Sabtu, 24 Oktober 2020

Setiap malam, aku selalu merasakan banyak gumpalan awan di kotak pikiranku. Mataku berat, tapi seolah tak bisa terpejam sedikit saja karena sesak dimana-mana. Angin yang membawa gumpalan awan-awan ini tak tentu kapan datangnya, jadi kadang aku harus bertahan cukup lama untuk merasakan ketidaknyamanan ini.

Aku juga kadang merasa dunia ini sangat sepi, namun... tiap melihatnya tertawa hingga matanya nampak segaris saja, tawaku ikut menyembul bersamanya. Mendadak, dunia jadi begitu ramai bagiku. Aku bersyukur Tuhan masih memberiku dia, alasanku untuk tertawa.

Ah... kita cuma butuh percaya saja bukan? percaya akan ada bahagia di ujung jalan sana. Tidak peduli seberat apapun jalannya, jika kita percaya, maka perjalanan ini akan terasa ringan, bukan begitu?

Aku... masih berusaha. Berusaha apa saja...

Apakah, aku ini bahagia?


continue reading

Kamis, 15 Oktober 2020

Senin, 05 Oktober 2020

Selasa, 15 September 2020

Hujan dan Petrichor

Di tempatku hari ini tidak hujan. Bagaimana di tempatmu? Kulihat dari beberapa unggahan teman, di kota mereka sudah hujan.


Apa yang kau rindukan dari hujan? Ah! sejuknya ya?! Sama! Aku juga 😁


Tapi, yang lebih ku rindukan dari hujan adalah, aku bisa berdiam di rumah. Tidak perlu keluar dan bertemu orang karena alasan basah. Aku bisa leluasa berbaring di kasurku dan menghadap tembok sambil mengobrol dengan diriku sendiri. Sesekali aku hirup nafas dalam-dalam, merasakan petrichor menembus rumahku dan sampai di hidungku.


Orang bilang aku ekstrovert. Oh ya? Yang kutahu, semua orang suka berbicara menurut apa yang mereka lihat, ya... orang memang bisa melihat halaman rumah kita dan membicarakannya, tapi yang tahu isi dalam rumah kita kan kita sendiri. Mereka tak tahu, kecuali kita mengizinkan mereka untuk masuk. Jadi, tak masalah mereka mau berkata apa. Yang tahu, ya aku sendiri...

dan orang-orang yang ku izinkan masuk ke dalam menengok isi rumahku.

continue reading Hujan dan Petrichor

Selasa, 01 September 2020

Agenda

Untuk seseorang yang nanti kulihat kali pertama saat membuka mata. 
Seseorang yang setiap hari akan mendengarkan suara berisikku. 
Seseorang yang tahan dengan omelan karena aku tak suka melihat handuk diletakkan sembarangan — berantakan.

Aku selalu suka menuliskan ini dan cerita kita nanti.

Aku menyukai pagi hari, menyiapkan sarapan sambil bertanya, "Kamu mau dibikinin apa? Nasi goreng atau roti saja?"

Saat malam, aku akan membantumu menyiapkan baju mana yang akan kamu pakai untuk kerja keesokan harinya.

Dan ini, aku selalu suka saat akhir pekan tiba.
Kita di rumah saja, ya. Menonton televisi. Ah! atau  keluar juga boleh, kita ke toko buku membeli tambahan buku untuk mengisi rak-rak buku kita.

Bagaimana kalau kita membuat pisang goreng? Aku akan menggorengnya dan kamu yang membuat adonannya.

Sebelum hari semakin siang, kita akan membersihkan tempat tinggal kita berdua. Kita berbagi tugas, kamu mencabut rumput liar di luar dan membersihkan halaman, sementara aku membersihkan bagian dalamnya.

Lalu apalagi? Oh iya!

Bukankah sudah waktunya mencuci motor yang kamu pakai sehari-hari? Sini, aku temani.

Aku senang menemanimu sambil mendengarkan kamu bercerita ada busi, aki dan oli yang harus diganti bulan ini.
Aku yang tak tahu apa-apa hanya bisa tertawa sambil berkata, "Ya diganti saja."

Mungkin kita akan berbeda pendapat sesekali. Kamu begitu keras kepala, agaknya aku yang memang harus banyak mengalah, tapi tak apa. Karena tak ada kehidupan yang sempurna.

Jika aku terlalu sering marah, tegurlah dengan kasih dan ramah.
Aku akan berubah menjadi lebih baik lagi. Sini, kait kelingking. Aku janji.

Satu sama lain kita akan belajar saling memantaskan diri.

Sebab aku ingin menjadi rumah, tempatmu mengarahkan tujuan.
Aku ingin menjadi rumah tempatmu kembali pulang, bukan sekadar tempat singgah saat kamu merasa lelah.

Aku ingin menjadi rumah yang bahagia, sebab di sanalah kita dan kisah-kisah indah lainnya.




-2018-

continue reading Agenda

Minggu, 09 Agustus 2020

Bu...

Tidak peduli seberapa banyak angka yang tersemat di umur anak perempuanmu ini, baginya tempat ternyaman yang dimiliki manusia adalah di dekapanmu Bu.


Tidak peduli seberapa banyak orang yang ia temui, baginya tempat bercerita yang paling memahami dirinya adalah engkau, Bu.


Ia, akan selalu menjadi anak perempuan yang sama Bu. Dulu, sekarang dan nanti. Anak perempuan yang jikalau ditanya "Apa cita-citamu?" jawabannya selalu konsisten, "Membahagiakan Ibu".


Bu... jangan menangis, ya. Ada Allah, dan ada aku anak perempuanmu.


Bu, sehat-sehat selalu ya Bu. Tunggu aku mewujudkan cita-citaku.

continue reading

statistics

Bukan pakar, mari sama-sama belajar. Pun bukan ahli, mari saling berbagi | Melangit dan Membumi

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact