Kamis, 20 Agustus 2015

DENAI

buka buka buka buka buka kamus lagi hehe... Hari ini saya kangen sama kamus bahasa Indonesia, iseng-iseng baca-bacalah untuk mengobati rasa kangen. Eh.. nemu istilah DENAI hehe.. terus terinspirasi untuk membuat puisi ini. Jika mau tahu arti denai, sok atuh buka kamusnya ^^



Denai,
Aku sedang dilanda risau
Risau jikalau di tengah waktuku menunggu,
ada yang tiba-tiba mengetuk pintu.

Denai,
Kupikir pergi menjauh akan cukup membantu
Tapi yang kuharap patah,
malah kian merekah.

Denai hati,
Kadangkala ia suka
Kadangkala ia duka
Kadangkala ia tabah
Kadangkala ia rebah
Kadangkala ia sendiri
Kadangkala ia ditemani
Kadangkala ia terasa hati
Kadangkala ia memaafi

Hati yang sepi minta ditemani
Hati yang ditemani minta disayangi
Hati yang disayangi minta jangan dikhianati
Hati yang dikhianati minta jangan diulangi.
Begitu katanya, Denai...
continue reading DENAI

Kamis, 04 Juni 2015

TIME OF YOUR LIFE (BINGUNG, TIDAK BERDAYA, TAKUT, KESEPIAN, CEMAS, SEKALIGUS BAHAGIA = ITULAH MASA MUDA)

Akhirnya sampai Bogor juga hehe. Kota impian, kota yang tadinya ingin dijadikan saksi perjalanan masa-masa kampus, tapi akhirnya berlabuhlah masa kampus di Semarang. But, I'm here now, Bogor.
Saya kembali merayakan karakter ambisius terhadap mimpi-mimpi saya yang sebenarnya memang melekat dari lahir, tapi beberapa waktu terakhir meredam karena lebih melirik kondisi sekitar sehingga mengesampingkan mimpi-mimpi yang berbaris rapi di tembok kosan.
'Harus ada perjuangan pada setiap cinta'. Itupun yang sedang saya lakukan, mencintai mimpi-mimpi sama dengan harus memperjuangkannya. Saya tidak pernah menyebut perjuangan itu sebuah pengorbanan, karena bagi saya, tidak ada istilah berkorban dalam cinta.
Pergi ke Bogor berarti harus melonggarkan sementara pegangan ke 'rumah'. Bagaimana rasanya, saya tidak bisa mendeskripsikan hal yang dirasakan. Sedih, bingung, apalah apalah. Karena sejujurnya ini pertamakali saya 'izin sementara' dari amanah. Berat? Tentu.
Galaunya saya tumpe tumpe pokoknya sebelum memutuskan ini hehe. Saya menimbang manfaat dan ketidakmaanfaatannya bukan sehari dua hari tapi hampir setengah tahun, meminta pendapat bukan ke seorang atau dua orang tapi entah sudah berapa. Baiklah, akirnya saya sedang belajar menjadi orang yang berdamai dengan segala tuduhan.
Saya jadi ingat mas didi dan azza hehe... beberapa tahun lalu mereka terpaksa memilih untuk pergi dari 'rumah' kami, dan berjanji kepergiannya akan mmembat mereka lebih baik. Dan benar, beberapa tahun setelah malam dimana air mata tumpah ruah, saya mendapat kabar azza menjadi salah satu exchange student ke Korea, dan mas didi mendapat beasiswa S2 ke UK. Dari mereka saya belajar, jikapun memilih pergi, jangan sampai buat orang yang melepas kita ketika itu menyesal karena setelah pergi kita tidak menjadi lebih baik dari sebelumnya.
Saya pun akan buktikan itu. Izin sementara ini tidak akan saya sia-siakan, saya berjanji... untuk kalian yang juga berjuang disana tanpa saya. Saya menyayangi kalian, semoga kita selalu dimampukan oleh ALlah ya...

"Aku percaya, setiap bunga akan mekar ketika saatnya tiba: forsythia, kamelian, dan bunga-bunga lain. Bebungaan itu tahu kapan mereka akan mekar; tidak seperti kebanyakan dari kita yang selalu ingin mendahului yang lain. Apakah kamu merasa tertinggal dari teman-temanmu? Apakah kamu merasa telah menyia-siakan waktu sementara teman-temanmu mulai melangkah menuju kesuksesan? Jika kamu berpikir demikian, ingatlah bahwa kamu memiliki masa mekarmu sendiri, begitu juga dengan teman-temanmu. Musimmu belum datang. Namun, ia pasti akan datang ketika kuncupmu terbuka. Mungkin kuncup itu mekar lebih lama dari yang lain, tetapi ketika sampai pada waktunya, kamu akan mekar dengan begitu indah dan menawan seperti bebungaan lain yang telah mekar sebelum dirimu. Jadi, angkatlah kepalamu dan bersiaplah menyambut musimmu. Ingat, kamu begitu menakjubkan!"


Bogor, tempat berpijak kaki saat ini pun tempat yang membuat hati terbang kemana-mana.
continue reading TIME OF YOUR LIFE (BINGUNG, TIDAK BERDAYA, TAKUT, KESEPIAN, CEMAS, SEKALIGUS BAHAGIA = ITULAH MASA MUDA)

Selasa, 07 April 2015

Proses Mengkhatamkan Hidup dengan Kepura-puraan

Banyak pelajaran yang saya dapat 2 bulan terakhir..hehe, ALhamdulillah. Tapi yang kadang membuat berpikir ulang adalah 'pembelajaran tidak mesti melalui cara yang membahagiakan', seperti sekarang yang saya alami. Pura-pura bahagia itu melelahkan, pura-pura kuat untuk diri yang rapuh itu menyakitkan, pura-pura baik-baik saja itu membosankan, pura-pura menyemangati dan menguatkan padahal dirimu sebenarnya orang yang sedang butuh hal itu adalah menyebalkan. Kadang saya bertanya dalam hati sih, 'lha kok kesini makin hidup dalam kepura-puraan ya, Mon?' Entahlah... saya seperti tidak punya pilihan. Saya seperti dibentuk untuk menjadi sosok yang seperti tadi diutarakan... ada banyak hal yang harus sekuat tenaga saya jaga di balik kepura-puraan tersebut. Yaaa kadang kalau sudah capek, diri saya mencari pembenaranya sendiri atas kepura-puraan yang dilakukan, 'hikmahnya, jadi bisa memberi kemanfaatan untuk orang lain'.
Bahkan untuk hanya sekedar menuliskan hal ini disini, saya takut haha. Saya pikir, sajadah lah yang selama ini menampung semua hal kelemahan saya. Akhirnya berani post ini cuma untuk pembelajaran kepada yang lain saya, 'sehebat apapun kamu, ga ada yang bisa dipungkiri bahwa kamu manusia biasa, yang kadang berada di titik terbawah. Harusnya bukan kepura-puraan yang kamu pilih dalam kondisi seperti itu'.

- Bahkan yang "terlihat" kuat pun "harus" ada yang menguatkan. Bahkan yang "terlihat" semangat pun "harus" terus disemangati -

8 April '15, Ruangan Perenungan.
Salam, dari saya yang L-E-L-A-H.
continue reading Proses Mengkhatamkan Hidup dengan Kepura-puraan

Senin, 01 September 2014

MAHASISWA BARU: Karena Idealisme Dan Mimpi-Mimpi, Pada Akhirnya Akan Dipersatukan Oleh Waktu



Selamat datang 727 Saintis Muda Bangsa angkatan 2014 di kampus tercinta, Fakultas Sains dan Matematika Universitas Diponegoro. Kalian lah para Diponegoro Muda terpilih itu… Setelah berjibaku dengan segala ujian masuk yang tak jarang melelahkan, besok saatnya penerimaan resmi kalian di kampus ini :) bahasa kerennya, meet up lah kita semua….hehe
           Dalam perspektif ilahiyyah, kita meyakini bahwa kehadiran kalian semua adalah pilihan terbaik yang telah dirancang dalam skenario Tuhan. Semoga apa yang telah dipilihkan Tuhan ini, menjadi pintu bagi kemuliaan kehidupan kalian semua, menjadi jembatan yang menghubungkan kalian dengan keberhasilan hidup, dan menjadi sarana bagi kalian untuk menjadi sosok yang bermanfaat dan dibanggakan oleh keluarga, masyarakat, dan lingkungan kalian.
Pada saat memasuki kampus, mahasiswa menjadi bagian dari sivitas akademika atau masyarakat ilmiah. Bersama para dosen serta sesama mahasiswa kalian akan berinteraksi, saling asah, asih dan asuh untuk menemukan jati diri dan mengembangkan segala potensi. Empat atau lima tahun ke depan, akan sangat menentukan masa depan kalian semua. Kalian akan memiliki kawan-kawan baru yang terbawa sampai tua, kalian akan memiliki gelar yang melekat, segudang pengalaman sebagai bekal menghadapi hari depan. Eh satu lagi nih, tidak sedikit pula yang mungkin akan menemukan teman yang menjadi pendamping hidup :D
Memasuki kehidupan kampus, identik dengan idealisme dan mimpi-mimpi. Idealisme mengenai lingkungan sekitar, tatanan regional, serta kondisi global harus dimiliki oleh mahasiswa. Seorang mahasiswa itu hendaknya memiliki rasa ingin tahu yang besar, wawasan yang luas, dan sikap kritis. Selayaknya selalu melihat peluang dan sisi-sisi kehidupan yang bisa ditingkatkan dalam segala aspek. Inilah ciri mahasiswa yang “sehat”, yang sering diumpamakan dengan seekor ikan yang selalu berenang menentang arus air, bahkan berloncatan ketika ada air terjun yang menghalanginya berenang ke hulu. Hanya ikan yang sakit yang tidak bergerak dan berenang mengikuti arus air. Tentu saja hal ini harus ditunjang oleh kemampuan membawa diri dan berkomunikasi, sehingga orang lain akan terkesan dengan gagasan yang ditawarkan.
Jangan lupa guys, idealisme terhadap dunia luar juga harus dibarengi dengan mimpi-mimpi tentang pribadi di masa depan. Saat awal menjadi mahasiswa adalah waktu yang tepat untuk mulai menyusun peta hidup. Setiap dari kita, mahasiswa, hendaknya memiliki bayangan apa yang akan kita lakukan untuk almamater kita, lingkungan kita, bangsa kita –jauh amat kak, sampe ke bangsa segala | Lhoh, namanya juga mimpi…sah sah aja dibuat setinggi-tingginya :D tentu mimpi yang dibarengi dengan usaha- , kapan lulus, dengan predikat semacam apa, kapan akan mulai berkarir, berumah tangga, dan seterusnya. Dalam hal ini, mimpi laksana doa. Bukankah Tuhan sendiri menyatakan “Aku tergantung pada prasangka hamba-Ku terhadap-Ku”.
Setiap orang, dan tentunya setiap mahasiswa berhak atas kesuksesan dan kemuliaan hidup di masa depan. Setiap orang oleh Tuhan diberikan potensi, dan juga kesempatan yang sama, yaitu 24 jam dalam sehari. Yang membedakan antara satu orang dengan orang lain, lebih terletak pada sikap hidup, dan kebiasaan untuk selalu bersungguh-sungguh dalam memanfaatkan kesempatan. Selain itu juga kemampuan menjadi pribadi yang baik dan mengesankan bagi orang lain. Kata-kata bijak mengatakan “Di dunia ini tidak ada jaminan bagi kesuksesan, yang ada hanya peluang”. Oleh karena itu mahasiswa hendaknya memanfaatkan benar peluang yang telah diberikan Tuhan ini. Banyak hal yang bisa dipelajari di kampus, bukan hanya tentang teori di belakang meja, lebih dari sekedar itu. Sungguh… karena nanti saat terjun ke masyarakat, bukan melulu teori pelajaran yang menjadi penyokongnya, namun pengalaman juga ambil bagian disini. Maka dari itu, mumpung masih muda…banyak-banyaklah memupuk makna. Cari pengalaman sebanyak-banyaknya, lejitkan potensi setinggi-tingginya, cari kawan seluas-luasnya. Banyak fasilitas di kampus kita, manfaatkan, gunakan dengan bijak :) . Start where you are, use what you :) have, and do what you can. Life starts here !!!
Sekali lagi, selamat datang, guys…. Bersungguh-sungguhlah bagi masa depanmu. Dekatkan selalu jiwamu dengan Tuhan, agar Dia selalu membimbingmu. Doa dan usaha semoga selalu menyertaimu. Semoga kelak kamu sekalian akan menjadi mutiara-mutiara di tengah masyarakat yang menunggumu. Aamiin :)
Salam dari Gunung Prau, Wonosobo

continue reading MAHASISWA BARU: Karena Idealisme Dan Mimpi-Mimpi, Pada Akhirnya Akan Dipersatukan Oleh Waktu

Senin, 04 Agustus 2014

Sabtu, 26 Juli 2014

UJIAN ITU BERTINGKAT

CV yang dipakai apply


Assalamu’alaikum warahmatullah….
Alhamdulillah yah masih diberi kelancaran dan dimampukan oleh Allah di ramadhan hari ke 28 ini… 
Cerita yang saya tulis ini sebenarnya belum lama saya alami kejadiannya, masih di bulan ramadhan ini kok…
“Hidup itu layaknya kita di sekolah. Kalau mau naik kelas, ya harus melalui ujian dari guru dulu. Bedanya sama kehidupan, untuk naik tingkatan iman, dikasih ujian lah sama Allah”
Salah satu mimpi di kertas mimpi saya itu jadi penyiar radio waktu kuliah… hahaha (efek gak diturutin belajar ilmu komunikasi nih). Nah, beberapa hari lalu pas dengerin radio, ada tuh lowongan buat penyiar di salah satu station radio. Saya pikir, why should I procrastinate? …. Akhirnya, datang tuh sambil bawa CV. Ngrapiin jilbab warna coklat yang menjuntai di dada dan sesekali curi-curi pandang lihat kaca di ruangan (duileehhh dasar gadis haha). Tarurumpummmm…its time for ngobrol langsung sama managernya nih wuuhuuu…
Udah cukup ya latar belakangnya di atas… (lhoh? Kirain udah masuk inti cerita dari tadi :3 ), hehe tadi belum masuk cerita woy…
Oiya test take vocal dulu, guys…
“Bukan kami membedakan-bedakan agama, Mona. Tapi ada aturan dari pusat yang harus ditaati. Tidak ada yang berjilbab ketika bekerja di kantor ini… Silakan kalau dari luar mau berjilbab, lalu sampai kantor dilepas gapapa, waktu pulang dari kantor dipakai lagi. Intinya di dalam kantor tidak diperkenankan memakai jilbab. Bisa, Mona?,” itu kurang lebih kata-katanya beliau ketika memberikan rincian peraturan yang harus saya jalani. Terus waktu itu apa yang saya lakukan? Stay cool lah, dan tetep kasih senyum bidadari dong hahaha…
Saat itu, tanpa ragu ataupun berpikir baa bii buu dulu, saya tidak menyanggupi peraturan yang satu itu tuh diantara sederet peraturan lainnya.. (Lhoh? Terus? Gak jadi penyiar di radio ini dong? Apa kabar mimpi?) Hehe Insyallah ini sudah menjadi pilihan saya, dan semoga Allah memberkahi, sama sekali tidak ada rasa beban terhadap keputusan barusan. Tentang mimpi, ahhh atas kuasa Allah mimpi itu terwujud tidaknya, itu sih yakin saya. Toh semua usaha dijalan-Nya, ketika satu pintu tertutup, maka akan dibukakan pintu-pintu yang lain
Sempat terlintas di benak saya, “Lhah? Apa hubungannya jadi penyiar gak boleh berjilbab? Pendengar juga gak lihat.” Terus muncul lagi pikiran, “ Yaiya, kalo kita bisa buat orang berjilbab syar’i, kenapa yang lain gak bisa buat orang jadi gak berjilbab (lhoh? hehe),” Pikiran hanyalah sebatas pikiran hehe… Gak niat nyari jawaban juga sih untuk pertanyaan yang terlintas itu.

Mungkin orang-orang yang sudah mengenal saya lama, tahu perjalanan hijrah saya hingga titik yang sekarang ini. Memang belum lama, emmm baru 2,5 tahun terakhir saya meng-istiqamah-kan diri untuk berhijab syar’i. Sebenarnya tulisan saya ini ingin berbagi cerita juga tentang proses berhijrah yang memang tak semudah yang dipikirkan, kayak alasan-alasan yang seringkali saya dengar dari orang-orang yang katanya ingin berhijrah tapi terbentur ini itu. Come on guys, saya juga mengalami hal yang sama… Tapi, setelah saya menjalani prosesnya, saya sadar. Bahwa satu hal yang kita butuhkan untuk berjalan menuju Allah adalah niat yang kuat, dan istiqamah.. Saya sadar, saya masih harus banyak belajar. Banyak banyak banyakkkkk untuk hal itu, sama, seperti kalian….

Setelah dari radio itu, saya jadi ingat nasehat seorang kakak yang saya datangi dengan berderai air mata 2,5 tahun yang lalu (Duh, jadi malu kan ketahuan nangis :’) )… Saat itu lingkungan sosial saya tidak bisa menerima perubahan pada kenampakan fisik yang saya lakukan, dan terlebih lagi…orangtua saya pun menolak perubahan penampilan saya. “Mona, ujian itu bertingkat… ini baru awal. Di depan akan ada lebih banyak ujian untuk meningkatkan keimanan. Jadi, untuk apa air mata ini? Mungkin sekarang teman-teman dan kedua orangtua Mona, tidak menutup kemungkinan di dunia kerja kita akan mendapat perlakuan yang berbeda, belum lagi nanti siapa tau orangtua dari jodoh kita tidak bisa menerima penampilan kita.. Nah lhoh, apa yang mbak katakan tadi benar-benar terjadi Mona pada orang-orang lain, Naudzubillah. Bayangkan, betapa Allah selalu meningkatkan ujian kita untuk semakin dekat padaNya.” Begitu kata seorang kakak itu.

Emmm, ini ujian selanjutnya kali ya yang harus saya jalani setelah orangtua dan teman-teman saya menerima proses hijrah saya
Penerimaan di tempat lain … Jilbab ini, kehormatan bagi saya, salah satu bentuk cinta saya pada Tuhan saya dengan cara mematuhi perintahNya. Wallahualam…

“Allah menghilangkan sesuatu dari tangan tangan kita bukan berarti untuk mengambilnya, namun agar tangan kita kosong sehingga dapat menggenggam sesuatu yang lebih besar”
Wassalamu’alaikum warahmatullah
continue reading UJIAN ITU BERTINGKAT

Selasa, 15 Juli 2014

ALLAH... Pintaku, Kuatkanlah Pundakku Bukan Hanya Sekadar Ringankan Bebanku

"Tumben jadi pendiem Mon?" Pertanyaan itu banyak saya dengar hari ini hahaha. Lalu banyak pelukan semangat dan pesan-pesan dengan bahasa metafora.. duh duh duh :D Terima kasih banyak, kalian semua manis banget, folks !!!

Ahh biasanya kalau saya cerewet sama kalian aja dibilang galak :3 giliran ini diem dipaksa-paksa untuk rame. Maunya apa coba haha...

Sebenarnya saya baik-baik saja, yaaa multitasking berpikir kan memang wajar. Tidak menjadi masalah lah untuk hal itu... Saya hanya sedang merenung, mencoba mengevaluasi gerakan saya untuk menyusun treatment gerakan jalan ke depan. Itu saja, mungkin butuh kesunyian kali ya :) makanya diam dulu. 

Hehe, akhir-akhir ini entah kenapa saya menjadi seperti... errrr *belum nemu istilah yang cocok* semacam berpikir terlalu panjang sebelum melangkah, alih-alih jadi matang melangkah, ehhh ini malah jadi banyak pikiran ketakutan. Takut kalau gini nanti bisa gitu, takut kalau ambil ini malah tidak bisa itu, takut kalo kesini tidak bisa kesitu.. Banyak takut ini itu deh pokoknya..

Saya merasa seperti kehilangan ke-"liar"-an saya dalam berpikir, melangkah.. Ya! saya merasa kehilangan itu beberapa waktu terakhir ini. Mendadak kemana kekreatifan gadis ini? Kemana hilangnya keberanian jiwa muda gadis ini? Kemana Saya juga tidak tahu hal apa yang melatarbelakanginya.



Terberkatilah mereka manusia-manusia yang merdeka—siapa saja yang telah berani melangkah dari masa lalu, bahwa memang tak seharusnya kita terus menangisi apa-apa yang telah terjadi. Terberkatilah kita yang telah jauh berjalan hingga ke titik ini—titik di mana kita hanya bicara tentang hari ini dan hari esok, sementara hari-hari yang lalu hanya sesekali kita tengok untuk kita tertawakan, untuk kemudian melaju lagi jauh ke depan dengan ritme yang lebih cepat.
Kita pernah terseok, terjatuh, juga terluka hingga tak henti-hentinya berair mata. Kita pernah ceroboh melakukan hal yang bodoh, keliru, juga melakukan begitu banyak dosa sampai-sampai merasa tak layak lagi hidup di dunia (agak lebay ini, tapi beneran deh ini lagi ngomong serius, ga lagi dilebay-lebay-in). Tapi hidup adalah perjalanan, bukan? Dan di dalam perjalanan itu memang jalan tak selamanya mulus: ada jalan menurun dan menanjak di sana, ada kelokan-kelokan biasa hingga tajam, ada cabang-cabang jalan buntu yang menipu, ada godaan-godaan untuk melupakan arah tujuan yang membuat kita hanya menikmati saja semua yang tersedia, ada cacian-cacian yang memuakkan, ada juga rasa lelah yang dengan terampil kita dramatisasi untuk kita klaim ‘aku telah berusaha sekuat mungkin’ lantas kita duduk menyerah—kita pasrah seolah-seolah ketakberdayaan yang kita rasakan adalah anugerah Tuhan yang tak tertolak. Setiap perjalanan punya dinamika masing-masing, dan kabar paling baik dari semua kenyataan ini adalah bahwa kita tidak pernah sendiri.
bukankah Tuhan begitu dekat dan selalu ada?
Jadi bertahanlah Monaaaaaa (ceritanya semangatin diri sendiri).
Percayalah bahwa beban yang kini tengah kita tanggung ada dan hanya akan ada atas izin-Nya. Percayalah bahwa bekas-bekas luka yang pernah tercipta akan membuat kita selalu sadar bahwa kita memang manusia biasa, sekaligus menjadi pengingat dan pelecut semangat kita bahwa perjuangan—apapun bentuk dan tujuannya—selalu membutuhkan pengorbanan. Yakinlah bahwa segala bentuk ketertekanan yang kini tengah mendera, adalah cara Tuhan untuk membuatmu lebih kuat—memaksa meangoptimalkan semua potensi yang ada karena tiap kita punya benih untuk menjadi hebat. Tiap kita punya kesempatan untuk menjadi juara. Seminimal-minimalnya untuk diri kita sendiri, termasuk menjadi juara atas rasa takut yang tak jarang dibuat oleh pikiran kita sendiri :p hehe

Terima kasih Allah :')
continue reading ALLAH... Pintaku, Kuatkanlah Pundakku Bukan Hanya Sekadar Ringankan Bebanku

statistics

Bukan pakar, mari sama-sama belajar. Pun bukan ahli, mari saling berbagi | Melangit dan Membumi

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact