Dia salah satu temanku, Nona Jamur.
Aku ingin sepertinya, sebab jamur punya kisahnya sendiri yang tidak diketahui mahluk lain, karena ketika yang lain mati, ia hidup ...
Sabtu, 23 Januari 2016
Jumat, 22 Januari 2016
Amanah Besar Datang saat Amanah Kecil telah Dijalankan dengan Baik
Karena semua orang sudah menjadi si anu, berada dimana, dan mencapai ini itu, kamu harusnya ga boleh lupa bahwa mereka juga melakukan hal-hal kecil yang baik. Mereka tetap bangun sebelum shubuh, mereka membereskan tempat tidur, mereka menyapu lantai kamar, mereka memasak sarapan mereka, mereka menyikat gigi mereka dan mandi pagi, dan mereka berangkat dengan menebarkan senyum pada tetangga. Jangan sampai kamu terlalu sibuk mengejar yang besar, lalu mengabaikan yang kecil. Mereka-mereka yang besar, adalah karena amanah-amanah kecilnya sudah mereka tanggung dengan baik.
Gitu Mon...
Nah ini
"Pada kasus tertentu, mematok target bisa jadi tidak relevan. Kuatnya keyakinan pada Allah dan pertolongan-Nya lah yang membuat kita melangkah lebih pasti. Ketika kita jujur pada target-target kita, Dia pasti akan menggenapkannya".
*Ust. Salim A Fillah*
Kamis, 21 Januari 2016
Obat untuk Jiwa yang Terluka
Saat hati dilanda gembira, tidak satu hal pun menjadi masalah. Tapi bila hati sedang berduka, apalagi duka yang cukup dalam, terkadang iman pun bisa goyah. Bila dibiarkan, dukanya bisa jadi semakin mendalam dan keimanan pun semakin rentan. Di saat-saat seperti ini, jiwa tersebut bisa dikatakan sedang terluka, atau sedang sakit. Maka yang harus dilakukan adalah sesegera mungkin mencari obatnya. Hmmm umm emmm apakah obat terbaik yang paling manjur untuk mengobati luka jiwa?
“Sesungguhnya Al Quran ini memberikan petunjuk kepada (jalan) yang lebih lurus dan memberi kabar gembira kepada orang-orang mu’min yang mengerjakan amal saleh bahwa bagi mereka ada pahala yang besar.” QS. Al Israa: 9
Ya, Al Qur’an lah obatnya. Al Qur’an merupakan obat terbaik yang tidak hanya meredakan nyeri tapi juga mampu menyembuhkan jiwa yang terluka. Sebab Al Qur’an merupakan pedoman hidup manusia. Segala resep yang dibutuhkan demi memperkokoh langkah manusia di bumi ini, semua tertulis di dalam Al Qur’an. Jelas dan berulang-ulang. Sehingga sebetulnya, saat jiwa dilanda kegelisahan, keresahan, bahkan luka yang cukup dalam, bisa terobati, hanya dengan membaca Al Qur’an.
Tidak percaya? Hehehe. Izinkan saya bercerita.based on my own experience..
Bulan desember 2015 yang lalu, saya beruntun menerima kabar yang secara kacamata manusia, hal tersebut merupakan kabar buruk, sangat buruk mungkin. Saya jatuh (dalam artian sebenarnya ini -,- ) dan harus istirahat total selama 3 minggu karena kesulitan untuk berjalan, padahal saat-saat itu jadwal sidang skripsi tinggal selangkah lagi hehe, alhasil wisuda januari hanya tinggal menjadi target yang menguap untuk saya. Di waktu yang bersamaan pula, bidang yang saya ampu di lembaga akan menggelar acara dan masih banyak yang harus dipersiapkan ditengah minimnya tenaga dan pendanaan, ya Allah sejenak yang saya tangisi setelah jatuh itu bukan karena perihnya luka-luka saya, tapi adik-adik saya di lembaga bagaimana... seriuosly, hati saya lebih perih kala itu ketimbang lecet-lecetnya deh. Seminggu setelah saya sudah agak bisa berjalan (lukanya belum kering), kabar buruk mengenai orang rumah pun kembali saya dapatkan. Dan secara manusiawi, psikologis saya sempat down mendengar kabar tersebut, sebab kabarnya sangat mendadak dan mengejutkan. Saya sempat dilanda sedih hati. Dan seketika itu pula yang terlintas di pikiran saya hanya ingin segera menemui Allah Subhanahu wata’alla. Bukan ‘berpulang’ tentunya, saya tidak se-hopeless itu kalik, hehehe. Saya hanya ingin segera berwudhu, menggelar sajadah, dan berbincang dengan-Nya, memohon akan ketenangan dan kedamaian hati, serta keyakinan bahwa semua yang terjadi adalah atas izin-Nya, dan yang telah Allah izinkan, pasti membaikkan. Maka setelah mendengar kabar tersebut saya bergegas mencari mushalla, berwudhu, sambil menahan tangis yang sengaja ingin saya tumpahkan di atas sajadah saja, hanya di hadapan-Nya. Ternyata, lidah saya kelu untuk menyampaikan ulang kisah saya meski di hadapan Allah sekalipun. Hingga saya hanya bisa tertunduk sambil tersedu, sungguh Allah Maha Tahu. Akhirnya, dengan energi yang tersisa, saya mengambil Al Qur’an dari dalam tas saya, membuka lembaran halamannya dengan asal saja, dan God’s Sign, ayat yang saya baca adalah..
"Setiap bencana yang menimpa di bumi dan yang menimpa dirimu sendiri, semuanya telah tertulis dalam kitab (Lauh Mahfuz) sebelum Kami mewujudkannya. Sungguh, yang demikian itu mudah bagi Allah. Agar kamu tidak bersedih hati terhadap apa yang luput dari kamu, dan tidak pula terlalu gembira terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong dan membanggakan diri." (QS. Al Hadid 22-23)
Sudah sering membaca Al Qur’an tapi tidak pernah berhasil membaikkan suasana hati yang kurang baik dan jiwa yang terluka? Yuk kita cek.. barangkali kita membaca Al Qur’an sekedar membaca saja. Kalau begitu ya wajar saja hati dan jiwa masih dalam keadaan luka, sebab yang menenangkan bukan hanya membaca Al Qur’an, tetapi berinteraksi dengan Al Qur’an.Berinteraksi dengan Al Qur’an diantaranya meliputi:
- tilawah (membaca)
- taddabur (memahami)
- hafizh (menghafalkan)
- tanfiidzh (mengamalkan)
- ta’liim (mengajarkan)
- tahkiim (menjadikannya sebagai pedoman)
Tentu tidak mudah berinteraksi dengan Al Qur’an seperti di atas. Perlu proses. Dan saya pun masih belajar untuk benar-benar bisa berinteraksi maksimal dengan pedoman hidup dari Allah tersebut. Tidak mudah bukan berarti tidak mungkin bukan? InsyaAllah, bila ada tekad, pasti bisa. Hingga bila tiba saat dimana jiwa kembali dilanda perih, Al Qur’an lah penyembuh utama yang dicari.
Saya baca berulang-ulang tafsir QS. Al Hadid: 22-23, lalu saya kaji maknanya, dan sungguh.. ada sebuah perasaan damai menelusup halus ke relung jiwa saya yang terluka tersebut, untuk kemudian menghembuskan nafas sejuk yang menenangkan dan mencerahkan. Bila masih tak percaya, mungkin kamu belum mencoba. Sebab bila sudah mencoba baca, saya yakin kamu akan jatuh cinta, pada ayat-ayat-Nya yang penuh makna. Sungguh Allah luar biasa, Ia turunkan ayat-ayatnya yang sangat indah. Entah bagaimana rasanya bila tidak ada Al Qur’an sebagai perantara kabar gembira dari-Nya.
"Terimakasih ya Rabb. Aku tanpa-Mu.. butiran debu deh... " :')
“Jangan terlampau lama meratapi luka, sebab tak sulit bagi-Nya untuk mengubah isak tangis, menjadi senyuman manis.”
Salah Install Perasaan
Bagaimana kita bisa menghentikan perasaan yang terlanjur salah install?
Jawabannya mudah: Mulailah detik ini juga menekan tombol "cancel". Kemudian biarkan waktu menghapus sisanya.
*Tere Liye*
Yuk, waspada bersama. Mulai sekarang jaga perasaan dari hal-hal tidak baik dan hal-hal yang (terlihat) baik :)
Sabtu, 16 Januari 2016
Mahalnya Hati yang Bersih
Kali ini saya mau berbagi cerita
yang agak sedikit rada serius. Ehem uhuk, jadi begini… *benerin jilbab*.
Ini adalah cerita zaman dimana saya lebih alay dari yang sekarang ini. Dulu
kala, saya punya kebiasaan yang menakutkan. Saya akan membenci sepenuh hati
teman laki-laki yang menunjukkan ketertarikan pada saya, atau yang saya pikir
tertarik pada saya baik terang-terangan
ataupun lewat pesan-pesan tersembunyi. Maka jika terpaksa harus berinteraksi
dengan kelompok laki-laki seperti ini, saya akan menunjukkan gejala-gejala PMS
(marah-marah dan umm… kasar).
XY: Mona lagi mau makan ya?
M: Iyalah!! namanya di kantin. Masa mau
sepedaan.
XY: Mona mau makan apa?
M: Ih berisik. GAUSAH NANYA-NANYA.
XY: (????) Mau sekalian aku pesenin aja apa?
M: UDAH DIBILANG JANGAN TANYA-TANYA. PERGI
SANA JAUH-JAUH!!
XY: (shock) (pura-pura mati)
Ya Allah, saya sangat tidak rasional. Saya merasa dangkal -,-
(balik ke zaman
sekarang). Saya ini termasuk orang yang jarang sekali membalas komen-komen yang
ada di akun sosial media saya. Ini semacam trik
positioning untuk menciptakan kesan bahwa saya adalah orang yang misterius.
Dianggap misterius itu sangat terdengar keren dan berkelas menurut saya haha *jalan pikiran anak ini emang udah geser sejak lama hiks*. Tapi akhir-akhir ini
saya mulai berpikir ulang. Positioning saya mungkin gagal, alih-alih merasa
bahwa saya misterius mungkin sebagian orang malah menganggap saya tidak ramah.
Sangat wajar seseorang menerima
penilaian yang sangat beragam. Orang bisa mencintai kita, menyukai kita,
tergila-gila pada kita, biasa-biasa saja, tidak suka, tidak suka banget, bahkan
bisa tidak suka banget padahal kenal kita saja tidak. Kata saya, orang-orang
begitu mudah memberi penilaian tanpa pertimbangan matang (seperti penilaian
saya ke teman-teman laki-laki yang tertarik pada saya tadi *hiks). Apalagi
untuk penilaian negatif.
Kita bisa saja dibenci
karna kita suka tertawa misalnya, tidak peka, pernah dikhianati, pernah diberi
harapan palsu, berpotensi lebih kece dari orang yang membenci, suka buang ingus
sembarangan, mengidap suatu penyakit gatal yang menular, dan berbagai alasan
absurd lainnya.
Ada
kisah di zaman Rasulullah. Ketika seorang ahli surga datang, maka sudah biasa,
para sahabat akan kepo mencari tahu amalan apa yang ia kerjakan sehingga
derajatnya begitu tinggi di mata Allah. Tidak ada yang istimewa dari ibadah si
calon penghuni surga tersebut. Saya membayangkan para sahabat kaget secara
hiperbolik mengetahui kenyataan ini, bagaimana mungkin orang dengan ibadah yang
biasa-biasa saja bisa dicap ahli surga? Ditanyalah si ahli surga apa gerangan
yang spesial dari dirinya. Lalu apa jawabannya? Superb. Adalah hati yang
bersih, yang tidak pernah sekalipun berburuk sangka pada orang lain, yang tidak
pernah sekalipun memendam iri dan dengki, apalagi dendam. Betapa mahalnya hati
yang seperti itu hingga Allah menukarnya dengan surga. Aih so sweet.
Memang
sangat mudah untuk berpikiran buruk, menemukan kesalahan, mengingat-ngingatnya
dan membenci orang lain, padahal bisa jadi orang itu tidak penting-penting amat
untuk dibenci. Kita lalai pada hak-hak fundamental saudara kita: berbaik sangka
padanya dan memperlakukannya dengan baik. Jadi kenapa sih kita suka melakukan
hal-hal tidak penting? Kenapa memelihara hati dari ampas-ampas perasaan itu susah
sekali?
Ya karena surga memang mahal, Nak.
Hmmm
Jumat, 13 November 2015
Langit part 3
"kadang kita bosan
dengan kebosanan
kita ingin keluar
ingin lari
ingin pergi jauh
ingin teriak
lalu beranjak
tapi kemudian kita hanya kembali ke titik awal
kemudian mengulang
bilang,
kalau kita bosan
dengan kebosanan"
Langit, maaf sudah membuatmu bosan dan sangat kesal hari ini :(
-13 November 2015-
Langganan:
Postingan (Atom)
statistics
Share this Post
Bukan pakar, mari sama-sama belajar. Pun bukan ahli, mari saling berbagi | Melangit dan Membumi
Diberdayakan oleh Blogger.