on my mind" wakakaka apaaa yaa saya lupa lah nama gamenya, kurang lebihnya begitu. Dan taraaaa... saya dibuatkan ini oleh dia dalam hitungan detik(?)... She was talented, isn't it? *setidaknya saya nggak kelihatan kurus krempeng kering, makanya dia saya puji-puji*


continue reading Perempuan (lagi)

Selasa, 02 Mei 2017

Istanbul

Saya sedang bosan dengan wallpaper komputer saya di kantor. Gambar mikroskop dengan tulisan "Design is where science and art break even -Robin Matthew-" yassalammm saya juga tidak habis pikir kenapa saya memasang wallpaper macam begini setahun ini. Pantas saja lama-lama kenampakan saya macem bakteri, tiap hari ketemunya mikroskop sama Om Matthew. 


Istanbul, yang dulu bernama Islambol, sebelumnya Constantinople dan sebelumnya lagi Byzantium. Kota yang menjadi obsesi saya. 


How can i not? Istanbul adalah bukan sekedar kota, melainkan kota penting dalam kurun waktu lebih dari 2600 tahun. Menjadi tempat silih berganti jaya dan jatuhnya peradaban-perabadan besar di muka bumi : Yunani, Romawi, dan Islam. Istanbul adalah rahim sejarah-sejarah penting, bahkan ia adalah sejarah itu sendiri. Ia adalah satu-satunya kota di dunia yang terbentang di dua benua: Asia dan Eropa. Tempat bertemunya Barat dan Timur. Habitat manusia-manusia rupawan peranakan Timur Tengah dan Eropa Timur *Mon? Please -_- ehe*.

Tidak berlebihan rasanya Napoleon Bonaparte pernah berujar, "If the Earth was a single state, Istanbul would be its capital". Istanbul benar-benar terbuat dari kebanggaan.

Hanya ada beberapa hal di dunia ini yang membuat saya tergila-gila dan merasa gila(?). Salah satunya Istanbul.


Benang merah dari cerita ini adalah wallpaper komputer tadi hehe. Tersebab saya akhirnya ganti wallpaper ini



continue reading Istanbul

Senin, 01 Mei 2017

(Meng)Ilmu

Ilmu, suatu hal yang tidak bisa dilepaskan dari manusia. Akal yang dikaruniakan Allah idealnya diisi dengan ilmu, terutama ilmu untuk meningkatkan kapasitas keimanan. 


Dalam perjalanannya, menuntut ilmu tidaklah mudah. Tidak jarang orang yang berputus asa di tengah perjalanannya menuntut ilmu. 

Sekiranya, mungkin kita perlu bertanya pada diri sendiri, "apa niatmu mencari ilmu, sekolah, sekolah lagi, sekolah lagi lagi, sekolah lagi lagi lagi?"

Nenek saya dulu pernah menasehati saya, ketika SD dalam suatu catur wulan rangking saya turun dari biasanya. Nenek saya bilang, "Jadilah orang tawadhu' dalam belajar, jika Allah sudah cinta maka mudah sekali Allah gerakkan hati orang untuk cinta kepadanya. Ilmu tak akan mau mengalir kepada orang yang tak tawadhu', laksana air tak bisa mengalir ke arah tempat yang lebih tinggi." (versi bahasa jawa ya tapi hehe). 


Semalam, saat tadabbur Al-Qur'an time ala-ala saya, saya menemukan kalimat yang begitu indah rasanya untuk saya pribadi saat ini. QS 12: 76, “Wa fauqa kulli dzii ‘ilmin ‘Aliim.”, “Dan di atas tiap-tiap pemilik ilmu, ada yang jauh lebih dalam ilmunya.”. Sejalan dengan apa yang pernah dinasehatkan oleh almarhumah nenek saya bertahun-tahun lalu. Ada langit di atas langit, ada ilmu yang harus terus dicari dan digali. Tawadhu' dalam mengilmu... 



Saya pernah membaca mengenai biografi Imam Syafi'i (bukunya dapat pinjam di perpustakaan kota. (always... nggak modal) mihihik). 

Kisahnya terjadi pada suatu musim haji. Saat itu berhimpunlah 3 ‘ulama ahlul hadits; Ishaq ibn Rahawayh, Ahmad, Yahya ibn Ma’in. 

Mereka hendak menemui Imam ‘Abdurrazaq, penulis Kitab Al Mushannaf. Tapi di pintu Masjidil Haram, tampak seorang pemuda berwibawa. Dia duduk di kursi indah & dikelilingi oleh begitu banyak orang yang bergantian menanyakan berbagai macam persoalan hadits & fiqh. Ketiga ‘alim itu bertanya, “Siapakah pemuda ini?” Seseorang menjawab, “Faqih-nya Quraisy dari Bani Muthalib, Muhammad ibn Idris.” 

Selama ini ketiganya baru mendengar nama Asy Syafi’i yang masyhur; baru kali ini mereka melihatnya. Sungguh masih muda & tawadhu’. Yahya ibn Ma’in; pakar dalam Jarh wat Ta’dil (ilmu kritik kelayakan Rawi hadits), segera menyuruh Imam Ahmad menguji Asy Syafi’i. 

“Coba tanyakan padanya hadits Nabi SAW: ‘Biarkan burung dalam sarangnya!”, ujar Yahya. {HR Abu Dawud 2835, Ahmad 6/381-422. Al Humaidi 345, Ath Thayalisi 1634, At Tirmidzi 1516, An Nasa’i 7/164, Ibnu Majah 3162}.
Ahmad menanyai Yahya: Apa tafsirnya? 

Kata Yahya, “Sefahamku, biarkan burung dalam sarangnya, yakni pada malam hari.” Imam Ahmad tersenyum, sebab itu pemaknaan beliau. 

shaq ibn Rahawayh menyahut, “Baiklah, aku yang akan menanyainya!” Maka dia memanggil Asy Syafi’i, “Wahai pemuda Bani Muthalib!” 

“Ya wahai ‘Alim-nya orang ‘Iraq!”, sahut Asy Syafi’i. Lalu Ishaq menanyakan tafsir hadits itu. Yang ditanya tersenyum tawadhu’. 

“Aku mendengar bahwa sahabat kalian Ahmad ibn Hanbal menafsirnya sebagai; biarkan burung dalam sarangnya, yakni pada malam hari.” 

“Adapun aku”, lanjut Asy Syafi’i, “Mendapatkan hadits itu dari Sufyan ibn ‘Uyainah. Ketika itu, aku telah menanyakan tafsirnya.” 

Tetapi Ibn ‘Uyainah menjawab, “Demi Allah, aku tidak tahu apa maksud hadits ini.” Aku berkata, “Rahimakallaah Ya Aba Muhammad.” 

Seketika Ibn ‘Uyainah menggigil, berkeringat dingin, & beristighfar berulang kali sebab takut meriwayatkan hadits tak terfahami. “Maka”, sambung Asy Syafi’i, “Ibn ‘Uyainah menggamit tanganku & mendudukkanku di kursinya. Ketika itu, usiaku baru awal belasan.”. Ibn ‘Uyainah berkata; “Engkau seorang Quraisy hingga lebih memahami Rasulullah serta kebiasaan bangsa Arab. Ajari kami tafsirnya!” 

Maka Asy Syafi’i saat itu dengan penuh ta’zhim membahas maknanya. Dia berkata; “Dahulu, orang Jahiliah jika hendak bepergian. Mereka menangkap burung, lalu melepaskannya lagi dengan mantra. Jika burungnya terbang ke kanan, ia dianggap pertanda baik. Mereka akan melangsungkan perjalanannya. Tapi jika si burung terbang ke kiri atau ke belakang, ia dianggap pertanda buruk. Sehingga mereka mengurungkan niat safarnya. Ketika Rasulullah melihat hal ini [tathayyur] masih mentradisi, maka sabdanya: Biarkanlah burung di dalam sarangnya. Berangkatlah pada pagi hari dengan menyebut asma Allah.”, demikian Asy Syafi’i bertutur. 

Para ‘ulama yang hadir berdecak takjub akan ilmu Asy Syafi’i. Ishaq ibn Rahawayh tersenyum pada 2 rekannya & berkata; “Demi Allah. Andai kita datang berjalan kaki dari ‘Iraq hanya tuk mendengar makna hadits ini saja, cukuplah itu bagi kita!” Ahmad mengangguk. 

Lalu bergumamlah Ahmad dengan menukil QS 12: 76 tadi yang tidak sengaja saya temukan semalam saat tilawah, “Wa fauqa kulli dzi ‘ilmin ‘Alim.” {Manaqib Asy Syafi’i, Al Baihaqi, 1/308}. 

Peristiwa ini adalah awal perkenalan Imam Asy Syafi’i dengan Imam Ahmad nan membuat mereka bersahabat & saling berguru seterusnya. Saat murid-murid Asy Syafi’i keberatan mengapa beliau mengunjungi Ahmad yang mereka anggap muridnya, Asy Syafi’i melantun syair. “Semua kemuliaan ada pada Ahmad. Jika dia mengunjungiku, itu kemurahan hatinya. Jika aku mengunjunginya, itu sebab keutamaannya.” 

Suatu hari Yahya ibn Ma’in menegur Ahmad yang dianggapnya merendahkan ilmu hadits nan mulia dengan menuntun kendaraan Asy Syafi’i. “Katakan pada Yahya”, jawab Ahmad, “Aku berada dalam kemuliaan, yang jika dia inginkan keluhuran serupa, marilah ke sini bersua. Akan kutuntun keledai Asy Syafi’i di sebelah kiri, dan silakan dia menuntunnya dari sisi yang kanan. Itulah jalan kemuliaan.” 

“Selama 40 tahun aku berdoa”, ujar Ahmad kelak, “Tak pernah alpa kusebut nama Asy Syafi’i bersama semua pinta.” Ditanyakan kenapa? “Asy Syafi’i adalah mentari bagi siang dan obat bagi penyakit, maka siapakah yang tak menghajatkan keduanya?” Ahmad pun bersaksi: “Di tiap 100 tahun Allah bangkitkan seorang mujaddid untuk memelihara agamaNya. Di abad lalu dialah ‘Umar ibn ‘Abdil ‘Aziz, dan di abad ini, dialah Asy Syafi’i.” Adapun Asy Syafi’i selalu berkata pada Ahmad, “Kau lebih tahu tentang hadits, maka bawakan padaku yang shahih dari Nabi SAW, baik dari ‘Iraq maupun Syam.” Adapun hadits Hijjaz, Yaman, & Mesir Asy Syafi’i lebih tahu. 

“Dulu fiqh terkunci pada ahlinya”, ujar Ahmad, “Lalu Asy Syafi’i membukanya hingga kami tahu Bayan, ‘Am & Khas, Nasikh & Mansukh.” 

“Kutinggalkan Baghdad”, ujar Asy Syafi’i, “Dan tak seorangpun yang lebih hafizh, ‘alim, faqih, zahid, & wara’ daripada Ahmad.” 


MasyaAllah... demikian secuil kisah orang-orang penuh ilmu, semoga terteladani oleh kita jalan mulia nan mereka tempuh dengan perjuangan. 

Jalan ilmu adalah jalan kerendahan hati. Seperti firmanNya ternukil, “Di atas tiap-tiap pemilik ilmu, ada yang jauh lebih berilmu.”:) 

Jadi semoga kita mengerti mengapa dan untuk tujuan apa kita mengilmu. 


MasyaAllah... pernahkah kamu merasakan niat menuntut ilmu yang hampir melenceng? Haha saya pernah *tampar*. Astagfirullah... 

Sulitttt sekali mempertahankan prinsip dan mengajarkan hati ini untuk meluruskan niat mencari ilmu hanya karena Allah, untuk nantinya dipersembahkan hanya di jalan Allah. Untung Allah begitu baik kepada saya, walaupun saya ini masih merangkak-rangkak mendekati Allah, seringnya lalai, tapi Ia tetap mengirimkan dan mengelilingi saya dengan orang-orang yang benar-benar mencintai ilmu dan mengilmu hanya untukNya. Dari merekalah saya banyak memahami dan belajar hakikat mengilmu dan mencintai ilmu yang sesungguhnya. 


Kebanyakan dari kita saat ini (diakui atau tidak), 'tuntutlah ilmu sebisanya. Andaikata ada kesempatan ke luar negri, lakukan jika itu perlu. Kurang lebih arahnya, karir collective. Tuntut ilmu sebisanya biar karir bagus, dapat kerja. Dan banyak arahan lain (misal: kemampuan taktis)'. 


Then, saya membaca (masih pada kisah Imam Syafi'i) bahwa beliau (dan beberapa ulama' pada masanya) bekerja untuk sekedar bisa melanjutkan menuntut ilmu. Ilmu adalah tujuan, sesiapa yang paling banyak ilmunya maka ia akan lebih banyak memberi manfaat. Sementara kita? Terkadang motivasi belajar pun masih terkekang untuk tujuan pekerjaan atau jabatan yang lebih baik. 


Jadi? Bekerja untuk belajar, belajar untuk bekerja, bekerja lalu belajar untuk bekerja atau belajar untuk bekerja biar bisa belajar? *bingunging ya? Emang* 

Mana yang benar? Wallahu’alam.... hehe. Tapi yang pasti salah adalah ketika sudah puas dengan ilmu yang ada dan enggan belajar lagi. Apalagi berhenti belajar agama, padahal itu yang menjaga.
Saya bersyukur, setidaknya tradisi keilmuan tidak boleh extinct. :) 



Selamat belajar !!! Karena sepanjang hidup kita belajar. 

-Selamat Hari Pendidikan Nasional-

Yayyyyy. Semoga kita makin 'cerdas' dan 'tangkas' untuk mengilmu :)
continue reading (Meng)Ilmu

statistics

Bukan pakar, mari sama-sama belajar. Pun bukan ahli, mari saling berbagi | Melangit dan Membumi

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact