Minggu, 09 Agustus 2020

Bu...

Tidak peduli seberapa banyak angka yang tersemat di umur anak perempuanmu ini, baginya tempat ternyaman yang dimiliki manusia adalah di dekapanmu Bu.


Tidak peduli seberapa banyak orang yang ia temui, baginya tempat bercerita yang paling memahami dirinya adalah engkau, Bu.


Ia, akan selalu menjadi anak perempuan yang sama Bu. Dulu, sekarang dan nanti. Anak perempuan yang jikalau ditanya "Apa cita-citamu?" jawabannya selalu konsisten, "Membahagiakan Ibu".


Bu... jangan menangis, ya. Ada Allah, dan ada aku anak perempuanmu.


Bu, sehat-sehat selalu ya Bu. Tunggu aku mewujudkan cita-citaku.

continue reading

Minggu, 31 Mei 2020

Insomnia

Aku sayangggg banget lah sama orangtuaku. Apalagi setelah aku punya anak, makin nambah berkali-kali lipat sayangku ke mereka. Bukan. Bukan karena tahu beratnya jadi orangtua ngurusin anaknya, tapi karena tahu gimana sayang orangtua ke anaknya. Jadi sebagai anak, aku makin sayang ke orangtuaku. Kamu bingung sama kalimatku ya? Aku dak bingung kok #lhah.

Mulai SMA, aku jarang bareng sama orangtua. Apalagi pas mulai merantau dari kuliah, kerja, ikut suami internship; aku nggak hidup sama orangtuaku.


Dulu, waktu suamiku datang ke rumah. Beliau minta ke orangtuaku untuk mengajakku hidup di kampungnya yang jauh di Lombok Timur sana. Orangtuaku waktu itu maju mundur memberi keputusan. Ehhh tapi yang datang ke orangtuaku mau ngajak aku hidup jauh semua wkwkwkw. Cedih lah orangtuaku dak punya pilihan yang paling asique. Akhirnya setelah melalui doa dan diskusi dengan Allah, pilihan jatuh ke suamiku ini.


Aku dulu dak mikir. Aku ralat. Aku anaknya telat mikir. Dulu aku santai marantai macem di pantai dapat suami orang mana aja. Dak mikir suami malahan 😧 jadi pas dikawinin iya iya aja. Padahal orangtuaku yang tadinya maju mundur itu karena udah mikir bahwa disisa hidup anak perempuannya akan sangat jauh fisik dari mereka untuk selamanya, dak kayak merantau sekolah yang ada angan lulus dan bisa tinggal di rumah bersama mereka, kuatkah hati mereka(?) Kira-kira begitu kalau dibahasakan dengan bahasaku.


Sekarang alhamdulillah aku dikasih kesempatan tinggal sama orangtuaku karena suami dapat kerja di kota kelahiranku. Bahagiaaaaa banget rasanya. Aku yang ekstrovert dan tenaganya recharge kalau lihat dan kumpul sama orang jadi dak masalah ditinggal suami kerja siang malam karena ada bapak dan ummi yang selalu nemani dan kelakuannya bikin aku ketawa. Aku baru mengenal orangtuaku setelah 1 tahun hidup seatap dengan mereka. Dulu, aku hidup sama mereka saat aku masih 'kecil', aku dak terlalu bisa 'mengenal' mereka, setelah itu aku merantau hampir 9 tahun. 


Aku dan suamiku akan tetap tinggal di Lombok. Tapi entah kapan tergantung cerita hidup membawa. Tiap ingat itu, aku pengen nangis bayangin orangtuaku sendirian di masa tuanya, betapa sepimya tanpa anak cucu. Tapi tiap lihat suamiku, aku juga sedih karena dia juga seorang anak yang jauh dari ibunya. Pasti rindu sekali. Khawatir setiap waktu pada ibunya yang tinggal sendiri disana.


Bisa dak ya kita semua tinggal bersama(?)
Aku, suamiku, anak-anakku, orangtuaku, mertuaku...
Dak usah jauh-jauhan lah kita
continue reading Insomnia

Minggu, 06 Oktober 2019

Anak Pertama Ayah dan Ibu

Kakak, anak pertama ayah dan ibu... Apa kabar, Nak?
Sudah hampir satu tahun kakak kembali pada Allah ya, Nak. Walau tahun berganti tahun, perasaan ibu akan tetap sama. Merindukan kakak. Tapi alhamdulillah, Sayang, berkat karunia Allah berkat kekuatan dari Allah, saat ini ibu mengambil cara lain untuk merindui kakak dibanding setahun yang lalu. Walau sekarang pun ibu masih tetap menangis setiap kali mengingat kakak, tak apa ya Sayang :")


Hari ini ibu mendengar ada ibu lain yang kehilangan dua anaknya sekaligus. Sedih betul ibu mendengarnya. Dia pasti merasakan perasaan-perasaan yang sama seperti yang ibu rasakan dulu saat kehilangan Kakak. Sedih, hancur-sehancur-sehancurnya. Bukan, Sayang, bukan mulasnya perut ibu, bukan juga hancur sakit fisik ibu, tapi hati ibu Nak yang hancur. Ibu kira dulu, sesaat setelah ibu menikah dengan ayah, saat ibu setiap bulannya mengetes kehamilan dengan harapan yang penuh namun hasilnya negatif, adalah hal yang paling menghancurkan hati ibu di dunia ini. Tapi ternyata ibu salah, Nak. Yang ibu rasakan setahun lalu, kehilangan anak jauh lebih menghancurkan hati ketimbang belum dikaruniai anak, Sayang.


Maafkan ayah dan ibu, Sayang. Karena dulu kami belum menjadi orangtua yang baik untuk kakak, karena dulu banyak kesalahan yang kami lakukan, karena dulu banyak ketakutan yang kami khawatirkan.


Terimakasih, Kakak. Terimakasih sudah berkenan menjadi anak pertama ayah dan ibu. Terimakasih sudah mengajari ayah dan ibu untuk selalu belajar guna terus memperbaiki diri kami. Terimakasih sudah membuat kami meringkuk di depan Allah, bertaubat, dan bermuhasabah atas segala kesalahan kami.


Kelak, berapapun jumlah anak ayah dan ibu kelak, adik-adiknya kakak, kakak akan tetap menjadi anak pertama kami ☺. Semoga Allah jumpakan kita semua di surga nanti ya, Sayang. Allah, mohon sabarkan kami sampai saat itu tiba.... Aamiin


Ibumu -yang baru berani membuka cerita tentang dirimu setelah satu tahun-
continue reading Anak Pertama Ayah dan Ibu

Minggu, 22 September 2019

Mom Shaming

Dulu, saya tidak memahami mengapa banyak ibu yang sakit hati saat anaknya dikomentari orang lain misalnya karena kekurusannya... Saya juga sering dikatakan kurus oleh orang lain, tapi saya biasa saja tuh, memangnya kenapa jika dikatakan seperti itu? Kenyataannya memang saya kurus, yha tho?.

Sampai akhirnya kini saya tersadar terantuk kejedot pintu, saya minta ampun atas nyinyirnya saya zaman muda dulu terhadap ibu sensitif. Menjelang menjadi ibu, sense of belong saya rasanya memuncak tajam terhadap ibu-ibu lain yang senasib sepenanggungan.

Tidak ada ibu yang tidak pernah berbuat yang terbaik yang ia mampu untuk buah hatinya. Semuanya pasti sekuat tenaga berdarah-darah memberikan yang terbaik untuk anaknya, rasanya bingung setengah mati jika terjadi sesuatu pada anaknya, lalu apa yang dikatakan mulut jahat kita-kita ini yang suka komentarin? oh no. Tahu rasanya sudah berusaha sekuat tenaga (terlebih ini untuk buah hatimu, setengah nyawamu yang dari dia belum ada kau sudah menyayanginya) tapi tak kunjung ada perbaikan padanya, sudah sedih bertubi ehhh masih ada orang yang mengomentari? Itu akan membuat seorang ibu makin merasa tak berguna bagi anaknya, merasa rendah diri, merasa bukan menjadi ibu yang baik, merasa menjadi ibu yang tak pintar. Lelah fisik dan hati ya pastinya.

Jangan karena belum menjadi ibu lalu bisa seenaknya mengomentari seorang ibu, belum aja ngerasain kan.  Jangan juga karena anakmu baik-baik saja lalu memojokkan anak ibu lain yang tak sebaik anakmu (dalam pandanganmu sendiri).

Maka dari itu saya rasa support group itu penting lhoo buat emak-emak. Karena ya berat juga jika menghadapi semua sendirian 😊

Be wise bukkk ya 😊
Ini nasehat untuk diri saya sendiri sebelum masuk di dunia peribukan. Untuk hati-hati pada mulut dan hati saya sendiri.
continue reading Mom Shaming

Kamis, 18 Juli 2019

Ini Mantraku, Mana Mantramu?

~Perbanyaklah mengingat kebaikan suami. Karena kufurnya seorang istri, dapat menjadi penyebabnya masuk neraka.~


***



Beranjak dewasa, agaknya kita akan memiliki definisi berbeda mengenai apa itu jatuh cinta jika dibandingkan zaman-zaman puber dulu.
Sebab jatuh cinta bukan lagi soal doi populer di sekolah, atau bisa main musik, atau atlet basket, dll yang intinya dari perkara-perkara kenampakan luar saja.

Lebih dari itu, ketika usia-usia seperti saya sekarang ini, jatuh cinta menjelma menjadi bentuk-bentuk yang bukan hanya artifisial saja.
Di usia ini, jatuh cinta bisa jadi tersebab kesholihannya yang diimplementasikan dalam taat beribadah; membimbing istrinya untuk menunjukkan mana benar mana salah, mana sesuai syariat mana tidak. Jatuh cinta juga kadang tersebab pengertiannya saat kita mood swing karena letih mengurusi rumah atau sedang mengalami perubahan hormon bulanan #makluminwanita. Atauuu jatuh cinta dengan perilaku tenangnya saat menghadapi kita yang gusar dan banyak khawatirnya akan dunia. Dan lagi, jatuh cinta juga kadang tersebab melihat perjuangannya dalam mencari nafkah yang halal untuk memenuhi hak kita dan anak-anaknya.

Ada banyak alasan yang bisa membuatmu menepis segala kelelahan atau ketidakmudahan dalam menjalani peran sebagai istri maupun ibu, salah satunya dengan jatuh cinta pada suami dan anak-anakmu setiap waktu :)


#ibuprofesionalsemarang
#challengerumbellm
#mantramenulis
continue reading Ini Mantraku, Mana Mantramu?

Rabu, 26 Juni 2019

Sabtu, 09 Februari 2019

Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan (ala Monaliza S. R.)

Setiap perempuan single pada waktunya nanti akan memiliki cerita indah melewati metamorfosisnya menjadi seorang istri, lalu menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya. Semuanya akan menjadi berbeda, tugas yang berbeda dari sebelumnya, dan tentunya pemahaman serta target hidup yang harus berbeda pula.

Melalui tulisan ini, saya ingin mendisiplinkan diri saya sendiri dengan harapan semoga saya bisa menjalani peran saya saat ini lebih baik lagi tiap harinya, dan harapan yang utama mah tetep ya hehe, untuk meraih ridho Allah SWT :) mohon doanya...

A. Sebagai Individu

1. Goal: Being a sholihah muslimah

To do list:

  • Sholat wajib di awal waktu
  • Minimal 1 juz per hari tilawah Al Qur’an
  • Berdzikir setiap usai sholat minimal 33 sholawat nabi, 33 istigfar, 33 tahlil, 33 tasbih, 33 tahmid, 33 takbir
  • Berwudhu sebelum tidur malam
  • Mengucapkan doa/basmalah setiap akan melakukan aktifitas apapun

2. Goal: Being a healthy muslimah

To do list:

  • Minimal 3x per pekan olahraga, minimal 15 menit setiap sesinya
  • Tidak makan mie instan
  • Minimal minum 1,8 Liter per hari air putih

3. Goal: Have a pure heart

To do list:

  • Menjauhi obrolan yang tidak baik/ghibah/tidak bermanfaat
  • Menjauhi komunitas yang tidak baik
  • Menjauhi dosa kecil dan besar
  • Selalu bermuhasabah diri sebelum tidur malam
  • Selalu bersyukur dan berterimakasih pada setiap pertolongan Allah dan manusia lain
  • Meningkatkan sabar, tawakal, ikhlas
  • Berbicara/berkomentar baik atau diam

4. Goal: Being a knowledge muslimah

  • Dalam setahun minimal menyelesaikan baca 12 buku
  • Setiap hari membaca minimal 20 halaman buku

5. Goal: Sharing goodness

  • Minimal 2x per bulan posting kebaikan di sosial media ataupun blog mengenai muslimah; wanita produktif; pernikahan; dll.



B. Sebagai Istri & Ibu

1. Goal: Being a sholihah wife & mother

  • Setiap merasa marah/kesal kepada suami atau anak, tarik nafas 3 detik; tahan 1 detik; hembuskan 6 detik dan urungkan marahnya
  • Tidak berteriak (a.k.a berintonasi tinggi) saat memanggil ataupun saat berbicara dengan suami dan anak

2. Goal: Being a happy wife & lows stressed

  • Menyapa/ramah setiap kali berpapasan dengan orang
  • Perbanyak seyum dan canda kepada suami
  • Minimal 30 menit per hari mengobrol heart to heart bersama suami

3. Goal: Help husband and children to provide good food

  • Minimal setiap satu bulan belajar dan praktekkan 2 resep masakan baru. Khususnya masakan-masakan ‘eat clean’

4. Goal: Manage the house to be healthy and neat

  • Setiap hari menyapu lantai
  • Meletakkan barang setiap usai dipakai pada tempat awalnya
  • Setiap dua hari sekali mencuci baju
  • Setiap dua hari sekali menyetrika
  • Setiap selesai masak langsung mencuci peralatan masak
  • Merapikan tempat tidur setiap pagi, saat hendak keluar rumah, saat akan tidur

5. Goal: Being a good accountant & financial manager of the house

  • Setiap hari mencatat pemasukan dan pengeluaran keluarga di aplikasi ‘Catatan Keuangan’
continue reading Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan (ala Monaliza S. R.)

statistics

Bukan pakar, mari sama-sama belajar. Pun bukan ahli, mari saling berbagi | Melangit dan Membumi

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact