Rabu, 26 Juni 2019

Sabtu, 09 Februari 2019

Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan (ala Monaliza S. R.)

Setiap perempuan single pada waktunya nanti akan memiliki cerita indah melewati metamorfosisnya menjadi seorang istri, lalu menjadi seorang ibu bagi anak-anaknya. Semuanya akan menjadi berbeda, tugas yang berbeda dari sebelumnya, dan tentunya pemahaman serta target hidup yang harus berbeda pula.

Melalui tulisan ini, saya ingin mendisiplinkan diri saya sendiri dengan harapan semoga saya bisa menjalani peran saya saat ini lebih baik lagi tiap harinya, dan harapan yang utama mah tetep ya hehe, untuk meraih ridho Allah SWT :) mohon doanya...

A. Sebagai Individu

1. Goal: Being a sholihah muslimah

To do list:

  • Sholat wajib di awal waktu
  • Minimal 1 juz per hari tilawah Al Qur’an
  • Berdzikir setiap usai sholat minimal 33 sholawat nabi, 33 istigfar, 33 tahlil, 33 tasbih, 33 tahmid, 33 takbir
  • Berwudhu sebelum tidur malam
  • Mengucapkan doa/basmalah setiap akan melakukan aktifitas apapun

2. Goal: Being a healthy muslimah

To do list:

  • Minimal 3x per pekan olahraga, minimal 15 menit setiap sesinya
  • Tidak makan mie instan
  • Minimal minum 1,8 Liter per hari air putih

3. Goal: Have a pure heart

To do list:

  • Menjauhi obrolan yang tidak baik/ghibah/tidak bermanfaat
  • Menjauhi komunitas yang tidak baik
  • Menjauhi dosa kecil dan besar
  • Selalu bermuhasabah diri sebelum tidur malam
  • Selalu bersyukur dan berterimakasih pada setiap pertolongan Allah dan manusia lain
  • Meningkatkan sabar, tawakal, ikhlas
  • Berbicara/berkomentar baik atau diam

4. Goal: Being a knowledge muslimah

  • Dalam setahun minimal menyelesaikan baca 12 buku
  • Setiap hari membaca minimal 20 halaman buku

5. Goal: Sharing goodness

  • Minimal 2x per bulan posting kebaikan di sosial media ataupun blog mengenai muslimah; wanita produktif; pernikahan; dll.



B. Sebagai Istri & Ibu

1. Goal: Being a sholihah wife & mother

  • Setiap merasa marah/kesal kepada suami atau anak, tarik nafas 3 detik; tahan 1 detik; hembuskan 6 detik dan urungkan marahnya
  • Tidak berteriak (a.k.a berintonasi tinggi) saat memanggil ataupun saat berbicara dengan suami dan anak

2. Goal: Being a happy wife & lows stressed

  • Menyapa/ramah setiap kali berpapasan dengan orang
  • Perbanyak seyum dan canda kepada suami
  • Minimal 30 menit per hari mengobrol heart to heart bersama suami

3. Goal: Help husband and children to provide good food

  • Minimal setiap satu bulan belajar dan praktekkan 2 resep masakan baru. Khususnya masakan-masakan ‘eat clean’

4. Goal: Manage the house to be healthy and neat

  • Setiap hari menyapu lantai
  • Meletakkan barang setiap usai dipakai pada tempat awalnya
  • Setiap dua hari sekali mencuci baju
  • Setiap dua hari sekali menyetrika
  • Setiap selesai masak langsung mencuci peralatan masak
  • Merapikan tempat tidur setiap pagi, saat hendak keluar rumah, saat akan tidur

5. Goal: Being a good accountant & financial manager of the house

  • Setiap hari mencatat pemasukan dan pengeluaran keluarga di aplikasi ‘Catatan Keuangan’
continue reading Checklist Indikator Profesionalisme Perempuan (ala Monaliza S. R.)

Sabtu, 02 Februari 2019

Jurusan di Universitas Kehidupan

Setelah menikah, saya baru menyadari bahwa ada profesi di dunia ini yang butuh waktu serta perhatian sepanjang hari tanpa jeda, kerjanya meliputi hampiiir seluruh lini bidang profesi-profesi penting di dunia, merangkap jadi dokter; juru masak; manajer keuangan; EO; juru bicara; fashion stylish; interior designer; declutter specialist; PR; penulis; crafter; strategic planner; motivator; cleaning service; personal shopper; masih banyak lagi lainnya, dan gawatnya tak pernah ada jurusan sekolah untuk profesi yang satu ini hehe. Apakah itu? Yups, Ibu Rumah Tangga!


Jika hanya ada satu jurusan ilmu yang bisa saya pilih untuk tekuni di universitas kehidupan ini, maka yang akan saya pilih adalah Ilmu Harta Halal Haram. Mengapa? *Mari baca curhatan mamak mamak di paragraf selanjutnya hehe*


Ada suatu masa dimana saya mendengar kajian dari ustad Adi Hidayat, dalam ceramahnya beliau berkata, “Jika ada sesuatu yang haram, masuk ke dalam tubuh manusia, menyebar lewat darah, maka semua halnya akan mempunyai konsekuensi yang tidak mudah. 1. Ia akan menutup pintu-pintu kebaikan dari dalam dirinya, seseorang yang sudah dimasuki hal haram maka tak akan ada kebaikan yang bisa masuk karena dua hal yang berlawanan tak akan pernah bisa bersama dalam satu jiwa seperti minyak dan air. Maka jika yang haram sudah menguasai dirinya, yang halal tak akan ia senangi lagi, istrinya yang halal tak dipandang lagi, anaknya tak disukai lagi, dsb. 2. Dilaknat oleh Allah. Jika hingga akhir hayatnya tidak bertobat, neraka jahanam balasannya. 3. Doanya tidak sampai kepada Allah karena terdapat sekat dosa, semakin pekat dosanya semakin tebal sekatnya, perumpamaannya seperti gelas yang tertutup jadi apapun sulit masuk ke dalam gelas tersebut.”

Subhanallah, tersentak hati saya mendengar kajian tersebut. Lalu, dilain waktu dalam obrolan saya bersama Ummi saya, beliau berkata, ”Nok, laki-laki itu kelemahannya ada 3. Harta, tahta, wanita. Yang terakhir ini yang paling bahaya. Fitrahnya wanita memang suka sama hal-hal yang berkilauan, tahta yang bagus, harta yang banyak. Tapi Nok, jangan sampai kita ini jadi wanita yang malah bawa suami sama anak-anaknya ke neraka. Asal perempuan minta, laki-laki itu pasti berusaha memberikan. Nah, masalahnya disini, kalau jalan yang dipilih salah itu lho. Beberapa laki-laki korupsi juga karena nurutin gaya hidup istrinya, Nok. Nanti ke suamimu ndak usah pernah ngucap minta sesuatu, apapun yang dia kasih terima dan olah gimana caranya dapurmu bisa selalu ngepul, anak-anakmu bisa tetep makan. Ya, Nok?”

Dari situ, saya menjadi sadar bahwa peran manajer keuangan dalam rumah tangga yang saya emban bukanlah suatu hal sepele. Ada tanggung jawab besar bukan hanya di dunia, tapi juga akhirat. Dalam hidup ini, memang diperlukan upaya dari manusia untuk memenuhi kesejahteraan materialnya guna memenuhi segala kebutuhan hidup. Dan, yang perlu diingat, -tiap upaya yang kita lakukan di dunia akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah di akhirat nanti. Termasuk upaya memperoleh harta dan mengelola harta.
Saya ingin belajar Ilmu Harta Halal Haram ini agar saya dan suami bisa saling ingat mengingatkan mengenai cara kami memperoleh dan mengelola harta. Karena harta yang masuk ke dalam tubuh kita akan mempengaruhi segala aspek kehidupan termasuk akhlak perilaku kita maupun pasangan dan mengenai terkabulnya doa seperti yang diungkapkan ustad Adi Hidayat diceramahnya.


Ada beberapa strategi yang saya lakukan untuk menuntut ilmu ini. Pertama, belajar kepada guru yang berkompeten di bidang tersebut. Selain belajar pada guru, saya juga memperkaya wawasan dengan membaca buku-buku terkait. Kedua, ada dana khusus setiap bulannya yang dialokasikan untuk perihal menuntut ilmu ini. Jadi kalau kami mendapatkan referensi buku muamalah atau seminar terkait pengelolaan harta secara syariah, kami akan menggunakan dana alokasi tadi untuk hal tersebut. Ketiga, berusaha membersihkan harta dengan cara bersedekah. Pengelolaan keuangan dalam keluarga saya alurnya yaitu: mendapatkan rezeki (gaji/hasil usaha) -> langsung diambil X% untuk sedekah -> sisa sedekah baru dibagi ke dalam pos-pos pengeluaran. Keempat, tracking hukum setiap aktivitas muamalah yangsaya dan suami lakukan. Misalnya terkait jaminan kesehatan, investasi, dll. Kami berusaha untuk mempelajarinya terlebih dahulu sebelum melaksanakan muamalah tersebut. Kelima, berusaha untuk istiqomah dalam menjalani value keluarga kami mengenai harta ini. Sesungguhnya dalam perjalanannya tidak selalu mudah, kadang saya dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Saya pun masih harus terus belajar dan mempraktekkan ilmu yang saya dapatkan ini. Mohon doanya :”)


Seperti yang saya katakan tadi, kadang dalam proses belajar ilmu ini saya memiliki perasaan yang berat dalam mempraktekkan ilmu yang didapat. Saya tahu ilmu itu benar, tapi dalam diri saya masih sulit untuk ‘meng-iya-kan’ ilmu tersebut. Biasanya yang seperti itu adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kegiatan umum di masyarakat yang sudah mengakar sehingga dianggap ‘lumrah’, tapi sebenarnya hal itu kurang tepat menurut syariat. Nah, dilemanya saya kadang disini hehe. Meninggalkan hal yang terlihat ‘umum’ untuk mengikuti syariat. Melihat hal tersebut, perubahan sikap yang perlu saya perbaiki perihal adab menuntut ilmu ini adalah meningkatkan keikhlasan dalam menuntut ilmu. Ya, seperti materi sesi pertama yang saya dapatkan di kelas MIIP bahwa, ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati. Mohon doanya untuk saya, semoga saya menjadi pembelajar yang akan semakin berubah kearah yang lebih baik setiap harinya. Aamiin




REFERENSI BACAAN:

Adab Menuntut Ilmu  oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional
Harta Haram Muamalat Kontemporer karya Dr. Erwandi Tarmizi, MA
Kuliah WhatsApp Pre Marriage Talk berjudul “Menjadi Manajer Andalan Keluarga” oleh Aji Nur Afifah
Smart Mom Secret karya Risa Arisanti
Youtube Channel Akhyar TV

continue reading Jurusan di Universitas Kehidupan

Rabu, 23 Januari 2019

Let's Move from the Comfort Zone

"Khairunnas anfa 'uhum linnas"
***


Nice home work yang diberikan kepada saya kali ini kembali mengingatkan saya akan kalimat di awal tulisan ini. Ya, salah satu potongan hadist tersebut sejak SMA telah menggantung di tembok kamar saya besar-besar. Hingga lambat laun kalimat tersebut terpatri di bawah alam sadar saya.

Flashback, saya adalah anak desa yang pendiam kala SMP. Mendobrak zona nyaman dengan memilih melanjutkan dari SD di desa ke SMP di kota membuat tempaan psikologis yang lumayan hebat pada diri saya. Bagaimana tidak? Ketika saya baru mengenal bahasa Inggris sebatas apple, banana, this is chair, my name is Monaliza. Teman-teman kota saya sudah ceriwis mengobrol sehari-hari di kantin sekolah menggunakan bahasa Inggris 😂 yhaaa saya puk-puk'in diri saya sendiri aja kala itu. Ketika saya pikir, jadi pengisi rubrik utama majalah dinding SD sudahlah keren, eee temen-temen SMP saya semasa SD nya sudah lomba mata pelajaran ataupun lomba vocal atapun lomba dance tingkat provinsi bahkan tingkat nasional. Berkali-kali jatuh sakit dan tidak bisa masuk sekolah sudah biasa untuk saya, penyebabnya? Stess 😂😂😂 lihat temen-temennya berkembang sementara saya masih berada di satu titik karena tak berani melangkah maju akibat minder duluan.

Hingga turning point nya, saya menyadari bahwa jauh di lubuk hati saya tidak pernah ingin menjadi seseorang yang biasa-biasa saja, stress tadi akibat ekspektasi diri saya yang tidak saya eksekusi, sehingga ekspektasi tak pernah menjadi realita. Saat itu saya toyor kepala sendiri, "Oh Allah. Tidak di zona nyaman bukan berarti saya tak bisa menelurkan apapun dong... Kita hidup sekali lalu mati, kok rasanya sayang kalau hanya menjadi versi yang seperti sekarang ini ya." Binggo!!! Sejak saat itu, saya berusaha menjadi versi terbaik yang saya mampu, walauuu tentu prosesnya tak mudah. Awalnya saya selalu memaksa diri saya untuk melawan ketidakmampuan saya sebelumnya. Semisal, sebelum berangkat sekolah, saya bilang ke diri saya, "Mona, hari ini di kelas minimal 2x kamu harus mengacungkan jari untuk menjawab pertanyaan dari pak Guru. Kamu harus siap ya Mona!". Saya mulai menaikkan 'dosis' yang harus saya dobrak setiap harinya.

SMA, saya menemukan kalimat "Khairunnas anfa 'uhum linnas" dalam buku pelajaran agama. Mungkin ini definisi dari love at the first sight kali ya 😂. Hadist yang saya baca seakan-akan langsung merasuk ke relung hati dan saya begitu menyukainya. Sukanya ini bukan sebatas suka, tapi sudah ada ditingkat 'suka yang akan diimplementasikan dalam suatu tindakan'.
Hmmm... iya, sejak saat itu saya menjadi seseorang yang kalau mau maju mundur berbuat kebaikan, selalu saya ingat kembali hadist tersebut sebagai motivasi "Ini kata Rasul lhoh. Alasan ini udah cukup kuat lhoh. Ayo ambil aja / ayo maju aja." gitu hehe.

Termasuk di kelas matrikulasi saat ini. Saya sebenarnya mengalami pergolakan batin saat maju menjadi perangkat kelas semisal "aku mampu nggak ya. aku bisa nggak ya. eh kalo nanti aku salah gimana dong" tapi langsung tertepis dengan keinginan besar untuk menjadikan hidup saya sedikit berarti bagi orang lain dengan cara mengambil peran yang ada. Melayani. Saya meyakini bahwa posisi yang memiliki konsekuensi lebih ketimbang peserta lain bukan diberikan Allah kepada kami karena kemampuan kami yang lebih dibanding peserta lain. Justru, posisi ini menjadi alarm kepada kami bahwa kami-kami inilah yang kurang jika dibandingkan peserta lainnya. Karenanya Allah memberikan 'tugas' yang lebih daripada peserta lain agar kami bisa belajar lebih banyak lagi.


Semoga Allah menerima segala amal dan memberkahi segala aktivitas kita, ya 😉
continue reading Let's Move from the Comfort Zone

Senin, 25 Desember 2017

Pilihan

Pahamilah, bahwa memilih tidak melulu perkara membanding-bandingkan mana yang lebih ketimbang mana. Ada orang-orang yang menjatuhkan pilihan berdasarkan arah perasaannya terhadap petunjuk Tuhannya. Jadi jangan heran jika kau menemukan orang-orang yang pilihannya tak masuk ke logikamu. Karena tidak lagi baginya memilih yang paling lebih, tapi memilih yang ia anggap itu adalah pilihan Tuhannya untuknya. Pahamilah...
continue reading Pilihan

Senin, 18 Desember 2017

Mimpi Anak di Sekolah Ujung Jalan

Bagi kebanyakan, Sulawesi memang khas dengan geopark kelas dunia, spot travelling luar biasa, atau pantai-pantai sorotan kamera. Tapi lebih dari itu, Sulawesi juga memberi saya banyak pelajaran belum lama ini.


Dulu, lulus SMA saya pernah propose pada orang tua untuk minta izin tidak melanjutkan ke perguruan tinggi. Bukan karena malas mikir di bangku sekolah lagj, tapi karena saya rasa saya butuh banyak waktu berfokus untuk mulai membangun project social impian saya yang concern di pendidikan anak jalanan. Begitulah, khas analisis berpikir anak usia 17an tahun, menggebu-gebu dan kurang perhitungan jangka panjang.


Menanggapi itu, Bapak saya hanya tersenyum meletakkan kertas berisi life plan yang saya ajukan, tidak di acc permohonan izin saya. Lalu beliau berkata, "Sekolah adalah kesempatan, berkah, dan kebahagiaan."


6 tahun berselang setelah kalimat itu diucapkan. Dan beberapa waktu lalu saya mendapat tugas dinas mengunjungi beberapa sekolah di pelosok Sulawesi Tengah. Dari atas pesawat yang mendekat ke pulau, saya jadi tiba-tiba mengerti, kenapa sekolah disini susah sekali karena soal geografis. Ditambah dengan orang tua yang ingin anaknya diserahkan saja jadi buruh kasar atau awak kapal penangkap ikan: lebih cepat menghasilkan uang atau lebih segera meringankan beban. Kecuali mereka meyakini dengan betul, sekuat-kuatnya, bahwa sekolah mampu mempercerah masa depan keluarga.


Disini, kebanyakan guru kesulitan datang ke sekolah, hingga kegiatan belajar mengajar kebanyakan kosong. Sekolah ini kecil, tapi dari murid-murid yang berhasil saya temui, saya jadi tahu mereka memiliki mimpi-mimpi yang besar. Sekolah kita besar, jangan sampai muridnya punya mimpi saja tidak. Yang kemudian hanya menelurkan karya-karya kerdil. Pasrah kemana arus membawa hidup.


Disini anak sedih bukan karena tugas-tugasnya banyak, tapi karena mereka hampir batal mengenyam sekolah.


Setelah melihat realita ini, benar ternyata, bahwa "Sekolah adalah kesempatan, berkah, dan kebahagiaan". Bersyukurlah dan jangan sia-siakan.


continue reading Mimpi Anak di Sekolah Ujung Jalan

Jumat, 08 Desember 2017

J I H A D


Al Quds is our mine, not yours.

Jihad asal katanya Jahada, yujahidu yang artinya bersungguh-sungguh.


Jihad yang jamak orang pahami adalah jihad qital yang artinya perang. 

Jihad itu adalah kata dalam bahasa arab yang secara istilah menunjukkan kesungguhan dan tekad yang sangat kuat. Makanya dalam hadist belajar bagi para penuntut ilmu itu disebut juga dengan jihad.

Ataupun dalam bahasa lain ada yang disebut mujahadah yang juga berasal dari kata jihad. Yang artinya berdoa dengan sungguh-sungguh untuk memohon sesuatu kepada Allah SWT.


continue reading J I H A D

statistics

Bukan pakar, mari sama-sama belajar. Pun bukan ahli, mari saling berbagi | Melangit dan Membumi

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact