Tampilkan postingan dengan label Institut Ibu Profesional. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Institut Ibu Profesional. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 02 Februari 2019

Jurusan di Universitas Kehidupan

Setelah menikah, saya baru menyadari bahwa ada profesi di dunia ini yang butuh waktu serta perhatian sepanjang hari tanpa jeda, kerjanya meliputi hampiiir seluruh lini bidang profesi-profesi penting di dunia, merangkap jadi dokter; juru masak; manajer keuangan; EO; juru bicara; fashion stylish; interior designer; declutter specialist; PR; penulis; crafter; strategic planner; motivator; cleaning service; personal shopper; masih banyak lagi lainnya, dan gawatnya tak pernah ada jurusan sekolah untuk profesi yang satu ini hehe. Apakah itu? Yups, Ibu Rumah Tangga!


Jika hanya ada satu jurusan ilmu yang bisa saya pilih untuk tekuni di universitas kehidupan ini, maka yang akan saya pilih adalah Ilmu Harta Halal Haram. Mengapa? *Mari baca curhatan mamak mamak di paragraf selanjutnya hehe*


Ada suatu masa dimana saya mendengar kajian dari ustad Adi Hidayat, dalam ceramahnya beliau berkata, “Jika ada sesuatu yang haram, masuk ke dalam tubuh manusia, menyebar lewat darah, maka semua halnya akan mempunyai konsekuensi yang tidak mudah. 1. Ia akan menutup pintu-pintu kebaikan dari dalam dirinya, seseorang yang sudah dimasuki hal haram maka tak akan ada kebaikan yang bisa masuk karena dua hal yang berlawanan tak akan pernah bisa bersama dalam satu jiwa seperti minyak dan air. Maka jika yang haram sudah menguasai dirinya, yang halal tak akan ia senangi lagi, istrinya yang halal tak dipandang lagi, anaknya tak disukai lagi, dsb. 2. Dilaknat oleh Allah. Jika hingga akhir hayatnya tidak bertobat, neraka jahanam balasannya. 3. Doanya tidak sampai kepada Allah karena terdapat sekat dosa, semakin pekat dosanya semakin tebal sekatnya, perumpamaannya seperti gelas yang tertutup jadi apapun sulit masuk ke dalam gelas tersebut.”

Subhanallah, tersentak hati saya mendengar kajian tersebut. Lalu, dilain waktu dalam obrolan saya bersama Ummi saya, beliau berkata, ”Nok, laki-laki itu kelemahannya ada 3. Harta, tahta, wanita. Yang terakhir ini yang paling bahaya. Fitrahnya wanita memang suka sama hal-hal yang berkilauan, tahta yang bagus, harta yang banyak. Tapi Nok, jangan sampai kita ini jadi wanita yang malah bawa suami sama anak-anaknya ke neraka. Asal perempuan minta, laki-laki itu pasti berusaha memberikan. Nah, masalahnya disini, kalau jalan yang dipilih salah itu lho. Beberapa laki-laki korupsi juga karena nurutin gaya hidup istrinya, Nok. Nanti ke suamimu ndak usah pernah ngucap minta sesuatu, apapun yang dia kasih terima dan olah gimana caranya dapurmu bisa selalu ngepul, anak-anakmu bisa tetep makan. Ya, Nok?”

Dari situ, saya menjadi sadar bahwa peran manajer keuangan dalam rumah tangga yang saya emban bukanlah suatu hal sepele. Ada tanggung jawab besar bukan hanya di dunia, tapi juga akhirat. Dalam hidup ini, memang diperlukan upaya dari manusia untuk memenuhi kesejahteraan materialnya guna memenuhi segala kebutuhan hidup. Dan, yang perlu diingat, -tiap upaya yang kita lakukan di dunia akan diminta pertanggungjawabannya oleh Allah di akhirat nanti. Termasuk upaya memperoleh harta dan mengelola harta.
Saya ingin belajar Ilmu Harta Halal Haram ini agar saya dan suami bisa saling ingat mengingatkan mengenai cara kami memperoleh dan mengelola harta. Karena harta yang masuk ke dalam tubuh kita akan mempengaruhi segala aspek kehidupan termasuk akhlak perilaku kita maupun pasangan dan mengenai terkabulnya doa seperti yang diungkapkan ustad Adi Hidayat diceramahnya.


Ada beberapa strategi yang saya lakukan untuk menuntut ilmu ini. Pertama, belajar kepada guru yang berkompeten di bidang tersebut. Selain belajar pada guru, saya juga memperkaya wawasan dengan membaca buku-buku terkait. Kedua, ada dana khusus setiap bulannya yang dialokasikan untuk perihal menuntut ilmu ini. Jadi kalau kami mendapatkan referensi buku muamalah atau seminar terkait pengelolaan harta secara syariah, kami akan menggunakan dana alokasi tadi untuk hal tersebut. Ketiga, berusaha membersihkan harta dengan cara bersedekah. Pengelolaan keuangan dalam keluarga saya alurnya yaitu: mendapatkan rezeki (gaji/hasil usaha) -> langsung diambil X% untuk sedekah -> sisa sedekah baru dibagi ke dalam pos-pos pengeluaran. Keempat, tracking hukum setiap aktivitas muamalah yangsaya dan suami lakukan. Misalnya terkait jaminan kesehatan, investasi, dll. Kami berusaha untuk mempelajarinya terlebih dahulu sebelum melaksanakan muamalah tersebut. Kelima, berusaha untuk istiqomah dalam menjalani value keluarga kami mengenai harta ini. Sesungguhnya dalam perjalanannya tidak selalu mudah, kadang saya dihadapkan pada pilihan-pilihan sulit. Saya pun masih harus terus belajar dan mempraktekkan ilmu yang saya dapatkan ini. Mohon doanya :”)


Seperti yang saya katakan tadi, kadang dalam proses belajar ilmu ini saya memiliki perasaan yang berat dalam mempraktekkan ilmu yang didapat. Saya tahu ilmu itu benar, tapi dalam diri saya masih sulit untuk ‘meng-iya-kan’ ilmu tersebut. Biasanya yang seperti itu adalah ilmu-ilmu yang berkaitan dengan kegiatan umum di masyarakat yang sudah mengakar sehingga dianggap ‘lumrah’, tapi sebenarnya hal itu kurang tepat menurut syariat. Nah, dilemanya saya kadang disini hehe. Meninggalkan hal yang terlihat ‘umum’ untuk mengikuti syariat. Melihat hal tersebut, perubahan sikap yang perlu saya perbaiki perihal adab menuntut ilmu ini adalah meningkatkan keikhlasan dalam menuntut ilmu. Ya, seperti materi sesi pertama yang saya dapatkan di kelas MIIP bahwa, ilmu itu bukan rentetan kalimat dan tulisan saja, melainkan ilmu itu adalah “cahaya” yang dimasukkan ke dalam hati. Mohon doanya untuk saya, semoga saya menjadi pembelajar yang akan semakin berubah kearah yang lebih baik setiap harinya. Aamiin




REFERENSI BACAAN:

Adab Menuntut Ilmu  oleh Tim Matrikulasi Institut Ibu Profesional
Harta Haram Muamalat Kontemporer karya Dr. Erwandi Tarmizi, MA
Kuliah WhatsApp Pre Marriage Talk berjudul “Menjadi Manajer Andalan Keluarga” oleh Aji Nur Afifah
Smart Mom Secret karya Risa Arisanti
Youtube Channel Akhyar TV

continue reading Jurusan di Universitas Kehidupan

Rabu, 23 Januari 2019

Let's Move from the Comfort Zone

"Khairunnas anfa 'uhum linnas"
***


Nice home work yang diberikan kepada saya kali ini kembali mengingatkan saya akan kalimat di awal tulisan ini. Ya, salah satu potongan hadist tersebut sejak SMA telah menggantung di tembok kamar saya besar-besar. Hingga lambat laun kalimat tersebut terpatri di bawah alam sadar saya.

Flashback, saya adalah anak desa yang pendiam kala SMP. Mendobrak zona nyaman dengan memilih melanjutkan dari SD di desa ke SMP di kota membuat tempaan psikologis yang lumayan hebat pada diri saya. Bagaimana tidak? Ketika saya baru mengenal bahasa Inggris sebatas apple, banana, this is chair, my name is Monaliza. Teman-teman kota saya sudah ceriwis mengobrol sehari-hari di kantin sekolah menggunakan bahasa Inggris 😂 yhaaa saya puk-puk'in diri saya sendiri aja kala itu. Ketika saya pikir, jadi pengisi rubrik utama majalah dinding SD sudahlah keren, eee temen-temen SMP saya semasa SD nya sudah lomba mata pelajaran ataupun lomba vocal atapun lomba dance tingkat provinsi bahkan tingkat nasional. Berkali-kali jatuh sakit dan tidak bisa masuk sekolah sudah biasa untuk saya, penyebabnya? Stess 😂😂😂 lihat temen-temennya berkembang sementara saya masih berada di satu titik karena tak berani melangkah maju akibat minder duluan.

Hingga turning point nya, saya menyadari bahwa jauh di lubuk hati saya tidak pernah ingin menjadi seseorang yang biasa-biasa saja, stress tadi akibat ekspektasi diri saya yang tidak saya eksekusi, sehingga ekspektasi tak pernah menjadi realita. Saat itu saya toyor kepala sendiri, "Oh Allah. Tidak di zona nyaman bukan berarti saya tak bisa menelurkan apapun dong... Kita hidup sekali lalu mati, kok rasanya sayang kalau hanya menjadi versi yang seperti sekarang ini ya." Binggo!!! Sejak saat itu, saya berusaha menjadi versi terbaik yang saya mampu, walauuu tentu prosesnya tak mudah. Awalnya saya selalu memaksa diri saya untuk melawan ketidakmampuan saya sebelumnya. Semisal, sebelum berangkat sekolah, saya bilang ke diri saya, "Mona, hari ini di kelas minimal 2x kamu harus mengacungkan jari untuk menjawab pertanyaan dari pak Guru. Kamu harus siap ya Mona!". Saya mulai menaikkan 'dosis' yang harus saya dobrak setiap harinya.

SMA, saya menemukan kalimat "Khairunnas anfa 'uhum linnas" dalam buku pelajaran agama. Mungkin ini definisi dari love at the first sight kali ya 😂. Hadist yang saya baca seakan-akan langsung merasuk ke relung hati dan saya begitu menyukainya. Sukanya ini bukan sebatas suka, tapi sudah ada ditingkat 'suka yang akan diimplementasikan dalam suatu tindakan'.
Hmmm... iya, sejak saat itu saya menjadi seseorang yang kalau mau maju mundur berbuat kebaikan, selalu saya ingat kembali hadist tersebut sebagai motivasi "Ini kata Rasul lhoh. Alasan ini udah cukup kuat lhoh. Ayo ambil aja / ayo maju aja." gitu hehe.

Termasuk di kelas matrikulasi saat ini. Saya sebenarnya mengalami pergolakan batin saat maju menjadi perangkat kelas semisal "aku mampu nggak ya. aku bisa nggak ya. eh kalo nanti aku salah gimana dong" tapi langsung tertepis dengan keinginan besar untuk menjadikan hidup saya sedikit berarti bagi orang lain dengan cara mengambil peran yang ada. Melayani. Saya meyakini bahwa posisi yang memiliki konsekuensi lebih ketimbang peserta lain bukan diberikan Allah kepada kami karena kemampuan kami yang lebih dibanding peserta lain. Justru, posisi ini menjadi alarm kepada kami bahwa kami-kami inilah yang kurang jika dibandingkan peserta lainnya. Karenanya Allah memberikan 'tugas' yang lebih daripada peserta lain agar kami bisa belajar lebih banyak lagi.


Semoga Allah menerima segala amal dan memberkahi segala aktivitas kita, ya 😉
continue reading Let's Move from the Comfort Zone

statistics

Bukan pakar, mari sama-sama belajar. Pun bukan ahli, mari saling berbagi | Melangit dan Membumi

Diberdayakan oleh Blogger.

Contact